MENGENANG AYAH DAN SUKA DUKA MENCARI ILMU

FB: Sumanto Al Qurtuby

Hari ini adalah hari yang sangat spesial buatku. Hari ini, tepat 5 tahun lalu, ayahku wafat. Seperti pernah saya ceritakan di berbagai kesempatan, almarhum ayahku adalah seorang “modin” dan petani miskin di sebuah kampung terpencil di pedalaman Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Modin adalah semacam “kiai kampung” yang bertugas mengurusi aneka masalah keagamaan di kampung: memimpin doa, tahlil, selametan, nikahan, sunatan, dlsb. Almarhum ayah jugalah yang pertama kali memperkenalkan keislaman di kampung dan memprakarsai pendirian “masjid” yang sangat sederhana sekali terbuat dari papan kayu.

Sebagai keluarga miskin, kami dulu tinggal di gubug sederhana beralaskan tanah dan berdinding bambu. Kekayaan kami waktu itu cuma sepetak tanah milik desa sebagai imbalan seorang modin. Tanah itu ditanami padi yang dipanen setiap 3-4 bulan sekali dengan hasil yang tidak seberapa. Penghasilan sampingan keluarga adalah menggembala kambing milik orang yang kelak dapat upah kambing yang beranak-pinak dan menjadi milik sendiri. Saya dulu waktu kecil kerjanya menggembala kambing-kambing ini di hutan sekitar kampung.

Meskipun dari keluarga miskin, tetapi semangat ayahku untuk menyekolahkanku luar biasa sekali semangatnya. Hampir setiap pagi habis subuh ayahku dulu mengantarku sekolah sambil membawa obor. Kalau musim hujan tiba, kami membawa daun pisang sebagai payung. Jarak antara rumah dan sekolah yang letaknya di kota cukup jauh, dan saya dulu sekolah seorang diri tidak punya teman kelas dari kampung sehingga bingung kalau mau reuni. Kampungku hanya punya SD, itupun hanya sampai kelas empat, dan tidak terurus, baik gedung maupun anak-anak yang sekolah.

Waktu itu, rata-rata, orang kampung malas menyekolahkan anakknya ke kota karena memang jarak yang jauh itu dan harus melewati hutan, sungai, bukit, dan jalanan yang terjal tak beraspal. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai sekolah yang ditempuh dengan jalan kaki itu. Setiap pulang sekolah, sekitar jam 3 sampai rumah, saya langsung menggembala kambing ke hutan sampai petang. Betul-betul petang karena tidak ada listrik di kampung.

Pernah suatu ketika karena merasa kasihan sama ayah, saya minta untuk tidak sekolah saja tapi mau mencari kerjaan apa saja supaya bisa membantu meringankan beban orang tua. Bukannya disetujui, saya malah dimarahi: “Anak kecil itu sekolah saja biar pinter, tidak usah mikirin uang. Biar saya yang ngurus uang sekolahmu.” Saya tahu ayah tidak punya uang. Beliau hanya ingin menghiburku. Karena kasihan sama ayah, saya dulu tidak pernah minta dibelikan sepatu dan seragam sekolah. Semua seragam sekolah dan sepatu yang saya pakai adalah bekas milik kakakku sehingga tampak kumal dan “antik”.

Jika bukan karena ayahku yang luar biasa semangatnya dalam menyekolahkanku di tengah kesulitan ekonomi, tentu perjalananku tidak bisa sampai sejauh ini. Terima kasih ayah. Semoga engkau damai di alam baka. Alfatihah…

Jabal Dhahran, Arabia

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *