TERSINGKAPNYA TABIR DI BALIK KEMATIAN 1 KELUARGA DI PULOMAS

Ricky Vinando-Polda Metro Jaya resmi merilis hasil autopsi kasus penemuan 6 mayat dan 5 korban luka berat di Pulomas Timur Nomor 7A, Jakarta Timur. Dari hasil autopsi dijelaskan bahwa 6 korban yang tewas disebabkan kehabisan oksigen akibat kecilnya kamar mandi yang hanya berukuran 1,5 x 1,5 meter, dan dijelaskan pula tidak ada luka tusuk dan penganiayaan sama sekali terhadap 6 korban yang tewas dan luka tersebut. Dan sore tadi, penyidik berhasil menangkap 2 terduga pelaku, salah satu terduga pelaku tewas ditembak karena melawan saat hendak ditangkap.

Selain itu Kabag Mitra Biro Penmas Mabes Polri Kombes Awi Setiyono sebagaimana dilansir detik.com menyebutkan bahwa motifnya adalah perampokan karena ditemukannya 2 handphone korban pada pelaku.

Kombes Awi Setiyono juga menjelaskan bahwa ‘’ EB ini, yang bersangkutan melakukan pemukulan terhadap korban dengan pistol. Yang kedua , yang ditangkap adalah ES, orang ini orang kedua yang masuk dan ikut membantu menganiaya korban, termasuk menyekap Dedi, motifnya masih perampokan’’ kata Kombes Awi Setiyono dalam Breakingnews tvOne.

Tetapi jika ini kembali ingin didalami dari aspek hukum, ada beberapa kejanggalan yang menjadi tanda tanya besar. Hasil autopsi menimbulkan tanda tanya, karena menyebut tak ada penganiayaan sama sekali, karena Kombes Awi Setiyono sudah mengeluarkan statementnya melalui tvOne bahwa ada penganiayaan yang dilakukan oleh para pelaku..ini penjelasan hukum yang meyakinkan bahwa kasus ini adalah murni penganiayaan berat yang berakibat kematian bukan pembunuhan, bukan pula perampokan.. simak ulasan hukumnya dibawah…

@ Tidak logis jika Polda Metro Jaya menyatakan berdasarkan hasil autopsi tidak ada penganiayaan sama sekali pada 6 korban yang tewas, dikarenakan tidak mungkin semua korban yang jumlahnya ada 11, menurut saja untuk diseret ke dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter tanpa melakukan sedikit pun perlawanan, ini tidak logis.

@ Selain itu yang menjadi tidak logis selanjutnya adalah bagaimana bisa 11 korban ini berada dengan mudahnya ditumpuk jika tanpa adanya perlawanan dari para korbannya. Logika sederhananya, semua korban yang jumlahnya 11 bisa ditumpuk-tumpuk setelah dibuat lemas , merasa sakit (dianiaya) sehingga menjadi lemah terlebih dahulu barulah kemudian bisa ditumpuk-tumpuk.

@ Tetapi jika tanpa penganiayaan sama sekali, tidak logis rasanya 11 korban bisa ditumpuk-tumpuk , pasti tidak mudah menumpuk-numpuk korban, karena tidak mungkin korban tidak sama sekali memberikan perlawanan sedikitpun, apalagi korban yang berada dalam posisi bertumpuk-tumpuk bisa bertahan hingga puluhan jam lamanya sejak pelaku memasuki rumah korban pada Senin, 26 Desember 2016, sekitar pukul 3 sore hingga penemuan mayat pada Selasa, 28 Desember 2016 sekitar pukul: 09:30 WIB.

@ Korban bisa bertahan selama puluhan jam dalam posisi yang bertumpuk-tumpuk mengindikasikan didahului adanya perbuatan yang membuat korban merasa sakit dan lemah (penganiayaan), sehingga dengan mudahnya pelaku menumpuk-numpuk korbandi dalam kamar mandi, karena jika tanpa dibuat lemas lebih dulu, tidak logis korban tetap bisa bertumpuk-tumpuk sampai pada saat penemuan 11 korban tersebut (bertupuk-tumpuk selama puluhan jam , tanpa adanya yang jatuh dari tumpukan, adalah tidak logis), kecuali jika dianiaya dulu, barulah tumpukan korban tidak jatuh satupun.

@ Apalagi disebutkan Kadiv Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono bahwa tidak ada penganiayaan apapun saat hendak dimasukkan ke dalam kamar mandi, karena logikanya jika tidak ada penganiayaan, justru keadaan inilah yang memudahkan 11 korban untuk tidak lagi dalam posisi bertumpuk-tumpuk, karena jika tanpa penganiayaan apapun, 11 korban tidak merasakan sakit apapun dan tidak lemah, diantara korban pasti ada yang jatuh dari tumpukan atau ada yang turun dari posisi yang bertumpukan bahkan jika tidak dianiya sama sekali posisi korban yang ditepatkan paling bawah pun bisa membuat posisi tumpukan lainnya menjadi berjatuhan.

@ Logikanya sederhana, karena jika tidak dianiaya, berarti kemungkinan besarnya 11 korban ini setidaknya masih memiliki cukup kekuatan untuk melakukan upaya seperti mengedor-gedor pintu atau setidaknya berteriak-teriak, apalagi pagar dari rumah mewah korban ini tidak dikunci pelaku dari luar.

@ Ditambah lagi dari beberapa keterangan saksi yang melihat para korban setelah pintu kamar mandi setelah didobrak, saksi melihat adanya salah satu korban yang kulitnya terkelupas, dan terkelupasnya kulit ini pasti terjadi karena adanya perlawanan, sehingga dibalas pelaku dengan bentuk penganiayaan, karena tidak mungkin kulit salah satu korban bisa mengelupas sendiri dalam puluhan jam.

@ Selain itu, jika polisi menyebutkan motifnya adalah perampokan dikarenakan ditemukan 2 handphone, topi, kacamata pada pelaku , terkesan janggal karena tidak masuk diakal apabila perampokan yang dilakukan di rumah mewah tetapi yang dicuri hanya sebatas 2 buah handphone, topi, kacamata, tas, jam tangan dan beberapa lembar uang dollar, karena jika ini murni perampokan dan semua korban sudah dimasukkan ke kamar mandi, itu artinya pelaku sudah menguasai seisi rumah dan kalau ini perampokan harusnya barang dmyang diambil pelaku melebihi dari sekedar 2 handphone, topi, jam tangan, kacamata, tas dan beberapa lembarbuang dollar, karena saat itu pelaku bebas berbuat apa saja karena semua korban sudah disekap di kamar mandi.

@ Pertanyaanya adalah mengapa tidak ada barang yang lebih mewah yang diambil pelaku…tidak logis merampok di rumah mewah, tetapi hanya mengambil barang yang harganya tidak seberapa. Penyidik perlu mendalami lagi terkait motif apa yang sebenarnya yang membuat 6 korban tewas dan 6 lainnya luka berat. Penyidik juga perlu menelusuri lebih jauh terkait bisnis korban.

@ Sehingga dengan adanya pernyataan dari Kombes Awi Setiyono bahwa ES , yang ikut membantu dan menyekap, dapat disimpulkan bahwa ini bukan pembunuhan melainkan penganiayaan berat yang mengakibatkan matinya orang lain , dikarenakan pembunuhan dan penganiayaan adalah dua hal yang berbeda.

@ Banyaknya darah yang terlihat dalam foto lantai kamar mandi yang tersebar juga membuktikan bahwa para korban ini mengalami penganiyaan terlebih dahulu sebelum dimasukan ke kamar mandi sehingga tidak bisa menyelamatkan diri dari dalam kamar mandi akibat sakit akibat luka bekas penganiayaan tersebut, terlebih lagi salah satu korban , di bagian kulitnya terkelupas. Bisa dibayangkan kalau kulit terkelupas seperti apa rasa sakitnya. Bahkan diantara korban lainnya dibagian tubuh korban tersebut ada yang berwarna biru. Sehingga jelas sudah ini penganiayaan berat yang berakibat matinya orang lain. Dan jika hasil autopsi menyebut tak ada penganiayaan apapun, itu janggal. Karena kondisi korban diungkapkan langsung oleh saksi yang ikut mendobrak pintu kamar mandi.

@ Dan darah yang terlihat di lantai kamar mandi juga bisa menjadi penyebab matinya 6 orang di dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter tersebut, karena jika darah sudah terlalu banyak keluar dari tubuh, ditambah pula sulitnya bernafas dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter, maka kematian bisa terjadi. Jadi adanya darah jangan diabaikan, karena darah itu bukti bahwa ini penganiayaan berat yang berujung kematian yang juga diperparah kamar mandi tanpa ventilasi.

Ricky Vinando-Analis Hukum Kompasiana
sumber: kompasiana

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to TERSINGKAPNYA TABIR DI BALIK KEMATIAN 1 KELUARGA DI PULOMAS

  1. Pingback: order dmt bottled ayahuasca tea plants for sale overnight delivery in usa canada uk australia cheap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *