RATUSAN WARGA DESA BERASTEPU TINJAU LAHAN DI DESA NANG BELAWAN

Rencana Relokasi Mandiri Tahap Kedua

Tanah Karo (SIB)- Ratusan warga Desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat, meninjau lahan yang rencananya dijadikan sebagai lokasi relokasi mandiri tahap kedua di Desa Nang Belawan, Kecamatan Simpang Empat, Rabu (7/9).

Tanah seluas 9 hektare (Ha) ini ditinjau karena lahan di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, dinilai tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai lahan relokasi mandiri di desa tersebut. Pasalnya, warga desa tersebut menolak desanya dijadikan relokasi mandiri.

Terkait hal itu tim Kelompok Kerja (Pokja) Relokasi Mandiri (RM) pengungsi erupsi Sinabung meninjau rencana lahan Relokasi Mandiri. Turut hadir diantaranya, Asisten Pemerintahan Kabupaten Karo Drs Suang Karo-Karo, Plt. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Karo Matius Sembiring, Kepala Tim Pendamping Relokasi Mandiri (TPRM) Thoib Subhanto SSos, Kepala Dinas PUD Karo Ir Paten Purba, Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Munarta Ginting SP dan Kepala Bappeluh Kabupaten Karo Sarjana Purba.

Kepada wartawan Kepala Desa Nang Belawan, Kristian Surbakti mengatakan, pihaknya sudah menyetujui rencana relokasi mandiri pengungsi Sinabung yang akan ditempatkan di desa mereka.

“Kita sudah menggelar musyawarah desa bersama elemen masyarakat. Pada prinsipnya, kami menyetujui rencana relokasi pengungsi di desa kami. Masyarakat kita sangat senang menyambut kehadiran pengungsi di sini, asalkan mereka dapat memahami dan mengikuti kearifan lokal dan budaya di sini,” jelas Kristian.

Dikatakan, dari lahan yang luasnya mencapai 9 Ha tersebut, mampu menampung sekitar 400 – 500 Kepala Keluarga (KK). “Ini tidak menjadi masalah bagi kita. Intinya, kita tetap menerima pengungsi yang akan di relokasi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Pjs. Kepala Desa Berastepu, Rapianto Sembiring. Menurutnya, pihaknya sudah menyepakati lahan tersebut dijadikan sebagai lokasi relokasi mandiri sesuai musyawarah perangkat desa bersama warga dan 21 kepala kelompok warga.

“Hingga kini, sekitar 80 persen warga desa kami telah memilih lahan ini sebagai tempat relokasi. Warga desa kami ada berjumlah 611 KK,” ujar Rapianto Sembiring.
Sementara Maha Sendi Milala selaku pemilik lahan mengatakan, di lahan seluas 9 Ha miliknya akan dibangun rumah type 36 dengan tapak 5 x 20. Dikatakannya, rumah tersebut dilengkapi beberapa fasilitas di antaranya, jambur, Puskesmas, kamar mandi 3 bak (sumur bor), rumah ibadah (gereja dan masjid) dan balai desa.
“Sudah ada surat persetujuan dari masyarakat sekitar terkait rencana relokasi di desa ini. Jika sudah ada kesepakatan dengan warga, seluruh fasilitas ini akan kita bangun dan warga langsung menerima kunci dan sertifikat,” jelas Maha.

Dikatakan, pihaknya menginginkan rencana relokasi ini berjalan sesuai harapan, agar masalah pengungsi ini dapat diselesaikan satu persatu. “Belajar dari kasus Desa Lingga, kita tidak ingin hal itu terulang kembali. Mari semua bertindak dewasa dan berpikir jernih, agar persoalan pengungsi selesai dan tak ada lagi masalah,” tuturnya.

Berdasarkan amatan sempat terjadi perdebatan antara warga Desa Berastepu dan Kepala Desa Nang Belawan terkait status warga Desa Berastepu yang akan ditempatkan di Desa Nang Belawan.

“Kami ingin nama desa kami tidak dihilangkan jika kami di relokasi ke sini. Kami ingin tetap menjadi warga Desa Berastepu,” ujar beberapa warga Desa Berastepu saat digelar dialog dalam pertemuan itu.

Menanggapi hal itu, Kepala Desa Nang Belawan, Kristian Surbakti menegaskan, pihaknya menolak permintaan warga Desa Berastepu yang ingin mendirikan desa dan membentuk pemerintahan baru di lahan tersebut.

“Sesuai hasil musyawarah tertinggi di desa kami, permintaan tersebut kami tolak. Adanya desa di dalam desa, tentu akan merusak tatanan desa kami yang memiliki kearifan lokal dan budaya,” tegas Kristian.

Terkait hal itu, Asisten Pemerintahan Kabupaten Karo Drs Suang Karo-Karo bersama Plt. Kalak BPBD Karo Matius Sembiring saat menggelar dialog bersama perwakilan kedua desa, meminta agar hal tersebut segera digelar musyawarah.

“Terkait persoalan ini, sebaiknya kedua desa segera menggelar musyawarah (runggu) di Losd Desa Nang Belawan, undang beberapa perwakilan warga dan tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini guna mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Masyarakat Karo kental akan budaya runggu,” kata Suang. (B01/B03/q)
sumber: hariansib

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *