KETIKA PAYUDARA CUMA UNTUK DIREMAS

Tentang Kita dan Snack “BIKINI”

Putri Widi Saraswati-Saat pertama kali melihat wujud bungkus makanan ringan mi kering bernama “BIKINI” alias “BIhun keKINIan” dengan tagline “Remas aku <3” yang sedang heboh dibahas di dunia maya, reaksi pertama saya – seperti mungkin banyak orang lain – adalah tertawa. Orang Indonesia memang ada-ada saja, batin saya. Kenapa saya tertawa? Mungkin karena di masyarakat kita, joke bernuansa seksual seputar payudara adalah sesuatu yang sudah sangat biasa, jamak, wajar. Mulai dari masyarakat di perkampungan sampai kelas menengah yang bekerja kantoran. Di kampung tempat saya bekerja, candaan “Totok, Mak!” (diumpamakan seperti jeritan anak kecil yang minta menyusu pada ibunya) sering dilontarkan orang-orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Maksudnya, ya, mencandai kalangan bapak, atau anak-anak usia sekolah yang masih manja. Di kalangan urban, ada komika bernama Kemal Pahlevi yang menjadikan kegiatan mewawancarai remaja 14 tahun tentang ukuran bra yang dipakainya sebagai materi komedi. Kalau ini, entah apa maksudnya. Kalau dipikir-pikir secara logis, sesungguhnya bingung juga apa yang lucu dari lelucon-lelucon itu. Kita tertawa karena sejak dulu sudah diajari secara sosial untuk menertawakannya. Seperti kita menertawakan lelucon tentang ukuran penis yang kecil, bokong yang besar, atau kepala yang botak. Meskipun kadangkala saya sendiri sebagai perempuan merasa risih ketika bergabung dalam sekelompok orang di mana payudara begitu woles dijadikan lelucon yang melulu berbau seksual – tentu saja dari mata laki-laki. Seolah yang ada di sana cuma payudaranya, bukan para perempuan pemiliknya. Bahkan saya pernah mendengar lelucon payudara yang bermula ketika si pelontar lelucon melihat seekor induk anjing yang kelenjar susunya besar-besar karena sedang menyusui. Absurd sekali. Tapi, toh, orang tertawa juga. Awalnya, si "BIKINI" yang minta diremas membuat saya spontan tertawa. Tapi kemudian, ketika efek humornya memudar, dahi saya mulai mengernyit. Pekan pertama bulan Agustus setiap tahun dicanangkan sebagai Pekan Air Susu Ibu (PASI) internasional, untuk mendukung kampanye ASI eksklusif. Terus terang, meski sudah dicanangkan sejak 1992, baru tahun ini saya mendengar dengungnya di Indonesia. Mungkin karena beberapa media daring mulai mengangkatnya, meskipun tetap tidak seheboh kabar-kabar sensasional yang lain. Respek saya untuk media-media tersebut. Bicara tentang ASI berarti bicara tentang payudara. Tapi saya tak akan kampanye soal ASI dalam tulisan ini. Saya akan kampanye tentang payudara. Ada empat fungsi payudara yang bisa saya pikirkan. Pertama, sebagai organ tubuh yang berkembang akibat hormon seks perempuan, yakni estrogen. Sebagai organ ia tak beda dengan tangan atau liver – berkembang menurut spesifisitasnya sendiri, dengan potensi fungsionalnya sendiri. Kedua, sebagai penghasil ASI untuk menghidupi dan memberi makan bayi yang baru dilahirkan. Ketiga, sebagai organ seksual. Keempat, yang paling bias, sebagai obyek keindahan visual tubuh perempuan. Fungsi yang pertama dan yang kedua adalah fungsi biologis yang obyektif, sudah dari sananya. Fungsi yang ketiga, menurut saya fifty-fifty – sebagian obyektif, sebagian subyektif. Fungsi yang keempat seluruhnya bergantung pada “selera” yang subyektif, terutama selera publik di mana perempuan berada. Dan dalam subyektivitas inilah ruang untuk membentuk dan memelintir citra payudara terjadi. Rupa-rupanya betul bahwa dorongan seks adalah dorongan purba yang sangat kuat dalam hidup manusia. Tak heran jika fungsi ketiga dan keempat dari payudara ini lebih banyak diungkit-ungkit, dibentuk, dipromosikan, dinilai sedemikian rupa. Maka jadilah payudara sebagai simbol seksualitas dan identitas perempuan dalam hidup sosialnya sehari-hari, bahkan mungkin lebih daripada vagina. Fungsi pertama dan kedua pun terdesak ke dalam gua. Di kampung-kampung, masih sering ditemui ibu-ibu yang tak segan untuk menyusui anaknya di ruang publik. Kalau memerhatikan gerakan mereka, kelihatannya alamiah sekali. Tak canggung-canggung. Sealamiah ASI yang diproduksi kelenjar susu (mammae gland) dalam payudara, sealamiah itulah gerakan ibu-ibu itu mengangkat atasan yang dikenakannya sekalian dengan bra, lalu menyodorkan puting susunya yang membesar pasca melahirkan kepada si bayi yang menangis. Sealamiah semua makhluk mamalia lainnya menyusui anak-anak mereka. Dan karena itulah mamalia disebut mamalia. Di kota-kota, lain lagi ceritanya. Menyusui di ruang publik dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas. Orang-orang risih melihatnya. Maka dalam rangka mendukung kampanye ASI eksklusif, pemerintah pusat maupun daerah menerbitkan peraturan yang antara lain mengatur ketersediaan fasilitas bagi ibu menyusui di ruang publik. Misalnya ruang khusus untuk menyusui atau memompa ASI di kantor-kantor dan fasilitas umum. Sementara fasilitas-fasilitas seperti itu belum terealisasi, insiatif dari masyarakat sudah lebih tanggap. Dalam rangka menghindarkan pandangan risih yang sering menimpa ibu-ibu yang harus mengeluarkan payudaranya untuk menyusui di ruang publik, para penjual yang kreatif mulai memasarkan produk berupa apron menyusui. Bentuknya kain lebar dengan motif-motif cantik yang diselempangkan di bahu, menutupi daerah payudara. Di baliknya, si bayi bisa dengan “aman” menyusu. Kita risih pada payudara. Risih melihat payudara yang terbuka, bahkan ketika ia sedang digunakan untuk salah satu fungsi biologisnya, yakni menyokong kehidupan seorang manusia muda. Di sisi lain, kita melontarkan joke tentang payudara dengan ringan dan biasa saja. Termasuk juga ikut menentukan, bentuk dan ukuran payudara yang bagaimana yang dianggap indah untuk dipandang mata. Kembali ke “BIKINI” si makanan ringan. Seperti biasa, yang paling heboh dipermasalahkan oleh masyarakat kita adalah tentang kepornoan dalam segala hal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi daring yang keempat, lema “pornografi” diartikan sebagai: 1. Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi, atau 2. Bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi. Perkara desain bungkus “BIKINI” tergolong pornografi atau tidak, bisa saja diperdebatkan sepanjang Bengawan Solo. Kalau referensinya KBBI, sih, tidak, karena di sana jelas tertulis syarat “sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi”. Saya yakin produsen “BIKINI” memproduksinya untuk dimakan, bukan dipakai coli. Entahlah kalau yang dipakai syarat agama, “budaya ketimuran”, atau apa pun itu yang setiap saat selalu dikedepankan perkara tubuh perempuan. Yang jadi perhatian saya justru bukan pada gambar payudara yang tertutup bikini itu sendiri, melainkan tagline yang menyertainya. Maksud aslinya tentu saja pembeli disuruh meremas mi kering yang ada dalam kemasan sebelum dikonsumsi. Tapi, mengingat konteks payudara yang dijadikan simbol seksualitas perempuan di masyarakat kita, rasanya cuma orang buta dan bayi yang tidak akan ngeh pada nuansa seksual yang tersirat saat melihat tulisan “Remas Yuk” plus emoji bentuk hati di samping gambar payudara besar berbikini. Ngeh tak sama artinya dengan kepingin coli, lho, ya. Geez, anak-anak SD yang lari-larian main bola di kampung tempat saya bekerja saja ikut tertawa-tawa kalau mendengar, “Totok, Maaak….” Tapi memang sepertinya itulah tujuan utama dari desainer kemasan “BIKINI”: membuat orang ngeh, lalu mudah mengidentifikasi, penasaran, dan akhirnya membeli. Dan manusia adalah makhluk yang sangat gemar akan simbol. Dalam urusan dunia perdagangan dan industri makanan ringan ini, fungsi seksual dari payudara lagi-lagi menjadi simbol yang dikapitalisasi. Tidak ada yang salah dari memiliki payudara, menggambar payudara, menyusui dengan payudara, bangga memiliki payudara, menunjukkan kalau kita punya payudara dengan memakai bikini. Tidak ada yang salah pula dengan meremas payudara, atau memiliki payudara yang memberikan sensasi memuaskan jika diremas. Tidak ada yang salah dari keberadaan, bentuk, dan fungsi payudara, termasuk sebagai organ seksual. Yang jadi masalah adalah jika payudara hanya dikaitkan dengan urusan yang itu-itu melulu, dilekatkan dengan dan dipersempit dalam citra tertentu, serta dijadikan obyek untuk menarik perhatian dengan mengabaikan identitas perempuan sebagai pribadi – sebagai subyek – yang memilikinya. Ada yang bilang, desainer “BIKINI” adalah orang-orang kreatif yang semestinya tidak dipenjara oleh para polisi moral yang paranoid pada tubuh perempuan. Bisa saja demikian. Masalahnya, kreativitas mereka hanya sampai level sekian. Tidak jauh beda dengan kampanye partai politik yang menggunakan penyanyi dangdut perempuan bergaya seksi sebagai magnet massa. Kreativitas yang kasar, kalau istilah “mengobyektivikasi” terlalu sulit dipahami. Malah menurut saya masih lebih kreatif mang-mang penjual mi tektek keliling yang rutenya melewati kompleks rumah papa saya. Ia mengganti bunyi tektek metalik yang standar menjadi dogdog, hasil pukulan kayu yang menjadi identitasnya. Rasa masakannya pun enak. Jadilah ia penjual mi dogdog yang selalu ditunggu-tunggu papa saya. Nyaris setiap malam papa saya memasang kuping supaya tidak kelewatan membeli. Pada akhirnya, biarpun sempat dahi ini berkerut-kerut termasuk saat mengerjakan tulisan ini, saya masih menganggap kehebohan “BIKINI” sebagai sesuatu yang layak ditertawakan. Lha, gimana, sih, Put. Katanya feminis. Kasus begini, kok, ditertawakan, bukannya dikecam? Habis bagaimana, dong. Level masyarakat kita kenyataannya memang masih segini-segini saja. Di satu sisi, kreativitas kita mentok sampai harus jualan sensasi seksualitas payudara. Di sisi lain, nalar kita mentok sampai harus jiper pada seksualitas payudara yang berpotensi merusak moral bangsa. Segala sesuatu yang levelnya mentok, enaknya, ya, ditertawakan saja…. Toh? sumber: qureta

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *