WAMENTAN TANTANG PETANI HASILKAN PRODUK BERKUALITAS

MedanBisnis – Medan. Menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN, yang mulai diberlakukan akhir tahun 2015, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Rusman Heriawan menantang petani untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berkualitas. Jika tidak, hasil pertanian dalam negeri dikhawatirkan tidak mampu bersaing.
“Desember 2015, bangsa kita sudah memasuki AEC. Dan, 10 negara yang tergabung di dalamnya sudah membentuk pasar tunggal. Jika sudah seperti itu, tidak ada hambatan pasar lagi, kita tidak boleh lagi menolak produk luar yang masuk kedalam negeri, begitu juga sebaliknya,” kata Wamentan saat mengunjungi petani di Desa Namo Mbelin, Kecamatan Namorambe, Deli Serdang, belum lama ini.

Untuk itu, kata Rusman, petani di Indonesia harus lebih total dan fokus dalam mengolah pertaniannya. Sehingga dapat menghasilkan produk pertanian yang sesuai dengan permintaan pasar. Di samping itu, paradigma yang mengutamakan kuantitas hasil dari pada kualitas juga harus digeser.

“Sudah saatnya petani kita lebih fokus pada kualitas dari pada kuantitas. Kuantitas belum tentu menjamin kualitas serta keamanan produk. Selain itu, petani harus lebih banyak meluangkan waktu untuk tanaman pertaniannya, kalau perlu datang setiap hari, sehingga pemeliharaan dapat lebih maksimal,” jelasnya.

Di samping itu, gaya pertanian yang konvensional juga harus ditinggalkan agar generasi muda dapat melirik profesi petani sebagai mata pencahariannya.

Karena itu, Rusman berharap, dalam tempo 5 tahun mendatang, petani di Indonesia tidak lagi “menyentuh tanah” dalam mengolah lahan pertaniannya melainkan memanfaatkan kecanggihan teknologi alat-alat pertanian.

“Selama ini, generasi muda kita tidak ada yang mau menjadi petani karena identik dengan kerja keras. Selain itu, taraf hidup petani di Indonesia juga tidak menunjukkan tren positif,” terangnya.

Wamentan juga berkesempatan untuk memanen terung pondoh atau terung kari, milik salah petani bernama Ipin Barus. Di situ, Rusman menilai, petani di Desa Namo Mbelin termasuk petani yang cerdas dan bisa membaca situasi.

Rusman juga berharap, hasil pertanian di Desa Namo Mbelin bisa menjadi ikon pertanian di Deliserdang dan khususnya Sumatera Utara.

“Program penting dari pemerintah ada 2, yaitu ketahanan pangan dan energi. Namun, yang utama itu ketahanan pangan, karena bangsa yang maju ditandai dengan tidak adanya kelaparan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pertanian Sumut, M Roem mengungkapkan, Kecamatan Namorambe salah satu daerah pemasok sayuran dataran rendah terbesar ke Kota Medan. Karena itu, kondisi tersebut harus dipertahankan, mengingat pasokan sayuran di Sumut yang berasal dari Kabupaten Karo saat ini tidak stabil karena pengaruh erupsi Gunung Sinabung. (rozie winata)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *