ASAL – USUL DESA SUKA

Pada zaman dahulu ketika dataran tinggi Taneh Karo Simalem masih merupakan hutan belantara. Seorang pemuda bertubuh tegap dengan paras wajah yang tegas dan pembawaan yang tenang mengendap-endap di semak-semak dan bersembunyi dari balik pepohonan. Kelihatannya dia sedang mengintai sesuatu. Dia berjalan dengan perlahan dan sangat hati-hati, mungkin dia tak ingin kehadirannya diketahui oleh sesuatu di seberang sana. Dengan sangat hati-hati dia mendekati targetnya itu, berusaha untuk bisa melihat sedekat mungkin tanpa harus mengusik ketenangan buruannya. Belkih itu masih santai menikmati pucuk-pucuk daun yang dilahapnya dengan rakus. Tampaknya dia belum menyadari ancaman yang mendekatinya. Pemuda itu tersenyum kecil. Keberadaanya belum disadari sang buruan. Dengan sigap dia mengambil eltep nya dan meniup senjata itu dengan cepat mengarah sasaran. “ Io ohh… “ seru pemburu itu. Sang Belkih Ternyata mengetahui ancaman yang membahayakan nyawanya tepat saat anak eltep itu melesat mengarah padanya. Dalam sekejap Belkih itu telah menghilang ke dalam hutan yang lebat.

Pemuda itu menurunkan senjatanya. Menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan dengan sedikit kesal. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Sepertinya dia sedang mencari seseorang yang seharusnya ada di dekatnya saat belkih itu berlari ke dalam hutan. “ Nak, cek cek cek cek, suiut!!! Suiut!!! “ seru nya sambil bersiul. Tak ada suara apapun di tengah hutan belantara itu. Hanya desiran angin dan sekali-sekali terdengar suara burung dan serangga-serangga hutan memecah keheningan kerangen itu. “ Nak, cek cek cek cek, suiut!!! Suiut!!! “ seru nya lagi dengan lebih keras. Dari ujung sana terdengar suara semak yang bergesekan karena sesuatu yang melewatinya. Seekor anjing tampak berlari dengan kencang mengarah kepada pemuda itu. Ternyata teman yang dicarinya bukan seorang manusia, melainkan seekor anjing kampung dengan bulu yang hitam lebat dan tatapan mata yang tajam. Dia menjulurkan lidahnya yang belang itu sambil menjilati tuannya sambil terengah-engah. Pemburu itu membelai punggung sahabatnya itu. Namun ada hal yang menarik perhatiannya. Dia memperhatikan dengan seksama moncong anjingnya yang kotor itu. Moncong anjing itu berlumuran dedak halus. Pasti ada barung di sekitar sini pikir pemuda itu. Di tengah hutan belantara darimana datangnya dedak halus kalau tidak ada rumah yang ditempati manusia di sekitar sini pikirnya.

Bersama anjingnya dia menyusuri hutan dan mencari asal dedak itu. Dia meyakini pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini. Tidak begitu jauh dari situ mereka menemukan sebuah sungai dengan air yang sangat jernih. Di pinggir sungai itu terdapat sebuah pondok yang disekitarnya ditanami berbagai macam tumbuhan seperti padi, jagung dan sayur-sayuran. Itu merupakan sepetak ladang yang luas dengan sebuah pondok yang berada tepat di tengahnya. Si pemuda mendekati pondok itu. Ada kandang ternak di sekitarnya dan si pemilik sepertinya sedang berada disana memberi pakan ternaknya. “Mejuah-juah” seru pemuda itu. Namun belum ada sahutan dari si pemilik rumah. “Mejuah-juah” serunya lagi dengan lebih lantang. Namun masih belum ada sahutan. Mungkin si pemilik rumah sedang pergi ke hutan mencari kayu bakar pikir pemuda itu. “ Ngung! Ngung! “ anjing itu menggonggong dan pemuda itu menoleh ke arah gonggongan anjing itu. Dan dari kejauhan tampak seorang gadis yang datang membawa kuran berisi air untuk memasak. Gadis itu sangat cantik dengan balutan Uis yang dijadikannya abid yang menutupi tubuhnya sampai bahu. Kepalanya juga ditutupi oleh tudung, semacam penutup kepala yang berbentuk menyerupai segitiga yang dipasang sedemikian rupa. Wajah wanita itu terlihat seperti kebingungan dengan kedatangan orang asing di rumahnya. Ketika pemuda itu memandang ke arahnya, wanita itu memalingkan mukanya dan pura-pura tidak tau akan kehadiran orang lain di sana. Dia tampak seolah mencoba menghindari pemuda itu dan berjalan terus menuju rumah.

Si pemuda itu menghampiri wanita itu dengan sedikit membungkukkan kepalanya dan berkata “Mejuah-juah turang.” Wanita itu menghentikan langkahnya kemudian memandang pemuda itu dengan dengan wajah galak. Mungkin dia ingin memberi kode supaya tidak ada yang berani macam-macam atau berniat mengganggunya. Karena bapa nya sedang pergi ke hutan mencari kayu bakar dan tak ada seorangpun di rumah ketika itu. Sekali lagi pemuda itu memberikan senyum sambil berkata “Mejuah-juah turang! Jangan kam takut, aku ini hanya seorang pemburu yang kebetulan lewat sini dan menemukan ada rumah di sini” katanya untuk meyakinkan. “Mejuah-juah” jawab wanita itu. “Bapa sedang pergi ke hutan mencari kayu bakar, mungkin sebentar lagi pulang” katanya. “Oo, gelarku Suka” kata pemuda itu sambil mengulurkan tangannya “Mergaku Ginting”. Wanita itu mengulurkan tangannya lalu mereka bercakap-cakap singkat. Dari percakapan itu pemuda itu tahu bahwa perempuan itu beru Samura. Samura merupakan bagian dari kelompok merga Karo-karo dari Merga Silima. Tidak lama mereka bercakap-cakap wanita itu menunjuk ke arah hutan. “Nah, itu bapa sudah datang”. Orang tua itu juga kelihatan bertanya-tanya dengan kehadiran seorang pemuda di rumahnya. Dia berjalan lebih cepat sambil membawa kayu bakar di tangannya mendekati mereka. “Mejuah-juah pa!” kata pemuda itu sambil mengulurkan tangannya. Orang tua itu meletakkan kayu bakar di tanah dan mengulurkan tangannya kepada pemuda itu untuk bersalaman. “Mejuah-juah, ja nari kam? Ras kai mergandu?” kata orang tua itu menanyakan nama dan merga pemuda itu. “Namaku Suka merga Ginting pa, aku adalah seorang pemburu yang kebetulan lewat di sekitar sini”. “Oo, eta kurumah kita” kata orang tua mempersilahkan pemuda itu masuk ke dalam rumah sederhana itu.

Hari itu sudah mulai menjelang malam ketika mereka bercakap-cakap di dalam gubuk kecil itu. Kehadiran orang baru di rumah sederhana itu menambah ramai suasana rumah. Keluarga itu pun kelihatan senang dengan kedatangan pemuda itu. Dia mengijinkan pemuda itu tinggal bersama mereka. Malam itu tidak seperti malam sebelumnya bagi rumah itu. Di tengah remang obor kecil yang diletakkan di salah satu sudut ruangan, mereka bercakap-cakap dan bercerita sampai tengah malam. Orang tua itu tidak merasa ngantuk meski seharian mencari kayu bakar di hutan. Sekali-sekali terdengar suara tawa dalam perbincangan santai mereka ketika anaknya si beru Samura sudah pergi beristirahat. Si pemuda menceritakan bagaimana ia bisa sampai ke rumah itu dan mengisahkan kegagalannya mendapatkan hewan buruan pada hari ini. Malam semakin larut dan mereka beranjak untuk beristirahat agar tenaga kembali pulih untuk bisa beraktivitas lagi esok harinya. “Nggo danci kita medem yah tongat” kata orang tua mengajak untuk beristirahat. Malam begitu tenang di dalam pondok sederhana jauh di dalam hutan belantara itu.

Hari-hari berlalu dan pemuda itu kini tinggal bersama mereka di barung itu. Sekali-sekali dia pergi berburu dan membantu mencari kayu bakar serta memberi makan ternak. Suatu ketika sehabis makan malam, pemuda itu berkata kepada Bapa itu; “Oo Pa, bisakah aku menanam ‘Jambe’ di tanahndu?”. Jambe merupakan tumbuhan yang menjalar dan merupakan salah satu jenis dari labu dan biasanya disebut labu kuning. “Silahkan tongat” kata orang tua itu mengabulkan permintaan pemuda itu. Bahkan orang tua itu memberikan tanah kepada pemuda itu dengan syarat; dimana jambe nya turah, maka tanah itu menjadi milik pemuda itu. Pemuda itu kemudian menanam jambe itu secara bersambung-sambungan agar jambe itu menjalar sampai jauh dan tanah si pemuda itu pun menjadi sangat luas sejauh jambe itu tumbuh menjalar.

Hidup bersama dalam satu rumah dan sering bertemu satu sama lain akhirnya menumbuhkan perasaan suka dari si Suka kepada beru Samura. Dia kemudian melamar beru Samura dan menjadikannya sebagai istri. Mereka dikaruniai 3 orang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Si Pengulun, Si Mbayak dan Si Pilihen.

Tempat si Suka menanam jambe akhirnya berubah menjadi kampung Suka. Pada awalnya kampung memiliki 3 kesain yaitu; Kesain Rumah Pengulun, Kesain Rumah Mbayak, dan Kesain Rumah Pilihen. Nama kesain ini diambil dari nama ketiga anak si Suka. Ketiga anaknya masing-masing memiliki 3 orang anak laki-laki lagi. Dan dari anak-anaknya inilah kemudian kampung suka berkembang menjadi 9 kesain yaitu; Kesain Rumah Lige, Kesain Rumah Pengulun, Kesain Rumah Galuh, Kesain Rumah Mbayak, Kesain Rumah Tinjo, Kesain Rumah Pilihen, Kesain Rumah Silindung Bulan, Kesain Jambur Nderket dan Kesain Rumah Jahe.

Kampung Suka berkembang menjadi kampung yang besar. Dari jumlah penduduk, kampung suka mungkin merupakan 3 dari kampung terbesar dan terluas di Taneh Karo setelah Juhar dan Batukarang. Bahkan kampung-kampung di sekitar Suka juga dulunya merupakan barung-barung dari Kuta Suka. Itulah sebabnya kenapa kampung Kuta Kepar, Suka Dame, Salit dan Tigapanah selalu melaksanakan Kerja Tahun di hari yang sama dengan Suka. Karena dulunya kampung-kampung ini merupakan barung masyarakat Suka, sehingga masih banyak pertalian saudara antar penduduk kampung ini. Kampung panteken Ginting Suka ini juga memiliki keunikan yang tidak dimiliki kampung-kampung lain di Taneh Karo. Ada istilah yang sangat terkenal di kalang orang-orang karo pada zaman dahulu; ”Belugun ku Suka la ersemulih”. Dalam bahasa Indonesia bisa diartikan “Oleh-oleh ke Kampung Suka tidak memiliki kembalian”. Belugun merupakan oleh-oleh yang dibawa oleh orang karo ketika mereka mengunjungi sanak saudara di sebuah kampung yang ssedang merayakan Kerja Tahun atau Pesta Tahunan. Biasanya Belugun ini berisi panganan-panganan Khas Karo yang rasanya sangat lezat. Kampung Suka berbeda dengan kampung-kampung lainnya dalam merayakan pesta tahunan ini, karena Suka merayakan dua kali pesta tahunan dalam setahun. Sehingga para sanak saudara mengunjungi Suka sebanyak dua kali dalam setahun dan akan membawa Belugun sebagai oleh-oleh. Ketika orang-orang Suka berkunjung ke kampung lain mereka juga membawa Belugun sebagai oleh-oleh namun hanya sekali. Karena kampung lain di Taneh Karo hanya mengadakan sekali Kerja Tahun. Itulah cikal bakal munculnya istilah “Bagi Belugun ku Suka la ersemulih”.

Pada tahun 2013 kampung Suka dimekarkan menjadi 3 kampung. Karena jumlah penduduknya yang besar dan memungkinkan untuk dimekarkan agar bisa lebih mandiri dan berkembang ke arah yang lebih baik untuk kesejahteraa masyarakatnya. Ketiga kampung yang didirikan oleh merga Ginting Suka itu diberi nama sesuai dengan ketiga anak si Suka yakni; Desa Suka Pengulun, Desa Suka Mbayak dan Desa Suka Pilihen. Kampung ini juga telah melahirkan banyak orang-orang sukses dalam perjalanannya sebagai bagian dari Taneh Karo Simalem. Anak suka turut memberi sumbangan untuk mengharumkan nama Taneh Karo di mata dunia. Salah satu anak tanah yang dibanggakan Suka adalah Djamin Gintings yang pada 7 November 2014 lalu diangkat menjadi Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Jauh sebelumnya nama Djamin Gintings, putra kebanggan Taneh Karo ini juga telah ditabalkan menjadi nama jalan terpanjang di Sumatera Utara. Mulai dari Padang Bulan sampai Kabanjahe. Kini Museum Djamin Gintings juga telah berdiri megah di Suka, sebagai pengingat dan inspirasi bagi generasi muda Suka dan generasi muda Karo pada umumnya untuk mau terus belajar dan berjuang bersama-sama melestarikan budaya nenek moyang dan meneruskan cita-cita untuk mengharumkan nama Karo di mata dunia.
Mejuah-juah

Plato Ginting

sumber: platoginting.blogspot
sinabungjaya.com

This entry was posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Objek Wisata Karo, Informasi Untuk Kab. Karo, Jelajah Objek Wisata Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *