MENYINGKAP TABIR DI BALIK KEMATIAN 1 KELUARGA DI PULOMAS

Ricky Vinando-Penemuan 6 mayat dan 5 korban luka berat di dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter di dalam sebuah rumah mewah di Jalan Pulomas Timur Nomor 7A Jakarta Timur mengejutkan banyak orang. Berdasarkan kronologi yang disampaikan Polda Metro Jaya, bahwa pelaku diduga berjumlah 3-4 orang, dan masuk ke dalam rumah pada pukul 15:00 WIB (atau pukul 3 sore) pada Senin (26/12).

Dan diterangkan pula bahwa pelaku sempat mengancam pembantu korban dengan golok agar pembantu menujukan kamar bos dari pembantu yang tinggal di rumah mewah tersebut. Namun jika mempelajari kronologi penemuan mayat dan korban luka berat, itu bukan pembunuhan…dan untuk lebih jelaslah, ini penjelasan hukumnya…………………

@ Adanya penemuan 6 mayat dan 5 korban yang mengalami luka berat yang ditemukan dari dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter adalah rentetan hukum yang terpisahkan dari fakta hukum yakni kamar mandi yang berceceran darah para korban dan hal itu menujukan bahwa pelaku tidak melakukan pembunuhan, tetapi pelaku diduga kuat melakukan penganiayaan berat hingga akhirnya pelaku memasukkan 11 korbannya ke kamar mandi dan menguncinya dari luar. Masih terlalu jauh jika mengatakan ada pembunuhan terkait ikut ditemukannya 6 mayat tersebut.
@ Bukan pembunuhan melainkan penganiayaan berat, logikanya begitu sederhana, diduga kuat pelaku menganiaya dulu semua korban yang berjumlah 11 korban, barulah setelah dianiaya satu-persatu, korban berdarah-darah, korban kehilangan banyak darah, lalu oleh pelaku, korban dimasukkan ke dalam kamar mandi yang luasnya sangat-sangat kecil yakni 1,5 x 1,5 meter. Dengan luas 1,5 x 1,5 meter, logikanya , sangat sulit untuk bisa bernafas, bahkan hampir tidak bisa bernafas, apalagi ditumpuk hingga 11 tumpukan dalam posisi tengkurap.

@ Banyaknya darah yang keluar dari tubuh para korban bisa dilihat dari lantai kamar mandi yang berceceran darah. Banyaknya ceceran darah juga tak bisa dilepaskan dari penyebab kematian 6 korban tersebut, karena manusia tidak mungkin bisa bertahan hidup apabila keluar banyak darah dari tubuhnya, ditambah lagi dimasukkan ke dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter. Silakan direnungkan, apakah ini logis atau tidak.

@ Ada 6 mayat yang ditemukan dari dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter adalah sesuatu hal yang logis , dikarenakan luas kamar mandi sangat kecil bahkan dengan ukuran 1,5 x 1,5 meter saja, sangat sulit untuk bisa bernafas, jangankan untuk bernafas, untuk bisa bergerak pun sangat sulit, karena pelaku sudah menumpuk 11 korban ini dengan posisi bertumpuk-tumpuk (ditumpuk-tumpuk).

@ Kemungkinan hukumnya, pelaku setelah melakukan penganiayaan berat, indikasinya pelaku diduga kuat langsung memasukkan 11 korban yang sudah mengalami luka berat tersebut ke dalam kamar mandi hingga berakibat yang logis pula yakni ada yang meninggal karena disebabkan banyaknya darah yang berceceran di kamar mandi , ditambah pula dengan luas kamar mandi yang begitu kecil ,yang menyulitkan korban untuk bernafas , terlebih lagi semua korban ditumpuk menjadi satu. Ditambah lagi Kapolda Metro Jaya, M. Iriawan dalam berbagai pernyataannya menyatakan bahwa dugaan dari penemuan mayat tersebut adalah disebabkan kehabisan oksigen, dan ini adalah alasan yang sangat logis.

@ Dan yang harus dilakukan oleh penyidik untuk mengungkap kasus ini adalah menyelidiki mengapa tidak ada barang yang hilang dari rumah mewah tersebut, hal ini penting untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi motif dari pelaku. Apakah pelaku disuruh untuk menganiaya semua korban dan memasukkannya ke kamar mandi saja atau ada motif tertentu. Atau apakah pelaku melakukan sendiri karena memiliki motif tertentu di balik penganiayaan yang berujung kematian 6 orang dan 5 luka berat. Tentu inilah bahan penyelidikan yang harus dilakukan penyidik saat ini. Dan kasus ini belum bisa disebut pembunuhan, karena berdasarkan fakta dan data yang ditemukan, tidak mengarah pada pembunuhan , melainkan mengarah pada penganiayaan (termasuk penganiayaan berat maupun penganiayaan yang direncanakan/penganiayaan berencana).

@ Karena jika indikasinya ada pembunuhan, pasti ada barang-barang yang hilang dari rumah mewah tersebut, sedangkan ini tak ada barang yang hilang dan inilah yang harus dijawab jika ada yang mengindikasikan adanya pembunuhan dalam kasus ini, karena bagaimana logikanya pelaku melakukan pembunuhan di rumah mewah, tanpa mengambil apapun dari dalam rumah mewah tersebut, inilah yang tidak logis jikalau dikatakan ini kasus pembunuhan. Bahkan kalau di indikasikan sebagai pembunuhan, mana rentetan hukum yang menujukan adanya pembunuhan, karena berdasarkan fakta hukum hanya ada rentetan hukum berupa penganiayaan. Kasus ini lebih tepatnya adalah penganiayaan yang mengakibatkan kematian/hilangnya nyawa orang lain dan berakibat pula luka berat pada korban. Dengan tidak adanya barang yang hilang/diambil, maka ini mengindikasikan bahwa diduga kuat pelaku mengenal korban.

@ Dikatakan perampokan juga tidak tepat, sebab jika kasus ini adalah perampokan , maka pasti ada barang yang hilang karena tujuan dari para perampok adalah mengambil barang tersebut.

@ Argumen hukum bahwa ini adalah penganiayaan yang berujung pada kematian dan luka berat adalah merujuk pada data dan fakta hukum yang ditemukan di lokasi kejadian perkara, yakni tidak ada barang yang hilang, tidak ada mengalami pengrusakan, baik itu pagar ataupun pintu utama pada ruang tamu. Yang ditemukan hanya 6 mayat dan 5 korban luka berat di dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter, ada mayat di dalam kamar mandi adalah logis karena 11 korban ditempatkan di kamar mandi berukuran sangat kecil yakni berukuran 1,5 x 1,5 meter.

@ Dan adanya 5 korban yang masih hidup yang ditemukan di dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter, menguatkan indikasi bahwa sebelum dan setelah dimasukkan ke dalam kamar mandi dengan ukuran sekecil itu, 11 korban diduga kuat masih hidup, menjadi ada yang meninggal , disebabkan banyaknya darah yang keluar dari tubuh korban, hal ini bisa dilihat fari fakta hukum dari dalam kamar mandi, ditambah lagi dengan ukuran kamar mandi yang terlalu kecil dan sulitnya untuk bernafas, dan itulah yang diduga kuat penyebab adanya 6 mayat yang ditemukan dari kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter. Masih terlalu jauh untuk mengatakan ini adalah sebuah pembunuhan, karena fakta hukumnya tidak mengarah pada pembunuhan, tetapi mengarah pada penganiayaan (termasuk penganiayaan berat maupun penganiayaan yang direncanakan).

@ Bahkan salah satu keterangan korban yang selamat, Anet menyatakan bahwa dirinya sempat melihat da 5 pelaku yang sempat menyiksanya terlebih dulu, baru kemudian dimasukkan (disekap) oleh ke dalam kamar mandi. Itu artinya makin terang lagi bahwa ini sebenarnya adalah penganiayaan berat. Dan luka berat itu diperparah lagi dengan semua korban yang ditumpuk di dalam sebuah kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter, yang membuat sebagian korban tidak bisa bernafas, hingga berakibat ada yang meninggal.

Terlebih lagi semua korban yang dimasukkan (disekap) di dalam kamar mandi yang tanpa ventilasi sudah disekap sejak kemarin sore hingga tadi pagi. Jadi bisa dibayangkan jikalau korban sudah disekap selama puluhan jam di dalam sebuah kamar mandi yang ukurannya sangat kecil, jadi logis jika meninggal disebabkan penganiayaan ditambah sulit bernafas di kamar mandi akibat ditumpuk-tumpuk menjadi 11 tumpuk oleh pelaku. Dan adanya korban yang masih bertahan hidup, mungkin disebabkan oleh kekebalan tubuh masing-masing dari korban, karena setiap orang memiliki kekebalan yang berbeda-beda.

@ Adanya bukti penganiayaan bisa dilihat dari keterangan salah seorang saksi bernama Lufti, yang menceritakan bahwa di salah satu wajah korban ada kebiru-biruan. Tak hanya kebiru-biruan, tetapi juga ada kulit yang mengelupas akibat luka, juga ada luka lecet di kaki dan tangan.
sumber: kompasiana

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *