DEMOKRASI INDONESIA: KEBEBASAN TANPA KETERIKATAN?

Christian Johan Lasut-Demokrasi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni “demo” = “rakyat” dan “kratia” = “pemerintah”. Secara definitif, demokrasi adalah sistem pemerintahan yang kekuasaan tertingginya dipegang oleh rakyat. Jadi, dalam demokrasi rakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu negara, yakni dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat (Abraham Lincoln).

Timbul pertanyaan, apakah pemeritahan yang berpusat pada rakyat adalah rakyat yang tanpa keterikatan, rakyat yang bebas sebebas-bebasnya? Tidak, di semua negara yang menganut demokrasi, apakah itu yang menganut demokrasi liberal sekali pun, ada aturan yang mengikat, ada konstitusi yang mengikat, dan Indonesia adalah negara yang terikat dengan demokrasi pancasila, yakni demokrasi yang terikat dengan konstitusi berdasarkan pancasila, yang di atasnya diletakkan UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, artinya, segala gerak dan hidup demokrasi Indonesia harus didasarkan pada empat dasar ini (Pancasila sebagai dasar utamanya).

Timbul pertanyaan, apakah memang ada kebebasan tanpa keterikatan? Jelas tidak mungkin, karena definisi kebebasan yang sejati justru ada dalam keterikatan. Ikan hanya akan mengalami kebebasan jika ia terikat pada air sebagai habitatnya. Kita hanya akan bebas berjalan di jalan raya karena ada keterikatan pada rambu-rambu atau aturan-aturan berlalu lintas. Pagar atau aturan justru menjadikan kita bebas dan aman adanya. Tanpa keterikatan pada aturan, pada hukum, maka kita akan menjadi tidak bebas, tidak aman, dan akan terjadi hukum rimba dalam dunia ini. Jadi jelaslah bahwa kebebasan yang sejati justru hanya ada dalam keterikatan.
Semangat kebebasan tanpa keterikatan, yakni semangat kebebasan berdasarkan kemutlakan relativisme, subyektivisme, perspektivisme, yang tanpa sadar diadopsi secara luas oleh manusia di era ini merupakan “produk yang muncul dari atheisme” yang bermetamorfosa dalam semangat athropocentrisme, yakni semangat pemutlakan manusia, semangat pemutlakan kebebasan manusia lepas dari segala keterikatan di luar dirinya, termasuk lepas dari Tuhan. Manusia menjadi pusat, manusia menjadi tolok ukur itu sendiri. Aspek positif dari semangat ini adalah manusia distimulir untuk mengeksplorasi potensi dirinya, sehingga di era ini, iptek berkembang luar biasa, tapi tanpa sadar, iptek yang berkembang adalah iptek yang cenderung tanpa nilai etik universal, bahkan cenderung tanpa Tuhan bahkan justru menentang Tuhan.

Akibatnya, penemuan iptek yang luar biasa di era ini, menjadi “menara babel” yang justru menyerang balik manusia, yang justru menjadi boomerang bagi manusia. Ingat penemuan atom dengan bom atom dan bom nuklirnya, ingat era informasi yang luar biasa yang justru kehilangan nilai etik-moral spiritualnya yang akibatnya justru dapat membawa “kutuk” bagi manusia. “Semangat atheisme ini” menghasilkan bangunan kebebasan tanpa keterikatan, yakni kebebasan tanpa tolok ukur, kebebasan tanpa standard nilai moral apalagi nilai spiritual, yang bermuara pada berbagai produk hukum yang beresensi pada kebebasan manusia secara mutlak.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa terjadi ekses dari berbagai bentuk keterikatan, baik itu dalam bentuk standard nilai konstitusi, nilai hukum, maupun nilai spiritual/keagamaan. Tolok ukur-tolok ukur ini cenderung dimanipulasi untuk kepentingan sesaat atau untuk kepentingan kekuasaan sesaat, tapi itu tidak berarti bahwa standard nilai dalam berbagai bentuk tersebut harus dihancurkan, dibuang atau dinafikan. Disinilah peran penegakan hukum yang konsisten dan yang tidak ambiguitas, harus berperan aktif dan tegas, sehingga demokrasi sebagai manifestasi kebebasan dalam keterikatan akan menghasilkan kesejatian kebebasan.
Tantangan semangat kebebasan tanpa keterikatan, yakni semangat kemutlakkan relativisme, subyektivisme, perspektivismei yang anti keterikatan, anti aturan, anti standard nilai, menjadi ancaman makin “liarnya” komunitas dunia masa kini, termasuk di dalamnya menjadi ancaman bagi demokrasi yang liar, kacau, karena cenderung tanpa tolok ukur baku.

Tanpa sadar, fenomena kebebasan berdemokrasi tanpa keterikatan ini mengancam demokrasi Indonesia. Demokrasi Indonesia yang terikat dengan nilai-nilai yang sudah disepakati oleh founding fathers saat berdirinya Negara ini cenderung terancam ditinggalkan. Fenomena menghilangkan, melecehkan atau menafikan demokrasi Indonesia dalam keterikatan pada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, mulai menggeregoti kehidupan berbangsa secara luar biasa, dan jika hal ini dibiarkan, maka dapat dibayangkan kekacauan Indonesia seperti apa yang akan terjadi? Pasti masing-masing manusia Indonesia dengan agama, suku, pulau/daerah yang berbeda-beda, akan datang dan memperjuangkan tolok ukur dalam perspektifnya masing-masing dengan semangat subyektivisme dan relativismenya.

Kita bersyukur, fenomena semangat penggerogotan demokrasi tanpa keterikatan pada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, yang secara kasat mata terlihat merajalela pada masa ini, makin bermanifestasi di era kepemimpinan Presiden Jokowi yang solid, secara khusus dalam soliditas Polri dan TNI dibawah kepemimpinan Kapolri dan Panglima TNI yang berwajah ramah tapi yang sangat sadar dan taat azas, yang berintegritas, dan yang profesional, sehingga ada harapan untuk dapat diatasi. Tapi Presiden, Polri dan TNI, tidak bisa berlama-lama membiarkan bertumbuhnya semangat penghilangan tolok ukur ke-Indonesiaan ini, kalau tidak, usaha mereka ini akan makin mendapatkan momentum atau akan makin menggurita sehingga akan makin sulit untuk dibasmi.

Sebagai anak bangsa yang cinta dengan keIndonesiaan, sangat senang melihat Polri dan TNI melalui Kapolri dan Panglima TNI yang memiliki kesadaran yang kuat akan ancaman ini. Panglima TNI berkali-kali menyampaikan presentasi tentang indikasi ancaman bagi Indonesia, dimana semangat anti Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, disinyalir makin menjadi-jadi dan cenderung sudah ditunggangi oleh berbagai kepentingan yang dapat saja muncul dari konteks ancaman musuh dalam selimut, ancaman kepentingan politik sesaat, ancaman kelompok para oportunis, tapi juga oleh ancaman kepentingan politik/militer/ekonomi dunia dengan berbagai agendanya. Saya juga setuju dengan pernyataan Panglima TNI bahwa kepentingan dunia terus mengintip keberadaan Indonesia dan terus mengincar wilayah mana di Indonesia yang dapat diambilnya. Tidak mustahil, para pemimpin dunia ini akan mendekati (atau sudah mendekati?) para pemimpin daerah, apalagi yang punya semangat separatis, untuk memuluskan agenda mereka.

Ditengah ancaman kebebasan demokrasi Indonesia yang tanpa keterikatan pada dasar Negara yang sudah ada dan sudah terbukti “kesaktiannya” hingga saat ini, terungkap beberapa candaan pernyataan yang agak positif dan provokatif, bahwa jika terjadi penghilangan dasar ke-Indonesian, maka sebaiknya kita segera pindahkan atau pisahkan saja Indonesia yang pancasilais ke Kalimantan, ke Sulawesi, ke Papua, ke Maluku, ke Bali, ke Nusa Tenggara atau mungkin ke Sumatera? Walau hal ini bersifat candaan, tapi candaan seperti ini seharusnya tidak bisa terjadi, karena seharusnya mereka yang anti Indonesia yang Pancasilais inilah yang harus segera dibasmi dan diusir keluar dari dalam rumah ke-Indonesiaan kita yang pancasilais, bukan sebaliknya ke Indonesiaan yang harus terusir dari rumah kehidupannya sendiri.
Karena itu, mari sesama anak bangsa, kita satukan langkah untuk bersama seluruh elemen bangsa ini, berjuang mewujudkan dan mengembangkan kebebasan demokrasi Indonesia dalam keterikatan pada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI bagi kesejahteraan dan kejayaan Indonesia. Selamat berjuang untuk bapak Presiden, bapak Kapolri, bapak Panglima TNI dengan semua jajaran yang ada. Kami berharap pada komitmen dan soliditas kalian. Kami terus mendoakan dan menantikan penegakan hukum yang konsisten, koheren, komprehensif, berintegritas dan professional dari kalian sesegera dan seefektif mungkin bagi kejayaan Indonesia di era postmodern ini.
sumber: kompasiana

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *