MAU DIBAWA KEMANA? DI BALIK FREDDY BUDIMAN DAN PENEGAK HUKUM

Dalam beberapa jam masyarakat Indonesia disajikan sebuah berita heboh dengan munculnya percakapan antara Freddy Budiman dengan Haris Azhar. Secara umum dapat dikatakan bahwa upaya Freddy tersebut dianggap sebagai ikhtiarnya untuk mengungkapkan kebobrokan penegakan hukum di Indonesia. Walaupun hingga saat ini keotentikan percakapan itu sendiri pun belum diketahui validitas kebenarannya.

Di mana semakin kaburnya batasan terhadap sebuah informasi, kicauan Haris Azhar sebagai koordinator KontraS seakan menyulut api masyarakat untuk beramai-ramai menghakimi, menilai pihak yang salah dan yang benar. Masyarakat disandingkan pada pilihan untuk menggarap lahan baru, antara bersikap positif atau negatif dalam menilai kedua belah pihak yang tengah dikicaukan.

Freddy Budiman -pada beberapa waktu- lalu anggaplah dapat dipandang hanya sebagai seorang terpidana kasus narkoba. Dengan riwayat kasus dari copet hingga menjadi mafia narkoba yang bergerak dari balik jeruji besi, yang kemungkinannya dari sekian banyak Freddy-Freddy lain, memaksa pemerintah untuk berslogan “perang terhadap narkoba”.

Walhasil pemerintah dan institusi terkait, kembali meneguhkan citra positif di mata rakyatnya. Penyelundupan narkoba dari kelas playgroup sampai setingkat magister dikuliti satu per-satu, dari yang sekedar diselundupkan di bungkus rokok hingga bungkus beton tiang listrik pun disikat. Bahkan oknum-nya sendiri pun tak kalah mendapatkan hadiah jeruji besi. Kalimat “turn back crime” membumbui pikiran kita dengan bungkusan positif dan bukan sekedar isapan jempol belaka.

Hanya dengan sebuah tulisan saja, penegak hukum mendapatkan sindiran yang cukup membuat panas telinga. Nama mereka dikait-kait kan dengan bisnis yang mereka anggap sebagai musuh kelas wahid. Kata-kata “darurat narkoba” yang sering dinyanyikan dalam apel pagi para penegak, tersibak bak kelamin yang seharusnya ditutupi sebagai aurat. Mungkin saja sebentar lagi akan menjadi meme di media satir dengan genre black comedy.

Pada dasarnya tidak ada yang menyangsikan keputusan hakim untuk memberikan hukuman pidana mati pada Freddy. Bagaimanapun juga narkoba masih menjadi dedemit yang kerap menghantui benak masyarakat dan perang pun masih terus berlanjut.

Tapi teks dari bung Haris Azhar dengan sedikit gaya ngopi bang Iwan Fals, “bongkar!” Menggiring si pembacanya untuk bergerak nakal mengingat kembali dosa masa lalu para penegak, ditambah dengan sentuhan bahasa buruh vis a vis borjuis kemudian lengkaplah sudah ingatan masyarakat atas hukum tebang pilih, “tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Mentransformasi Freddy dari tersangka menuju korban. Merubah Institusi penegak from hero to zero. Semakin bingung pula petani desa yang menonton televisi.

Kita meyakini bahwa kebenaran merupakan sebuah nilai yang universal dan maujud. Namun, di zaman cyberspace ini kita seakan mudah untuk dibolak-balik, dipermainkan, bahkan di sliding tackle akal-nya untuk menjatuhkan penilaian. Dalam kasus Freddy Budiman si gembong Narkoba, masyarakat yang sedianya menganggap Freddy pantas untuk dijatuhi hukuman mati, mendadak bersahutan untuk sama-sama mengecam penegak hukum yang menurut berita -yang mengatas-namakan Freddy- merupakan penjahat dibalik baju zirah perang vs narkoba.

Masyarakat yang dari dulu merasa antipati dan pesimis atas penegakan hukum di Indonesia akan semakin menyalak keras menghujani media massa dengan berita-berita negatif, mengungkap kebobrokan-kebobrokan institusi pemerintah dari teori konspirasi hingga teori khilafah.

Agaknya jika dalam bahasa anak filsafat, era ini sekarang tengah mengalami masa sofisme ketiga, di mana antara benar dan salah menjadi sesuatu yang kabur. Seakan-akan semua orang berhak untuk memiliki citra akan sesuatu sesuai dengan pendapatnya sendiri, tidak adanya kesepakatan bersama tentang benar dan salah.

Gambaran antara pahlawan dan penjahat bisa berbalik 180 derajat seketika, hanya dari sebuah opini, seperti nyanyian Freddy atau nyanyian terpidana mati asal Afrika. Jika dahulu sofisme pertama dilawan oleh Sokrates dengan dialektika, sofisme kedua dilawan Kant dengan akal praktis: moralitas. Maka entah nama siapa yang akan tercatat dalam dialektika sejarah di 200 tahun mendatang yang akan berpredikat pahlawan sofisme era cyberspacism. Namun sebelum sejauh itu: Which side are you?
sumber: qureta

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *