BEGU DALAM KEBUDAYAAN KARO

Bintara Tarigan Silangit (Medan)

bintara.Saya tertarik pada sebuah diskusi beberapa hari lalu dengan kak Ita Apulina Silangit, terkait pengertian begu. Dalam diskusi itu, kami menurut pemikiran kami masing-masing mengartikan kata ‘begu’ itu telah mengalami penyempitan/pendangkalan makna, peyorasi.

Setiap kali mendengar kata ‘begu’, seseorang dan terutama orang Karo biasanya langsung mengartikannya secara negatif. Begu diartikan sebagai setan yang menjadikan penyakit atas orang lain, atau menjauhkan rejeki dari orang lain.

Saya lupa persisnya dimana saya baca dan siapa pengarang bukunya, bahwa manusia dalam kepercayaan masyarakat Karo terdiri dari tiga bagian, yaitu: 1. Tendi (jiwa),
2. Begu (roh orang yang sudah meninggal, hantu), 3. Daging (tubuh). Jadi, begu itu disebut roh dalam bahasa Indonesia.

Dalam kamus Karo – Indonesia, roh berarti; kesah; tendi: — yang melindungi beraspati; — jahat bala gege; setan; angin-angin; si Gunja; begu; — di atas loteng nini para; —yang menolong dukun jungjungen; — yang menyebabkan celaka sangkar; — hutan simada kerangen; — pelindung seseorang jinujung; dia mengajak tujuh — lebih jahat daripada dia ibuatna pitu jinujung latlaten asang ia; jenujung; sudara; — pelindung kampung bahuta kuta; —yandg melindungi rumah beraspati rumah; —”guru sibaso” yang bertindak sebagai pembantunya untuk mengambil “begu” ke rumah perkentas; dihinggapi — jahat begun; — kudus Kesah Sibadia; kemasukan — jahat setanen; orang yang kemasukan — jahat si setanen; hilang —ku bene rumatku; sebangsa~ jahat berwajah jelek yang menakutkan jin; nama — wanita sidang bela; dulu keadaan sakit disebabkan — itu sidang belan; nama — di tempat persembahan suatu kampung berangsang; sej — begu lumayang; sej — halus abut-abut (DP); nama — perempuan yg menerinta rob org yg meninggal di kuburan ame ngagah; ame agah (DP); sej — yang menelan bulan (se¬waktu gerhana bulan) rahu.

Menurut kamus tersebut, dapat diartikan bahwa begu (roh) ternyata memiliki makna yang luas, tidak negatif.

Orang Karo juga memercayai bahwa setiap orang memiliki roh penjaga yang sering disebut begu jabu. Begu jabu ini dipercayai akan menjaga keturunannya dari mara, memberikan rejeki, memberi peringatan akan sebuah bencana, dan juga (dalam beberapa kasus khusus) memberikan tawar (obat) atas penyakit yang sedang diderita oleh salah satu anggota keluarga.

Mengingat hal tersebut, akan terkesan keterlaluan bila dikatakan seorang ‘guru’, dukun Karo yang memiliki jinujung (roh pelindung) dikatakan perbegu. Penyebutan perbegu itu boleh saja dibenarkan mengingat semua orang berdasarkan kepercayaan orang Karo memiliki begu jabu. Namun karena begu dan perbegu ini telah mengalami penyempitan/ pendangkalan makna ke arah negatif, maka penyebutan itu menjadi tidak adil. Bukankah mereka (dukun Karo) tugasnya adalah menyembuhkan dan memberikan obat atas penyakit orang lain?

Sebutlah pengasuh begu latlat (roh jahat, roh yang menjadikan penyakit atas orang) sebagai perbegu, bukan saya, anda dan yang lain yang hanya tahu bahwa aku, kita, masing-masing memiliki begu jabu.

Itu menurutku. Jika ada perbedaan dengan pendapat umum, mohon masukannya.
sumber:sorasirulo

This entry was posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kab. Karo, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *