5 HAL DI BALIK KESADISAN RAMLAN, SI PEMBUNUH KEJI PENJEJAL 11 ORANG KE KAMAR MANDI

JawaPos.com – Aksi perampokan sadis di Pulomas Residence, Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur membuat heboh masyarakat. Selain pelaku yang sadis dalam beraksi, korban pun ternyata bukan orang sembarangan.

Hal ini diketahui oleh keterangan para tetangga korban. Di mana, korban disebut memiliki kedekatan Presiden Joko Widodo, dia juga adalah kolektor mobil mewah dan berprofesi sebagai arsitektur.

Tapi yang terparah adalah pelaku, mereka adalah Ramlan Butarbutar, Erwin Situmoran, Pius Pane dan Alfins Bernius Sinaga. Ketua dari kelompok ini adalah Ramlan Butarbutar alias Porkas alias Kapten.

Dia adalah yang tersadis di kelompok ini. Berikut sejumlah rangkuman JawaPos.com terkait kesadisan Ramlan:

Sempat Todongkan Senjata ke Para Pembantu Korban

Ramlan sudah tak lagi muda, usainya sudah kepala lima, namun dia tetaplah beringas dalam dunia kejatahan. Terbaru, sasarannya adalah kediaman Dodi Triono.

Dia masuk pertama ke rumah korban, ketika itu pagar tak terkunci. Dan yang pertama ditodong pelaku adalah sopir korban. Masuk ke dalam rumah, Ramlan juga menodongkan senjata ke para pembantu korban. Ketika itu, Dodi belum sampai di rumahnya.

Pincang dan Berpenyakit Ginjal

Selain usianya yang tak lagi muda, Ramlan juga pincang saat berjalan. Ini terlihat dari rekaman CCTV rumah Dodi. Dia bahkan ada riwayat penyakit ginjal.

Meski pincang, tak mengurangi keberanian Ramlan dalam beraksi. Dengan gagahnya, residivis kasus perampokan ini menenteng senjata dan mengarahkan ke kepala para korban, meski tidak ditembakan.

Paling Dominan Memasukan Korban ke Dalam Kamar Mandi

Sebagai ketua dari kelompok, Ramlan memanglah dominan, baik dalam perencanaan dan pelaksanaan. Menurut keterangan para korban yang selamat, Ramlan adalah yang paling sering memasukan korban ke dalam kamar mandi berukuran 2 x 1 meter itu. Di kamar mandi tanpa ventilasi itulah sebelas orang disekap dan enam di antaranya meninggal di situ.

Meski Sadis, di Kalangan Teman, Ramlan Dianggap Baik

Enam bulan terakhir, Ramlan bekerja sebagai sopir angkot. Dia bekerja dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB di sekitaran Bekasi dan Pulogadung. Para rekan Ramlan mengaku kaget dengan tertangkapnya dia. Bahkan, Ramlan meninggal karena kehabisan darah.

Di mata rekan kerja, kelakuan Ramlan tak ada yang aneh. Dalam hal setoran pun, Ramlan tak pernah kurang. Bahkan, rekan Ramlan tak menyangka dia ditangkap, mengingat kondisi tubuhnya yang pincang.

Bukan Nama Baru dalam Kasus Perampokan Rumah Mewah

Dalam kasus perampokan, nama Ramlan Butar-butar bukanlah hal baru. Beberapa tahun silam, dia ditangkap karena kasus serupa.Bahkan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku mengenali, dengan pelaku setelah melihat rekaman CCTV dan melihat nama.

Pada 2015, dia ditangkap atas kasus perampokan di Perumahan Griya Telaga Permai Tapos, Depok, Jawa Barat. Dan setiap beraksi, Ramlan memang selalu mempersenjatai diri dengan senjata api atau senjata tajam. (elf/JPG)
sumber: jawapos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *