KISAH BUS SINABUNG JAYA, DULU DAN KINI – (1)

Sudah tahu dengan bus Sinabung Jaya? PO. Sinabung Jaya adalah nama dari perusahaan otobus yang melayani trayek “Medan – Tanah Karo” dan beberapa daerah lainnya di Provinsi Sumatera Utara. Sekilas, jelas akan terlihat biasa saja. Seperti saat kita menggunakan jasa angkutan umum lainnya, tentu tak akan banyak pertanyaan tentang angkutan yang kita tumpangi. Namun, ada sesuatu yang khusus pada Sinabung Jaya. Ternyata, perusahaan otobus Sinabung Jaya memiliki kisah yang panjang dan mengesankan. Berikut rangkuman kisah Sinabung Jaya yang Gobatak sunting dari sinabungjaya.com. ( Gobatak & Sarudung.blogspot)

Admin :

Admin akan menyajikan secara bertahap dan lengkap serta didukung dengan foto dokumentasi keluarga dan lainnya. Semoga sajian ini bermanfaat bagi generasi muda walau apapun profesi yang digeluti serta tingkap pendidikan yang terendah sekalipun dimiliki asal ada kemauan, disiplin, mau bekerja keras dan pantang putus asa, berhemat dan punya cita-cita akan berhasil dikemudian hari menjadi salah satu orang yang sukses dalam mencapai cita-citanya., semoga terima kasih salam sinabung jaya & Taneh Karo Simalem.

Begini kisahnya :

Perusahaan Otobus PO. Sinabung Jaya yang beralamat di Jl. Veteran Gang Usaha Tani, Berastagi, Kabupaten Tanah Karo Provinsi Sumatera Utara mulai dirintis oleh Reti Sembiring Gurukinayan yang dilahirkan pada tahun 1904 di kampung Gurukinayan yang letaknya persis di bawah Gunung Sinabung, kecamatan Payung, Kabupaten Tanah Karo.  Mempersunting seorang gadis bernama Releng br Sitepu anak saudara dekat dari ibunya yang berasal dari kampung Berastepu dan dikaruniai 10 (sepuluh)  anak yang terdiri dari 7 (tujuh) anak pria dan 3 (tiga) anak perempuan.

Profil Sjaya-Ayahanda Reti dan Ibu Releng

Foto Alm.Ayahanda  Reti Sembiring Gurukinayan dan istrinya Almh.Ibunda  Releng Bru Sitepu Tahun 1961 pada saat mendirikan perusahaan otobus PO. Sinabung Jaya tanggal 1 April 1961

Reti Sembiring Gurukinayan adalah seorang anak sulung dari keluarga petani yang ayahnya bernama Ngupahi Sembiring Gurukinayan yang beristrikan Peraten br Sitepu yang kebetulan juga berasal dari kampung Berastepu yang lokasinya bertetangga dengan kampung Gurukinayan, yang dikarunia 3 (tiga) orang anak yaitu Reti  Sembiring Gurukinayan, Bantamuli br Sembiring Gurukinayan dan Rekat Sembiring Guruki-nayan.

Profil Sjaya-nini bulang dan nini karo Foto kedua orang tua Almarhum Reti Sembiring Gurukinayan tahun 1930. Ngupahi Sembiring Gurukinayan dan istrinya Peraten Bru Sitepu

Dibesarkan dan dididik di keluarga petani, bukan berarti Reti Sembiring Gurukinayan ingin menjadi petani walaupun tanah ladang dan sawah yang akan diwariskan oleh ayahnya kelak cukup untuk menghidupi keluarganya di kemudian hari, beliau mempunya cita-cita lain untuk masa depannya. Walaupun tidak pernah mengikuti pendidikan formal di bangku pendidikan sekolah rakyat (sekolah dasar) atas kemauan keras untuk mewujudkan cita-citanya secara otodidak akhirnya dimasa remajanya dapat membaca, menulis dan berhitung.  Profil Sjaya-gerbang desa gurki dan gunung sinabung Foto Gunung Sinabung yang dilihat dari pintu masuk kampung Gurukinayan yang terletak dibawah gunung tersebut  di abadikan  pada tanggal 11 Juni 2006 oleh Kartika Sari (Tika) Bru Purba, cucu paling bungsu dari anak alm. Reti Sembiring Gurukinayan, Nurain Bru Sembiring Gurukinayan.

Dalam masa pertumbuhan remajanya beliau ketika berumur 11 tahun telah meninggalkan kampung Gurukinayan menjadi kernek bus di kampung Batukarang, karena tokehnya atau pemilik bus bernama Atol Bangun berdomisili di kampung tersebut. Reti Sembiring Gurkinayan mempunyai cita- cita agar dikemudian hari beliau ingin memiliki armada bus walaupun pada saat itu hanyalah sebagai kernek bus ban mati / roda mati diawal tahun 1915. Beliau sadar bahwa untuk dapat memiliki armada bus sendiri tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan panjang serta harus memiliki tekad yang kuat, mau bekerja keras, disiplin dan juga hemat. Pada waktu itu tidak semua yang menjadi kernek bus/ truk otomatis dikemudian hari akan  dapat  menjadi  seorang  supir.  Peningkatan kariernya  tidak  akan pernah tercapai apabila tidak dapat mengambil hati supirnya yang mempunyai otoritas cukup besar untuk menentukan siapa yang layak sebagai kerneknya dalam mengoperasikan bus / truk  yang   dipercayakan oleh pemiliknya (majikannya) Kalau  sang  kernek  tidak  rajin  dan  tekun  serta disiplin dan gigih maka kemungkinan besar sang kernek dapat diberhentikan oleh supirnya dan kedudukannya akan digantikan oleh orang lain yang menurut sang supir lebih baik atau selamanya hanyalah sebagai kernet karena sang supir tidak pernah memberi kesempatan baginya untuk belajar mengemudi. Profil Sjaya-Mobil-Ford tahun 1915 menggunakan ban mati

Foto : Mobil-Ford tahun 1915 menggunakan ban mati. (ilustrasi)

Mengingat pada waktu itu, Reti Sembiring Gurukinayan yang mempunyai cita-cita yang tinggi bagi dirinya dan untuk masa depannya serta keluarganya dikemudian hari, beliau berusaha menjadi kernek yang gigih, rajin dan disiplin dan  disayangi oleh supirnya serta mempunyai rasa memiliki. Karena khawatir suatu saat kemungkinnan akan diberhentikan oleh sang supir bila tidak rajin dan disiplin maka dalam melaksanakan tugasnya sebagai kernek bus beliau bekerja keras agar penghasilan dari setoran bus yang mereka operasikan bersama supirnya minimal dapat menghasilkan setoran yang layak dan wajar kepada pemilik bus. Akan tetapi tidak hanya masalah setoran yang jadi patokan bagi dirinya dalam melaksanakan pekerjaannya, tapi juga masalah perawatan bus pun menjadi perhatian utamanya, sehingga beliau juga berupaya untuk mengetahui seluk beluk mesin bus termasuk membersihkan bus di poolnya pada malam hari apabila selesai operasi pada pagi dan siang hari. Pada saat itu untuk dapat menjadi supir tidaklah semudah pada saat ini, pekerjaan sebagai supir sangat didambakan oleh banyak orang bagi mereka yang tidak mau melanjutkan sekolahnya ketingkat yang lebih tinggi, apalagi bagi seorang pemuda bernama Reti Sembiring Gurukinayan yang pada awalnya adalah seorang yang buta aksara sehingga tidak ada pilihan lain selain menjadi kernek dulu baru menjadi supir kemudian memiliki armada bus sendiri, cukup sederhana cita-citanya, sedangkan pekerjaan sebagai petani di kampung tidak ada dalam benaknya. Disamping itu pekerjaan sebagai supir sangat dihormati oleh masyarakat didaerah kelahirannya, dan tentunya juga menjadi idaman oleh para gadis untuk dapat dipersunting menjadi istri seorang supir. Didalam pikirannya, hanya  dengan jalan yang sedang dia tekuni inilah satu-satunya jalan bagi dirinya untuk mencapai masa depan yang lebih baik dikemudian hari. Apalagi beliau anak tertua dari 3 (tiga) bersaudara, maka seyogyanya dapat memberikan contoh atau panutan bagi saudara lainnya, hal ini berlaku umum di masyarakat Karo. Ada kepercayaan masyarakat Karo, apabila anak tertua berhasil atau sukses / memiliki pendidikan tertinggi maka dengan sendirinya adik-adiknya akan mengikutinya jejaknya, orang yang sukses didalam keluarga akan dengan sendirinya memiliki wibawa dan jadi panutan dibandingkan dengan yang tidak berhasil, terutama dihadapan saudaranya atau adik-adiknya. Profil Sjaya-Ayahanda Rekat dan Ibu Goto

Foto Alm. Ayahanda Rekat  Sembiring Gurukinayan (adik kandung Alm. Reti Sembiring Gurukinayan) bersama Almh Ibunda  Goto  Bru Sitepu.

Mengingat begitu tingginya cita-cita yang sebenarnya mungkin cukup sederhana bagi sebagian orang, apalagi tidak terlalu sulit untuk mencapainya, karena hanya dengan bermodalkan mau bekerja keras, tekun, disiplin dan mau berhemat serta mempunyai rasa memiliki maka kemungkinan besar akan dapat berhasil. Beliau sadar bahwa orang yang awalnya buta aksara maka beliau tidak mengimpikan cita-cita yang muluk-muluk, hanya satu keinginannya bahwa pada suatu saat dapat memiliki bus sendiri yang akan dia kemudikan sendiri dan dirawat sendiri agar biaya perawatannya akan semakin ringan. Oleh sebab itu, pada pada malam harinya setelah selesai membersihan bus yang menjadi tanggung jawabnya sehari-hari , beliau juga mencuci tidak hanya pakaiannya sendiri akan tetapi juga pakaian supirnya, walaupun    tidak pernah disuruh oleh supirnya yang memang bukan menjadi tanggung jawabnya sebagai kernek bus. Demikian juga diwaktu senggang beliau tidak lupa untuk belajar membaca, menulis dan berhitung secara otodidak sehingga akhirnya berhasil. Beliau tidak pernah mengikuti pendidikan formal karena situasi dan kondisi keluarga pada waktu itu tidak memungkinkan untuk mengikuti pendidikan formal dijaman penjajahan, apalagi sebagai anak tertua semasa kecilnya beliau juga harus ikut menggendong dan merawat adik-adiknya serta membantu ibunya di ladang. Profil Sjaya- bus roda mati tahun 1930-1

Foto bus roda mati tahun 1930 yang pada waktu itu lebih tepat disebut oplet atau minbus karena daya angkuta penumpang tidak lebih dari 12 (dua belas) penumpang dengan posisi menyamping. Armada bus “ATOL” seperti inilah pada waktu itu dimiliki Alm. Bapak  Atol Bangun

Semasa hidupnya, untuk menandatangangi dokumen yang berhubungan usahanya , tanda tangannya cukup sederhana dengan menulis nama awalnya sendiri. Melihat kegigihannya dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari dan disenangi supirnya, maka dalam waktu relatif tidak terlalu lama, cita-citanya tahap  pertama  dapat  dicapainya. Beliau  diberi   kesempatan   oleh supirnya untuk belajar menyetir bus pada saat selesai operasi atau dalam perjalanan pulang ke pool di kampung Batukarang. Tidak hanya itu, beliau juga dibimbing supirnya secara terus menerus agar dapat mengetahui seluk beluk mesin maupun system elektrik serta cara perbaikannya.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, seorang supir haruslah orang yang paling tahu seluk beluk teknis mesin serta elektriknya, hal ini memang harus menjadi persayaratan utama karena apabila terjadi  masalah atau kerusakan di tengah jalan maka sang supirlah yang  harus bisa memperbaiki sendiri bus yang menjadi tanggung jawabnya dan tindak mungkin mendapat bantuan dengan segera apabila terjadi kerusakan di tengah perjalanan. Apalagi kondisi alamnya pada waktu itu antar  kampung  atau kota lokasi cukup jauh dan harus melewati hutan atau sawah/ ladang penduduk setempat yang jarang dilewati kenderaan lain yang jumlahnya didaerah tersebut masih dalam hitungan jari. Profil Sjaya-bus atol 1931

Armada bus PO. ATOL di Dataran Tinggi Karo Tahun 1930 di Kabanjahe yang dimiliki oleh Bapak Atol Bangun yang berasal dari desa Batukarang, sekarang di Kabupaten Karo Sumut dimana Bapak Reti Sembiring Gurukinayan pernah menjadi kernek dan pengemudi Bus Atol tersebut

Setelah cukup lama menjadi kernek bus, pada tahun 1930 Reti Sembiring Gurukinayan meningkat statusnya dari kernek menjadi supir bus ban mati yang selama ini menjadi cita-cita yang cukup lama dipendamnya. Beliau mengoperasikan bus ban mati bernama “ATOL” yang pemiliknya bernama Atol Bangun yang berasal dari Batukarang. Beliau cukup lama bekerja pada majikannya tersebut sehingga hubungan antara beliau dengan bapak Atol Bangun bukan lagi seperti hubungan kerja antara majikan dan karyawannya, akan tapi menjadi hubungan keluarga yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dikemudian hari, sewaktu beliau pindah ke Berastagi pada tahun 1948 dan setahun kemudian menyusul istri dan anak-anaknya, bapak Atol Bangun sering berkunjung ke rumah beliau di Berastagi, hubungan kekeluargaan ini tetap berlangsung walaupun bapak Atol Bangun bukan lagi majikan beliau.    Profil Sjaya-bus atol 1931- Atol Bangun dan keluarga

Bapak Atol Bangun bersama keluarga dan karyawannya foto bersama didepan Kantor PO. ATOL tahun 1930 di Kabanjahe, sekarang ibu kota Kabupaten Karo Sumut.

Beliau tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dicapainya, karena cita-cita awal yang paling tinggi bagi ukuran beliau pada waktu itu adalah, pada suatu saat beliau bercita-cita memiliki armada bus sendiri. Oleh sebab itu beliau sadar bahwa pekerjaan sebagai kernek kemudian menjadi supir hanyalah jalan untuk meraih cita-citanya tersebut. Selama menjadi kernek maupun supir bus, beliau bekerja keras dan tidak mengenal lelah, disiplin, hemat agar pada suatu saat dapat mewujudkan cita-citanya tersebut, uang yang sudah dikumpulkan dari hari kehari setelah dipergunakan sebagian untuk keperluannya, kemudian disimpan dibawah kasur. Karena kegigihannya selama bekerja pada majikannya tersebut di atas, beliau tidak hanya disayangi majikannya tapi juga disegani oleh kerneknya, hal ini dapat dibuktikan dikemudian hari, dimana setelah beliau  memiliki bus sendiri sampai memiliki perusahaan otobus PO. Sinabung Jaya  hubungan silaturahmi antar dia dengan mantan supirnya, maupun kernek dapat terpelihara sepanjang hidupnya. Malah setelah beliau meninggal dunia, banyak mantan supirnya maupun kerneknya tetap membicarakan dan mengenang beliau , walaupun dulu mereka sering ditegor, malah ada yang pernah dikejar-kejar dengan membawa martil karena kesalahan fatal yang mereka buat sehingga mesin busnya rusak antara lain lupa mengisi air radiator yang seharusnys setiap sampai di stasiun pemberhentian terakhir harus di periksa ulang sebelum berangkat lagi ke stasiun awalnya. Walapun sering ditegor atau dimarahi mereka tidak pernah sakit hati karena apa yang dilakukan beliau dapat mereka maklumi atau pada tempatnya, dan semua itu tujuannya adalah   untuk   mendidik      mereka supaya menjadi pintar atau menguasai mesin dan elektri bus yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sering mereka ceritakan kepada anak-anak beliau termasuk kami yang pada waktu PO. Sinabung Jaya didirikan pada tanggal 1 April tahun 1961 sudah berumur 10 tahun.

Setelah karier Reti Sembiring Gurukinayan meningkat yang tadinya hanyalah sebagai kernek kemudian menjadi seorang supir yang disenangi oleh majikannyanya, barulah beliau punya cita-cita berikutnya yaitu mempunyai istri dengan  pemikiran  sudah   dapat   memberikan  nafkah kepada istri maupun anak-anaknya di kemudian hari. Beliau mempersun-ting seorang istri bernama Releng br Sitepu dari keluarga ibunya di Berastepu pada tahun 1930 dalam usianya  yang  ke  duapuluh enam tahun, sehingga hubungan kekeluargaan semakin erat persaudaraannya. Beliau tinggal bersama istrinya di rumah yang cukup sederhana yang baru dibangunnya di ladang Tambak Rahu yang berlo -kasi dipinggir kampung Gurukinayan kearah gunung Sinabung, hasil dari jerih payahnya selama menjadi kernek dan supir. Profil Sjaya-rumah sederhana tambak rahu gurky

Foto rumah sederhana yang dibangun oleh alm. Reti Sembiring Gurukinayan yang berlokasi di ladang Tambak Rahu, kampung Gurukinayan dan sebagai tempat tinggal pertama kali sewaktu Almarhum baru membina rumah tangganya dengan istrinya almarhum Releng Bru Sitepu yang sampai saaat ini tetap berdiri dengan kokoh tanpa pernah dilakukan perbaikan yang berarti, foto diabadikan pada  tanggal 11 Juni 2006 oleh Kartika Sari Bru Purba, cucunya  paling bungsu.

Pada tahun 1931 lahir lah anak pertama yang diberi nama Kueteh Sembiring Gurukinayan, dan dua tahun kemudian lahir seorang anak perempuan, akan tapi beberapa hari kemudian dipanggil Allah Bapa yang maha kuasa. Karena pada waktu itu masyarakat Karo pada umumnya masih penganut animisme dan karena umurnya baru beberapa hari maka jasadnya harus dibakar dan abunya dilarungkan di sungai Parik Lau dekat ladang keluarga Kembilik kampung Gurukinayan. Profil Sjaya-kueteh sembiring

Foto : Drs.  Kueteh Sembiring Gurukinayan, Penggagas  Merk “ Sinabung Jaya” anak sulung Bapak Reti Sembiring Gurukinayan/ Releng Bru Sitepu sehingga beliau lebih di kenal dengan panggilan nama “Pa Kueteh” (Bapaknya Kueteh) dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Batak Karo.

Selanjutnya, pada tahun 1936 lahir anak yang ketiga laki-laki diberi nama Dors Erti Sembiring Gurukinayan   sampai  dengan   anak  yang   kesepuluh  (terakhir)  pada  tahun  1956  yang  bernama Resmond Jaya Sembiring Gurukinayan, sama dengan kepercayaan daerah lainnya, banyak anak akan membawa banyak rejeki. (Bersambung)

 

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Penting, Informasi Untuk Kab. Karo, Ragam Cerita Operasional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *