TANGANI DAMPAK SINABUNG, PEMERINTAH KARO HARAPKAN DANA PERCEPATAN

KABANJAHE, KOMPAS — Pemerintah Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengharapkan dana percepatan penanganan dampak erupsi Gunung Sinabung segera direalisasikan oleh pemerintah pusat. Sejumlah infrastruktur jalan menuju tempat relokasi di Siosar, pembangunan gedung sekolah, dan penyiapan lahan pertanian, misalnya, perlu segera diwujudkan.
Warga melintas di Desa Naman Teran, di lereng Gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara, Rabu (17/6).

“Saya berharap nantinya ada keputusan presiden mengenai percepatan penanganan dampak erupsi Gunung Sinabung,” kata Bupati Karo Terkelin Brahmana, Rabu (17/6) petang, setelah rapat koordinasi dengan jajaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dari catatan Kompas, akibat erupsi Gunung Sinabung, hingga saat ini terdapat 10 sekolah yang terletak di tujuh desa zona bahaya telah rusak dan tidak bisa difungsikan lagi.

Sebanyak 1.488 siswa dari 1 SMA, 2 SMP, dan 7 SD harus menjalani proses belajar-mengajar dengan menumpang di sekolah lain. Oleh karena itu, pembangunan gedung sekolah di luar zona bahaya perlu segera direalisasikan.

Selain itu, ada sekitar 4,2 kilometer dari 30 kilometer jalur evakuasi dari zona bahaya di lereng Gunung Sinabung dalam keadaan rusak. Dinas Pekerjaan Umum Karo juga telah mengajukan usulan anggaran dana perbaikan dan peningkatan 34 ruas jalan serta pembuatan sejumlah jembatan yang berada di luar zona bahaya sebesar Rp 82 miliar kepada pusat. Jembatan dan jalur itu rusak akibat erupsi tahun 2010 dan 2013.

Untuk akses ke lokasi permukiman baru sebagai tempat relokasi warga, pemerintah daerah juga mengalokasikan dana sekitar Rp 80 miliar untuk pembuatan jalan sejauh 25 kilometer menuju Siosar.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karo, jumlah pengungsi yang menerima dana sewa rumah dan sewa lahan dan yang menetap di hunian sementara ada 6.179 jiwa, yang terdiri atas 2.53 keluarga. Mereka berasal dari Desa Sukameriah, Bekerah, Simacem, Kuta Tonggal, Berastepu, Gamber, dan Guru Kinayan. Pada erupsi kali ini ada 10.714 jiwa yang mengungsi di 10 tempat yang aman.

Menanggapi wacana percepatan tersebut, Direktur Tanggap Darurat BNPB J Tambunan mengatakan, pihaknya sudah menjalin koordinasi dengan kementerian-kementerian terkait di pusat. “BNPB tidak sendirian, ada yang teknis menangani, seperti PU, Kehutanan, dan Pertanian. Semua sudah memverifikasi dan memosisikan apa yang menjadi kebutuhan daerah. BNPB hanya bisa mengoordinasi apa yang bisa dilakukan bersama-sama,” papar Tambunan.

Aktivitas tinggi

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung Armen Putra, Kamis (18/6), mengatakan, aktivitas gunung api masih tinggi dan tidak bisa diperkirakan sampai kapan. “Warga tetap diimbau menghindari zona bahaya karena potensi ancaman awan panas masih tinggi. Kita berharap erupsi ini cepat selesai, tetapi kita tidak bisa memperkirakan kapan selesai,” kata Armen.

Sepanjang Kamis pukul 00.00-06.00, ujar Armen, terjadi satu kali awan panas guguran pada pukul 02.43. “Awan panas guguran meluncur ke arah tenggara sejauh 2.500 meter selama 330 detik. Abu vulkanik terbawa angin ke arah timur,” katanya.- Opini oleh : W Megandika Wicaksono
sumber: kompas

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *