HIPERTENSI MEMBUNUH 8 JUTA ORANG TIAP TAHUN DI SELURUH DUNIA

* Dapat Dikendalikan Tanpa Memakai Obat

Jakarta (SIB)- Kementerian Kesehatan telah mendistribusikan sebanyak 153 unit alat pengukur tekanan darah mandiri ke 64 kementerian dan lembaga. Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita Moeloek menyebut tujuan diberikannya alat tersebut untuk mencegah serta mengendalikan penyakit tidak menular di Indonesia.

“Kami berharap peralatan ini dapat dipergunakan dengan maksimal dalam rangka mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular di Indonesia,” ujar Menkes Nila di Kantor Kemenko PMK, Jl Medan Merdeka Barat, Gambir, Rabu (22/2).

Alat yang diserahkan secara simbolis oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) ini merupakan upaya yang dilakukan oleh kementerian kesehatan. Upaya tersebut didasari oleh beberapa data kesehatan yang mendorong adanya langkah preventif.

“Sebagaimana kita ketahui penyakit jantung dan pembuluh darah adalah salah satu masalah kesehatan utama di negara maju dan berkembang. Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2012, sekitar 17,5 juta atau setara 30,97 persen dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia diakibatkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah,” tuturnya.

Menkes Nila menambahkan, menurut data Badan Kesehatan Dunia tahun 2011, satu miliar orang di dunia menderita hipertensi, dua pertiga di antaranya berada di negara berkembang termasuk Indonesia. Dia menyebut angka itu akan terus meningkat dengan prediksi bahwa pada tahun 2025 sekitar 29 persen orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi.

“Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, 1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara yang sepertiga populasinya menderita hipertensi,” sebutnya.

Menkes Nila melanjutkan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 tingkat hipertensi penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia sebesar 25,7 persen dan menurut hasil Survey Indikator Kesehatan Nasional tahun 2016 meningkat menjadi 30,9 persen. Oleh karena itu Menkes Nila menyebut pemberian alat pengukur tekanan darah mandiri ini bisa menjadi salah satu langkah preventif tersebut.

Pada akhir acara Nila bersama Menteri Kemenko PMK Puan Maharani, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Siti Nurbaya, dan Kepala arsip nasional Republik Indonesia (ANRI) Mustari Irawan juga melakukan pengecekan secara langsung penggunaan alat pengukur tekanan darah mandiri tersebut.

Dapat Kendalikan
Untuk mengendalikan tekanan darah tinggi (hipertensi) ada beberapa cara alami yang bisa dilakukan tanpa memakai obat. Sebagai contoh seperti mulai membatasi konsumsi garam, rajin olahraga, hingga berhenti merokok.

Bila semua gaya hidup tersebut diterapkan maka seseorang bisa mendapatkan nilai tekanan darah yang lebih baik.

Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) menjelaskan bagaimana tiap usaha gaya hidup sehat bisa memengaruhi tekanan darah:

1. Kurangi konsumsi garam

Konsumsi garam memiliki hubungan kuat dengan tekanan darah. Makanan yang mengandung garam 1,5 gram per 100 gram saja sudah bisa dibilang cukup tinggi dan bila dikonsumsi dalam jangka panjang akan meningkatkan tekanan darah.

Menurut InaSH ketika seseorang mulai mengendalikan konsumsi garamnya menjadi maksimal 1,8 gram per hari maka tekanan darah sistolik bisa turun antara 4-5 mmHg.

2. Olahraga

Hidup aktif dengan rutin olahraga adalah salah satu aspek dalam gaya hidup sehat yang dapat memengaruhi tekanan darah. Disarankan agar seseorang minimal olahraga 30 menit per hari.

Pada pasien hipertensi ringan tekanan darah sistolik bisa turun sekitar 5-7 mmHg dengan olahraga.

3. Stop merokok

Kandungan racun yang ada dalam rokok dapat membuat kerusakan pada pembuluh darah dan akan berimbas pada tekanan darah. Oleh karena itu para ahli sangat menyarankan agar seseorang berusaha berhenti merokok.

Menurut InaSH bila seseorang sukses berhenti merokok, tekanan darah sistolik dapat turun antara 2-4 mmHg.

4. Kelola stres

Aktivitas padat sehari-hari dapat membuat stres menumpuk. Dalam tingkat yang wajar stres ini sebetulnya baik sebagai pemicu atau motivasi, namun bila sudah tidak terkendali dapat jadi sumber penyakit mental yang juga bisa muncul dalam bentuk gejala fisik seperti peningkatan tekanan darah.

Dengan mengelola stres yang berlebih maka tekanan darah dapat turun sekitar 5 mmHg.

5. Berat badan ideal

Menurut InaSH sebanyak 30 – 60 persen penderita hipertensi termasuk obesitas. Ketika seseorang berusaha menguruskan diri mendapatkan berat badan idealnya maka tekanan darah juga akan ikut turun.

Berat badan ideal yang dimaksud ditandai dengan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 18,5 – 22,9 kilogram per meter kubik. Selain itu untuk pria lingkar pinggang juga tidak boleh lebih dari 90 centimeter (cm) sementara untuk perempuan tidak boleh lebih dari 80 cm.

Dengan mencapai berat badan ideal maka tekanan darah sistolik dapat turun sekitar 5-20 mmHg. (detikhealth/f)
sumber: hariansib

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *