JOKOWI EFFECT DIREDAM PRINCESS EFFECT

MedanBisnis – Jakarta. Profesor Riset Herb Feith untuk Studi Indonesia dari Universitas Monash, Australia, Greg Barton, meminta Megawati untuk lebih menarik diri dan memberikan ruang lebih besar bagi Joko Widodo (Jokowi) untuk tampil di depan publik sebagai calon presiden.
Menurut Greg, kurang maksimalnya perolehan suara PDIP menunjukkan kinerja mesin partai yang tidak optimal. Ia mengatakan, “Jokowi Effect” tertutupi “Princess Effect” berupa pencitraan Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani dalam sejumlah kampanye publik.

Seharusnya, kata Greg, keberadaan Jokowi bisa menjadi momentum untuk melejitkan perolehan suara bagi PDI-P. Namun, yang terjadi kemudian, momentum tersebut disia-siakan dengan membuat pengumuman pencapresan Jokowi yang terlambat hingga tidak memanfaatkan figurnya dalam iklan kampanye, justru Megawati Soekarnoputri dan anaknya, Puan Maharani.

“Peluang dari “Jokowi Effect” justru diredam oleh “Princess Effect”, di mana masyarakat tidak terlalu bersimpati kepada Ibu Mega,” ujarnya saat berkunjung ke kantor redaksi harian Kompas, Jakarta, Kamis (10/4).

Kesempatan berharga tersebut, ujarnya, telah disia-siakan PDI- karena pada waktu yang bersamaan pemilih Partai Demokrat turun drastis dan akhirnya memilih untuk kembali ke partai semula atau justru memilih partai baru seperti Partai Nasdem. Dalam Pemilu 2014, perolehan suara PDIP naik menjadi 19,17% dari sebelumnya 14,01%.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bakti menilai internal PDIP tidak sungguh-sungguh dalam mendukung Jokowi sebagai capres. Hal itu yang membuat PDIP tidak mendapatkan suara maksimal. “Saya bilang, saingan PDIP bukan partai lain, tapi di internal partai mereka sendiri,” kata Ikrar.

Ikrar menilai, penetapan Jokowi sebagai capres terlambat dilakukan oleh PDIP. Akibatnya, efek Jokowi tidak terlalu signifikan terhadap perolehan suara PDIP. “Musuh besar PDI-P bukan Prabowo dan Gerindra, tapi PDI-P sendiri. Contohnya, ada tarik-menarik sehingga deklarasi Jokowi baru dilakukan hampir tiga minggu sebelum pileg diadakan,” ujar Ikrar.

Sebelum deklarasi Jokowi, menurutnya, sosok yang selalu ditonjolkan oleh internal PDI-P adalah sang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan putrinya, Puan Maharani. Akibatnya, menurut dia, banyak masyarakat masih belum menyadari kalau Jokowi merupakan capres dari PDIP.

“Kampanye juga tidak gencar. Hanya melalui siaran iklan di televisi orang bisa tahu siapa didukung oleh siapa. Kampanye yang mengusung Jokowi sebagai capres PDI-P cuma dua hari dilakukan dan itu pun saya perhatikan hanya lewat radio,” jelas dia.

Pertarungan Caleg
Jokowi menegaksan, Pileg bukan pertarungan dirinya sebagai capres, melainkan pertarungan para calon legislatif.

“Ini realitas di lapangan. Dalam pileg, yang bertarung sebenarnya adalah caleg, yang jumlahnya enam ribuan itu. Mereka punya ruang-ruang kecil yang dikuasai, TPS, kampung atau desa. Itu lingkup pertarungan mereka,” ujarnya.

Ia menolak jika dianggap bahwa caleg PDIP gagal merebut suara akar rumput. Ia mengatakan, meski meleset dari target suara sebesar 27%, PDI-P tetap unggul suara sementara berdasarkan quick count lembaga survei.

Jokowi berharap agar partainya dapat memperbaiki cara pendekatan kepada pemilih. Ia mengibaratkan marketing partai politiknya seperti menjalankan roda perusahaan swasta.

“Kalau lewat udara, iklan. Kita kan hanya tiga hari (menayangkan iklan di televisi), yang lain kan sudah 5 atau 10 tahun lalu. Kedua, di darat, sales-nya. Yang jadi sales, ya calegnya sendiri. Artinya caleg harus dapat menjual produknya. Produknya macam-macam, dirinya sendiri, programnya, atau capresnya,” kata Jokowi.
Untuk Pilpres nanti, Jokowi punya optimistis yang berbeda dengan Pileg. “Kalau pilpres nggak pakai effect, Jokowi, titik,” tandasnya. (kcm)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *