SANTOSO TEWAS, ANCAMAN TERORISME ‘TAK LANGSUNG MENGECIL’

Tewasnya Santoso, tersangka kasus terorisme yang dicari aparat keamanan dalam beberapa tahun terakhir, dianggap tidak akan serta-merta melumpuhkan jaringan terorisme di Indonesia.

Pengamat terorisme Taufik Andrie mengatan penangkapan atau tewasnya pemimpin kelompok militan tidak menjadi jaminan akan berkurangnya secara signifikan aksi-aksi terorisme.

“Dalam kacamata penengakan hukum ini bagus menangkap orang-orang penting, tetapi dalam kacamata yang lebih luas counter kekerasan dan pemberantasan terorisme secara lebih luas ini belum selesai karena persoalannya ini ideologinya sendiri, bukan orang per orang,” kata Andrie.

“Karena buktinya pemimpin kelompok yang sudah dipenjara seperti Aman Abdurahman, atau Abu Bakar Baasyir, tetapi gerakan mereka di luar hidup, berkembang terus bahkan dan ada serangan-serangan baru seperti Januari kemarin, serangan markas pos polisi di Solo, jadi ini menunjukkan persoalan ada di perkembangan ideologinya sendiri,” katanya.

Dia mengatakan pengaruh kelompok MIT di Indonesia tidak terlalu besar dan bersifat lokal di Poso, Sulawesi Tengah, sementara patron ideologi jaringan militan di Indonesia itu saat ini lebih banyak didominasi oleh kelompok global seperti ISIS ataupun Al Qaida.

“Tidak dalam arti bahwa patron ideologi yang ada sekarang ini kan patron ISIS atau non-ISIS seperti Al Qaeda, jadi patron yang tumbuh di kalangan militan itu tidak bersifat domestik, tidak sekuat dulu karena sekarang kan raising global jihad, pengaruhnya mungkin hanya lokal, hanya Poso yang pengaruhnya itu hanya lokal tidak seluruh Indonesia secara luas, memang pernah ada beberapa serangan di luar Poso tetapi dapat digagalkan, dampaknya tidak sebesar yang kita khawatirkan,” jelas Andrie.
Serangan balik?

Tewasnya Santoso, kata Andrie, bisa membuat moral kelompoknya akan turun, tetapi bisa ada kemungkinan juga mereka justru akan melakukan upaya balasan untuk menyerang balik.

“Tetapi di sisi lain akan membuat spirit dan semangat mereka membalas semakin kuat, dan ini yang dikhawatirkan akan membuat mereka membabi buta menyerang balik kepolisian atau orang-orang lain,” jelas direktur Riset Yayasan Prasasti Perdamaian ini.

Selain anggota kelompok yang masih berada di hutan Poso -yang diperkirakan sekitar 15 orang- Andrie mengatakan kemungkinan ‘balasan’ juga bisa dilakukan oleh orang-orang yang pernah mengikuti pelatihan di Poso, yang berasal dari Jawa atau Bima, NTB.

Ia menilai selama ini kelebihan kelompok Santoso adalah semangatnya yang besar, meski dari sisi kuantitas tidak besar.

Daya tahan dari gempuran aparat keamanan membuat mereka mendapatkan dukungan dari luar dari sisi dana, dan juga mendatangkan orang-orang dari Uighur untuk bergabung dengan kelompok pimpinan Santoso.
Warga merasa aman

Kematian Santoso ini disambut baik Kepala Desa Mambuke Poso Pesisir Albin Pabisara yang mengatakan warga merasa lebih aman karena selama ini wilayahnya menjadi salah satu lokasi perlintasan bagi kelompok Santoso yang berada di kawasan pengunungan di Poso.

“Warga khawatir berada di ladang, dan saya terus menerus menghimbau kepada warga agar tetap membawa identitas dan juga jangan lari jika ada aparat, untuk mencegah salah tangkap, selain itu juga harus melapor jika melihat kelompok yang mencurigakan melintas di dekat ladang mereka,” kata Albin.

Dia mengatakan warganya tidak tertarik untuk bergabung dengan kelompok Santoso, karena pernah mengalami konflik sosial.
Operasi di Poso dilanjutkan

Kepolisian memastikan operasi Tinombala tetap akan dilanjutkan untuk menangkap sisa kelompok Santoso yang tersisa termasuk Basri dan Ali Karola yang disebut sebagai ‘wakil’ Santoso.
Image copyright AFP
Image caption Tiga orang Uighur mendapatkan vonis enam tahun penjara karena bergabung dengan kelompok Santoso.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan operasi dilanjutkan juga untuk mencegah adanya kaderisasi.

“Bisa saja kalau kita diamkan, oleh karena itu setelah selesai ini operasi kita jalankan terus, sambil menetralisir ideologi radikal prokekerasan yang ada di sana,” jelas Tito di Istana Presiden.

Kepolisian juga mengatakan polisi jugta mewaspadai kemungkinan adanya ‘serangan balik’ dari pendukung Santoso.

Secara fisik polisi yakin salah satu pria yang ditembak mati adalah Santoso, tetapi masih menunggu kepastian dari hasil tes DNA yang diperkirakan akan diketahui hasilnya dalam 3-4 hari.

Upaya penangkapan terhadap Santoso dilakukan sejak tahun 2011 lalu melalui operasi Camar Maleo dan kemudian diganti menjadi Tinombala.
sumber: bbc

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to SANTOSO TEWAS, ANCAMAN TERORISME ‘TAK LANGSUNG MENGECIL’

  1. Pingback: Glo Extracts Black Mamba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *