EPHORUS HKBP MINTA PIHAK BERWENANG TUTUP KAFE REMANG-REMANG DI TAPANULI UTARA

Menjamur dan Meresahkan Masyarakat

Tarutung (SIB)- Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pdt Willem TP Simarmata MA meminta pihak berwenang munutup semua kafe remang-remang di Kabupaten Tapanuli Utara, karena sudah semakin menjamur dan meresahkan masyarakat.

Selain itu, kafe-kafe yang bukanya malam tersebut membuat kesan jelek untuk Kabupaten Tapanuli Utara yang dikenal dengan daerah religius dan dijuluki kota wisata rohani dengan keberadaan Salib Kasih, monumen Munson dan Liman sebagai missionaris yang membawa injil ke tanah Batak.

Hal itu disampaikan dalam perbincangannya dengan SIB setelah makin banyak masyarakat yang merasa risih dengan keberadaan kafe-kafe tersebut. “Semua penjuru mau masuk Tarutung sudah berdiri kafe-kafe. Sebenarnya ada pihak yang berwenang untuk itu, tapi yang terjadi makin marak di daerah ini,” sebutnya.

Sebagaimana yang dapat disaksikan, perkembangan kafe-kafe malam di Taput memang bagaikan jamur di musim hujan. Di sejumlah tempat telah berdiri kafe-kafe antara lain Desa Pariksabungan, Siborongborong yang berdekatan dengan rumah ibadah. Daerah Simate-mate Kecamatan Adiankoting, jalan Tarutung-Sipahutar daerah Hutabarat Siarang-arang, Kecamatan Tarutung dan kawasan Pancur Napitu, Kecamatan Siatas Barita dan Simason Kecamatan Pahae Julu.

Pdt Willem TP Simarmata menjelaskan sudah banyak masyarakat yang datang menyampaikan keluhannya terkait kehadiran kafe-kafe malam di masing-masing daerah tersebut. “Kita prihatin melihat daerah kita sekarang seperti tak punya aturan dan moralnya makin merosot. Dampak buruk yang diakibatkan keberadaan tempat-tempat itu sangat banyak. Mabuk-mabukan, mungkin Narkoba, bahkan bisa jadi asusila yang dapat merusak mental masyarakat,” ucapnya.

Ephorus meminta adanya kepedulian pihak berwenang untuk menutup semua kafe malam di daerah ini. “Ada polisi dan pemerintah yang punya wewenang untuk itu. Apa tidak peduli lagi kita dengan keadaan masyarakat yang semakin resah? Daerah ini pun sudah semakin dicap jelek,” pungkasnya.

Sebelumnya, sudah banyak masyarakat mengungkapkan keresahan atas menjamurnya kafe malam yang terkesan tanpa ada kontrol dari pihak berwenang. Ada dugaan pembiaran untuk membuat cap jelek bagi Tapanuli Utara sebagai tujuan wisata rohani dan moral masyarakat daerah ini terdegradasi. (BR5/h)
sumber: hariansib

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *