DI KLATEN 20 TAHUN BERGANTIAN DIPIMPIN DUA PASUTRI, KEDIRI LEBIH PARAH, SATU KELUARGA

TRIBUNNEWS.COM – Memilih kepala daerah langsung oleh rakyat tak serta merta menghasilkan pemimpin yang ideal dan sesuai untuk memimpin daerah. Satu di antaranya justru hasilkan kepemimpinan bergilir dalam satu keluarga, Sabtu (7/1/2017).

Klaten satu contohnya.

Kabupaten Klaten menjadi perhatian publik setelah Sri Hartini kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

Catatan Wikipedia, Haryanto Wibowo jabat Bupati Klaten periode 2000-2005 berpasangan dengan Wisnu Hardono.

Pada pilkada selanjutnya H Sunarna SE MHum berpasangan dengan Samiadji (bukan Haryanto Wibowo seperti pada pesan berantai yang jadi viral) memenangkan percaturan politik saat itu.

Pada pilkada Klaten 2005 ia berhasil memperoleh 221.262 suara bersama wakilnya Samiadji.

Ia menjabat jadi bupati pada 2005 dan 2010, sementara di periode kedua ia kembali memenangkan suara rakyat dan menjabat bupati kali ini dengan istri dari bupati sebelumnya yakni Sri Hartini istri dari Haryanto Wibowo.

Pasangan Bupati Sunarna dan Wabup Sri Hartini memimpin di periode 2010-2015.

Bersama Sri Hartini, Sunarna berhasil memperoleh suara sebesar lebih dari 65 persen.

Nah mengisi kevakuman jelang pilkada muncul Plt yakni Drs Jaka Sawaldi MM yang memimpin Klaten antara 22 Desember 2015 hingga 17 Februari 2016.

Era Sri Hartini

Sri Hartini memenangkan suara di Pilkada Klaten 2016-2021.

Ia berpasangan dengan Hj Sri Mulyani (lahir di Klaten, 4 Mei 1977) istri dari bupati sebelumnya yakni Sunarna.

Hj Sri Hartini SE (lahir di Sukoharjo, 16 November 1961) adalah Bupati Klaten petahana yang menjabat pada periode 2016–2021.

Sri Hartini ditangkap KPK dalam sebuah operasi tangkap tangan pada akhir Desember 2016. Dia ditangkap bersama tujuh orang lainnya.

Otomatis Sri Mulyani menggantikan Sri Hartini dan jadi Bupati Klaten.

Kediri lebih parah

Mengutip Kompas.com, sekitar 58 dinasti politik terbentuk sejak Indonesia melaksanakan sistem otonomi daerah.

Koordinator Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah, Robert Endi Jaweng menuturkan, sedikitnya ada tiga model dinasti di Indonesia.

Pertama, adalah model dinasti politik regenerasi yang modelnya seperti “arisan keluarga”. Yakni, satu keluarga memimpin satu daerah tanpa jeda.

Ia mencontohkan Kediri, sebagai daerah dengan dinasti Indonesia pertama di Indonesia.

Lebih lama dari dinasti politik Ratu Atut Chosiyah.

“Dari 1999 sampai sekarang dipimpin oleh satu keluarga. 1999-2009 Sutrisno dua periode Kebetulan punya dua istri. 2009, dua istri ini berkontestasi. Kebetulan istri pertama dan kedua. Yang menang istri pertama dan sekarang masuk periode kedua,” kata Robert dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/1/2017).

“Saya takutnya periode berikutnya istri siri (kedua). Ini dinasti pertama yang sesungguhnya dinasti pertama di Indonesia,” ujarnya.

Kedua, adalah dinasti politik lintas kamar dengan cabang kekuasaan.

Misal, sang kakak menjadi bupati daerah tertentu, sang adik Ketua DPRD, dan anggota keluarganya yang lain memegang posisi Kepala Dinas yang strategis.

“Terjadi di Aceh, misalnya. Jadi, kontrol, check and balance tidak terjadi,” ujarnya.

Sementara yang ketiga, adalah model lintas daerah.

Dimana satu keluarga memegang jabatan penting di berbagai daerah yang berbeda.

“Ini yang saya rasa paling kuat karena dia sudah bisa kuat dengan keluarganya sendiri. Bapaknya gubernur dimana, anaknya gubernur dimana. Sulawesi Utara contoh yang cukup kuat dan juga Sulawesi Selatan,” ucap Robert.

“Dari tiga model, ini yang ada di Indonesia. Tiga-tiganya adalah dinasti karena kekuasaan menggumpal pada satu atau dua keluarga saja,” katanya. (*)
sumber: tribunnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *