APA ARTI KEHADIRAN AGUS-SYLVI DAN ANIES-SANDI DI ACARA ISTIQLAL 112?

Para calon gubernur penantang petahana menghadiri Aksi 112 Istiqlal, dengan alasan ibadah biasa, kendati acara itu dirancang dalam semangat anti-Ahok, yang kemudian tercermin dalam sebagian ceramah dan berbagai spanduk dan poster yang dibawa peserta yang mencapai puluhan ribu.

Dilaporkan sejumlah media, terdengar pekik takbir dari hadirin tatkala calon gubernur nomor urut tiga Anies Baswedan masuk masjid, menjelang salat Subuh. Diikuti kemudian calon wakilnya, Sandiaga Uno, serta calon gubernur nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono, bergabung.

Hadir juga sejumlah tokoh dari partai pendukung kedua pasangan calon itu. Antara lain mantan Menko Perekonomian Hatta Radjasa dan mantan Menteri Pendidikan M. Nuh -keduanya dari Partai Amanat Nasional, yang mendukung Agus-Sylvi, dan bekas Ketua MPR Hidayat Nurwahid yang juga bekas Presiden PKS, partai pendukung Anies-Sandiaga.

Anies, Sandi, dan pihak Agus-Sylvi kukuh beralasan, kehadiran mereka tak lebih dari hal normal sebagai muslim.

“Saya salat subuh di situ,” jawab Anies ketika ditanya Mehulika Sitepu dari BBC Indonesia.

“Saya sholat subuh disitu. Try your best,” ia mengulang jawabannya.

Anies juga menolak dikatakan memanfaatkan isu keagamaan dalam Pilkada ini.

“Anda lihat saja yang saya kerjakan, di situ anda simpulkan. Kita mengusung semua program,” kata Anies.

“Saya justru tak pernah bicara agama, Tak pernah bicara surat, sama sekali tak pernah. Orang lain yang menggunakan itu, yang membuat ini semua jadi terjadi,” tegas Anies.

Calon wakil Anies, Sandiaga Uno juga senada.

“Saya datang untuk salat subuh dan mendengarkan tauziah, dzikir, dan didoakan agar persatuan keberagaman kita dan NKRI harga mati itu bisa dijadikan sebagai pedoman,” katanya.

Ia menolak pandangan bahwa acara 112 itu bernuansa politik SARA.

“Tidak sama sekali. Tidak ada kata-kata (SARA). Dakwah semuanya: tentang kesatuan, keberagaman. Notion keseluruhannya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara yang memeluk perbedaan. ”

“Ketika saya disana semua sangat kondusif. Jadi saya berdoa, berdzikir, meminta pengampunan dan setelahnya langsung pergi.”

Pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni menyampaikan alasan yang tak berbeda.

Rachland Nashidik, yang merupakan jurubicara Agus-Sylvi, menjawab pertanyaan BBC Indonesia beberapa jam kemudian, dengan suatu Pernyataan Pers.

“Kehadiran Agus-Sylvi di acara 112 adalah manifestasi dari komitmen untuk mencintai kebhinekaan tanpa memusuhi Islam. Agus-Sylvi meyakini, umat Islam harus dirangkul dan aspirasinya harus didengar. Tidak boleh dicurigai, dijauhi, apalagi dimusuhi,” demikian disebutkan dalam pernyataan pers itu.

Seakan menjawab pertanyaan tentang penggunaan isu SARA, pernyataan pers itu mempermasalah penggunaan isu ‘kebhinekaan.’

“Agus Sylvi menolak membenturkan Islam dengan Kebhinekaan. Dalam pilkada di Jakarta, kami mengecam kebhinekaan digunakan untuk memeras demokrasi, seolah adalah benar menolak Ahok sama dengan sikap rasis dan anti-kebhinekaan.”

Sebelumnya, Imelda Sari, juru bicara Partai Demokrat, partai utama yang mengusung Agus-Sylvi mengatakan kedatangan calon gubernur dan calon wakil gubernurnya ke acara 112 Istiqlal, “untuk mengumpulkan energi yang terserak dan terfragmentasi selama ini karena pilkada,” katanya kepada Sri Lestari dari BBC Indonesia.

“Kita tidak mempermasalahkan siapa yang mengundang atau penyelenggaranya yaitu GNPF MUI atau siapa pun. Melainkan apa yang jadi tujuan doa bersama itu kan untuk menyatukan umat,”

Pengamat dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, Bivitri Susanti, sebaliknya, menyesalkan kehadiran dua pasangan calon itu, dalam acara yang disebutkannya jelas merupakan penggunaan isu agama untuk menyudutkan calon lain.

“Saya kira semua orang bisa membedakan dengan jelas bedanya antara menunaikan kewajiban salat lima waktu dengan acara 112 di Istiqlal,” kata Bivitri.

“Sejak awal jelas tujuan acara itu, yang disebut di poster-poster, tentang penolakan pada pemimpin non-Muslim. Juga jelas siapa penyelenggaranya. Bagaimana konteks politiknya.”

“Dan kita harus lihat juga narasi di sana,” kata Bivitri lagi.

Bivitri merujuk pada laporan tentang spanduk-spanduk dan poster yang dibawa sebagian dari puluhan ribu jemaah. Juga berbagai materi yang disampaikan para penceramah.

Dalam acara itu, usai Anies, Sandi, dan Agus salat, Ustad Arifin Ilham meminta mereka berpegangan tangan. Dan ia mengatakan bahwa, “pilihan kita sekarang hanya ada di dua abang kita tercinta ini, Anies dan Agus. Untuk pilihan kita yang lain, Pak Basuki Tjahaja Purnama, untuk saat ini, adalah doa untuk beliau,” katanya seperti dikutip situs Kumparan.

Dilaporkan wartawan BBC Indonesia Oki Budhi dari Istiqlal, dalam ceramah di acara 112 yang berlangsung hingga berakhirnya salat Dzuhur itu, sejumlah tokoh tegas mengungkapkan seruan ‘haram memilih pemimpin non Muslim,’ bahkan ada yang memimpin sumpah untuk memilih calon Muslim dalam Pilgub 15 Februari mendatang.

“Dari situ sudah cukup jelas. Ikutnya dua paslon itu membuat posisi mereka terhadap kelompok-kelompok intoleran itu jadi tidak jelas,” tambah Bivitri Susanti.

Bahkan lebih jauh, katanya, para calon pemimpin Jakarta itu jadi seperti memberikan dukungan pada kelompok yang selama ini dikenal intoleran.

“Agus, Silvy, Anies, dan Sandi mungkin tidak pernah ngomong mendukung intoleransi dan politik agama, tapi dengan datang ke acara itu mereka bisa dilihat telah memberikan dukungan.”

Pendapat seperti yang disampaikan Bivitri Susanti ini dipertanyakan kepada jubir Agus-Sylvi, Rachland Nashidik: apakah kehadiran Agus-Sylvi di acara yang bahkan tidak ‘direstui’ lembaga seperti NU dan Muhammadyah, tidak akan mengirim sinyal yang salah bahwa seakan mereka tak punya masalah dengan apa yang dianggap pengamat sebagai pandangan intoleran para penyelenggara -bahkan keyakinan intoleran yang menjadi dasar dari acara 112.

Dan Rachland menjawab dengan mengirim gambar berikut ini.

Saat berlangsungnya Aksi 112, memang ada pasangan yang menikah di Katedral di seberang Istiqlal, yang disambut penuh senyum oleh massa peserta 112, yang sebagian lalu membukakan jalan bagi mereka. Sesekali terdengar takbir.

Rachland menyusulkan lagi link berita dan potongan video dari peristiwa itu.

Acara 112 ini digelar sebagai ‘Dzikir dan Tausiyah Nasional,’ semula direncanakan untuk dikembangkan menjadi aksi jalan kaki ke Monas dan Bundaran HI.

Namun polisi sejak awal menyatakan tak memberikan izin dan akan mengambil tindakan hukum jika ada peserta yang bersikeras dengan aksi itu, dan setelah menemui Menko Polhukam Wiranto, Tokoh FPI Rizieq Shihab yang didampingi sejumlah pimpinan Forum Umat Islam dan GNPF MUI menyatakan hanya akan melakukan acara mereka di Istiqlal.

Acara berlangsung sejak Jumat tengah malam dengan salat tahajud, bersambung ke salat Subuh, dan berakhir sesudah salat Dzuhur. Pemimpin FPI, tokoh sentral dari gerakan ini, yang sebelumnya sukses menggelar aksi raksasa 4 November dan 2 Desember yang dikenal sebagai aksi 411 dan 212, kali baru datang menjelang salat Dzuhur, sehingga tak sempat bertemu dengan Agus, Anies dan Sandiaga.

Sylviana Murni, yang juga datang, nyaris tak dibicarakan -bahkan tak terlihat. Karena ada pemisahan lokasi perempuan dan lelaki di masjid, dan hadirin 112 ini memang mayoritas adalah kaum pria.
sumber: bbc

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *