PENURUNAN STATUS KEGIATAN G. SINABUNG DARI AWAS (LEVEL IV) MENJADI SIAGA (LEVEL III), 8 APRIL 2014

Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo,  Provinsi Sumatera Utara.

I. Pendahuluan

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU, 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013 sehingga status G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB.

II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos Pemantauan Gunungapi (PGA) Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak lk. 3 minggu terakhir (16 Maret – 8 April 2014 hingga pkl 12:00 WIB) adalah sebagai berikut :

1. Tanggal 16-22 Maret 2014, cuaca cerah – mendung, hujan gerimis-deras pada 16, 17,18 dan 20 Maret masing-masing, pkl 13.32-15.25 WIB, pkl (14:00-14:15;18:16-18:30 WIB, pkl 13:46-14:00 WIB dan pkl (14:35-14:58;20:17-21:40) WIB.  Dalam awal-pertengahan periode angin tenang – sedang ke arah barat-baratdaya, dan berubah ke arah timur. Suhu udara 16 – 25oC. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 50 – 1000 m, awan panas pada 17 Maret sejauh 3000 m ke arah selatan, guguran lava dari puncak sejauh 500-2500 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 250 – 1500 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 100-500 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100-500 m ke arah tenggara.

2. Tanggal 23-29 Maret 2014, cuaca cerah – mendung, hujan gerimis-sedang pada 29 Maret pkl 09.30-10.35 WIB, angin tenang – sedang ke arah barat, suhu udara 15 – 27oC. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 700 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500-2000 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 500 – 1000 m ke arah selatan, guguran dari tengah lidah lava (sisi timur) sejauh 100-500 m ke arah tenggara,guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 150-300 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 300 m ke arah tenggara.

3. Tanggal  30 Maret – 5 April 2014, cuaca cerah – mendung. Hujan gerimis-deras pada 31 Maret pkl 12.20-13.20 WIB, hujan gerimis pada 1 dan 2 April (masing-masing pada pkl 16.30-17.25 WIB dan 18:50-19:30 WIB), hujan gerimis-sedang pada 4 April pkl 17:35-18:00 WIB, dan hujan gerimis-deras pada 5 April (pkl 10:11-12:00;17:25-17:40 WIB). Dalam periode ini angin tenang – sedang berubah arah hampir setiap hari yaitu mulai dari ke arah barat, timur, baratlaut-baratdaya, dan kembali ke arah barat. Suhu udara 15 – 26oC. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 1200 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 400 – 1500 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 100-200 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100-300 m ke arah tenggara.

4. Tanggal 6 – 8 April 2014 (hingga pukul 12:00 WIB), cuaca cerah – mendung. Angin tenang – perlahan ke arah selatan dan baratdaya. Suhu udara 17 – 25oC. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 1000 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 300 – 1000 m ke arah selatan, lava dari tengah lidah lava (sisi timur) sejauh 500 m ke arah tenggara, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 100-300 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100-200 m ke arah tenggara.

2.2. KEGEMPAAN

Hasil rekaman kegempaan sejak lk. 3 minggu terakhir (16 Maret – 8 April 2014 hingga pukul 12:00 WIB) adalah sebagai berikut:

1. Tanggal 16-22 Maret 2014: 1645 kali Gempa Guguran, 13 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 5 – 55 mm (rata-rata dominan 20 mm).

2. Tanggal 23-29 Maret 2014: 1461 kali Gempa Guguran, 14 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 1 (satu) kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2 – 50 mm (rata-rata dominan 14 mm).

3. Tanggal 30 Maret- 5 April 2014: 1188 kali Gempa Guguran, 20 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) terasa MMI II, dan 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2 – 45 mm (rata-rata dominan 21 mm).

4. Tanggal 6 – 8 April 2014 (hingga pkl 12:00 WIB) : 313 kali Gempa Guguran, 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2 – 43 mm (rata-rata dominan 18 mm).

Selama periode 16 Maret – 8 April 2014 gempa vulkanik yang terekam adalah Gempa Guguran, Tremor, Gempa Vulkanik Dalam (VA), Gempa Tektonik Lokal (TL) dan Gempa Tektonik Jauh (TJ) (Lampiran 2).

Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi 2–55 mm (rata-rata dominan 14-21 mm). Gempa Vulkanik Dalam (VA), mengindikasikan masih adanya tekanan yang relatif kecil akibat intrusi magma, dengan total terekam 46 kejadian atau rata-rata 2 kejadian/hari. Gempa Guguran, yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava, cenderung menurun. Dalam lk. 21 hari terakhir ini terekam 4294 kali Gempa Guguran atau sekitar 204 kejadian Gempa Guguran/hari.

Sejak tanggal 16 Maret hingga 8 April 2014 Gempa Erupsi explosif tidak pernah terekam.

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa yang mencapai puncaknya pada 11 dan 16 Januari 2014. Pada periode waktu tersebut selain nilai RSAM yang naik, bersamaan juga dengan kejadian awanpanas intensif. Setelah periode itu nilai RSAM menurun secara cepat begitupun dengan jumlah kejadian awanpanas. Pada periode 16 Maret – 8 April 2014 nilai RSAM menunjukkan penurunan walaupun berfluktuasi (Lampiran 3).

2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

2.3.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu : stasion Sukanalu (elevasi 1468 m, lereng timur gunung), stasion Lau Kawar (elevasi 1468 m, lereng utara gunung).

2.3.1.1 Stasion Lau Kawar

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar (dipasang tanggal 17 November 2013) memperlihatkan komponen sumbu X (tangensial) dalam periode 16 Maret – 8 April 2014 relatif stabil sedangkan sumbu Y (radial) menunjukkan pola fluktuasi (< 200 mikroradian) namun cenderung stabil, pola ini mengindikasikan kurang intensifnya pergerakan magma dari tempat yang dalam ke tempat yang lebih dangkal (Lampiran 4).

2.3.1.2 Stasion Sukanalu

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu (sejak 5 Januari 2014 tidak merekam karena adanya gangguan pada sistem daya dan baru merekam lagi mulai tanggal 25 Februari 2014), dalam periode 16 Maret – 8 April 2014 komponen sumbu X (tangensial) memperlihatkan pola fluktuasi dari deflasi ke inflasi (< 100 mikroradian), sedangkan komponen sumbu Y (radial) memperlihatkan pola fluktuasi dari inflasi ke deflasi (< 100 mikroradian). Pola fluktuasi inflasi-deflasi pada komponen sumbu Y sudah pernah juga terjadi sebelum periode ini, mengindikasikan adanya pergerakan magma dangkal yang relatif kurang signifikan (Lampiran 5).

2.3.2 EDM

Pengamatan deformasi dengan EDM (Electronic Distance Measurement)  dilakukan dari Desa Sukanalu (SNB 1) terhadap dua reflektor, yaitu SNB 2 (elevasi 1436 m), SNB 3 (elevasi 1626 m) (yang ada di lereng timur G. Sinabung) dan dari SNB8 (baru) (Lau Kawar) terhadap reflektor SNB9 (baru) (elevasi 2050 m, di lereng utara G. Sinabung).

Hasil pengukuran EDM periode 22 – 8 April  2014 yaitu SNB 1 ke SNB 2 dan SNB 1 ke SNB 3, dari titik ukur baru Sukanalu yang sudah dipermanenkan (yaitu sekitar 1 meter bergeser dari titik lama), menunjukkan variasi jarak miring cenderung stabil (variasi masih dalam kisaran < ~ 5 mm) (Gambar 6).

Hasil pengukuran EDM periode 02 – 8 April  2014 yaitu SNB 8 (baru) ke SNB 9 (baru) menunjukkan variasi jarak miring cenderung stabil (variasi masih dalam kisaran < ~ 5 mm) (Gambar 7).

2.4. Fluks SO2 dan Suhu  AIR PANAS

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11-18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi sedikit yaitu berkisar 1234 ton/hari – 3796 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1234 ton/hari. Pada periode 16 Maret – 2 April 2014 pengukuran fluks SO2 berkisar 444 ton/hari dan 777 ton/hari, yang mengindikasikan masih adanya suplai magma yang berubah-ubah namun relatif tidak signifikan (Lampiran 8).

Suhu mata airpanas yang diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 sampai 5 April 2014 di daerah Payung (kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung) berkisar antara 53,8 – 54,11oC, secara umum suhu mata airpanas perlahan mengalami peningkatan namun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, sementara kejadian letusan sudah tidak terjadi lagi (Lampiran 8).

III. POTENSI BAHAYA

1. Erupsi bersifat explosif masih berpotensi terjadi namun ancamannya terbatas pada radius kurang dari 3 km.
Pertumbuhan  kubah lava berpotensi  menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Kejadian guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas masih mengancam ke arah Selatan dan Tenggara sejauh 5 km.

2. Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada, walaupun sampai saat ini sudah tidak menunjukkan perkembangan.
Mengingat alterasi yang begitu kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan terbatas pada daerah sekitar lembah.

3. Potensi terjadinya  lahar  masih  tinggi  yang  berasal  dari  endapan  abu/material erupsi  dan curah  hujan  tinggi.  Lahar  berpotensi  terjadi  di  lembah-lembah  sungai yang  berhulu  di  G. Sinabung.

IV. LAIN-LAIN

Letusan disertai awan panas yang terjadi pada 1 Februari 2014 pukul 10:30 WIB, telah mengakibatkan timbulnya 17 korban jiwa: 14 korban yang meninggal dunia ditemukan di lokasi berjarak 3 km dari puncak G. Sinabung (di wilayah Desa Sukameriah), sedangkan 3 orang yang sebelumnya mengalami luka bakar telah meninggal dunia di rumah sakit, saat itu sedang berada di dalam Desa Sukameriah yang berjarak 4 km dari puncak.

V. KESIMPULAN

1. Bahaya erupsi G. Sinabung berupa pertumbuhan kubah disertai pertumbuhan lidah lava dan guguran lava pijar dari puncak, tengah dan ujung lidah lava, yang ancamannya ke arah selatan dan tenggara dalam radius <  5 km dari puncak.

2. Aktivitas vulkanik G. Sinabung menunjukkan penurunan (walaupun berfluktuasi kecil), berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, deformasi dan fluks gas SO2.

3. Berdasarkan data dan analisis data pengamatan di atas maka status kegiatan G. Sinabung diturunkan dari status AWAS (level IV) menjadi SIAGA (level III) terhitung sejak 8 April 2014 pukul 17:00 WIB.

4. Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.

5. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam status SIAGA, maka kami rekomendasikan:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius 3 km, dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 km untuk arah selatan dan tenggara G. Sinabung yang merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.

2. Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar tetap diungsikan.

3. Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung yang berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Guru Kinayan); Kecamatan Naman (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar tetap diungsikan.

4. Masyarakat yang tinggal di 4 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi); Kecamatan Naman Teran (Desa Sukanalu, Desa Desa Sigarang-garang, Desa Kutarakyat, Desa Kutagugung dan Dusun Lau Kawar), dan Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dapat kembali ke rumah masing-masing setelah membersihkan atap yang terkena abu vulkanik tebal/mengganti atap, serta melakukan kegiatan seperti biasa.

5. Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar menyiapkan/menambahkan jalur evakuasi dari Desa Kuta Tengah yang jalurnya menjauhi daerah bahaya, sebelum masyarakat di Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dikembalikan dari tempat pengungsian.

6. Sehubungan dengan kejadian curah hujan yang masih tinngi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

7. Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

8. Lokasi pemukiman yang berada di bukaan kawah sangat berbahaya jika kelak dikemudian hari terjadi erupsi dan atau banjir lahar, oleh karena itu :

– Jangka Pendek : Merelokasi pemukiman dan aktivitas penduduk Desa Sukameriah, Desa Bekerah dan Desa Simacem ke lokasi yang aman.

– Jangka Panjang : Merelokasi pemukiman yang terletak di dalam radius 5 km (namun terletak di bukaan kawah, yaitu Desa Guru Kinayan, Desa Berastepu, Desa Gamber, dan Dusun Sibintun) ke lokasi yang aman.

– Pihak Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

– BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo tetap Siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu G. Sinabung meningkat kembali dari status SIAGA menjadi AWAS.

– Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

– Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.
sumber : esdm

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *