EVALUASI STATUS KEGIATAN AWAS (LEVEL IV) G. SINABUNG TANGGAL 22 SAMPAI DENGAN 29 MARET 2014

Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo,  Provinsi Sumatera Utara.

I. Pendahuluan

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU, 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013 sehingga status G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB.

II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak tanggal 22 Maret 2014 adalah sebagai berikut :

1. Tanggal 22 Maret 2014, cuaca cerah, berawan, hingga mendung, angin tenang-sedang ke arah barat dan ke timur, suhu udara 19 – 22oC. Gunung tampak jelas-tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 1000 m, guguran lava dari puncak sejauh 500 – 1000 m ke arah selatan, guguran dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 500 – 1200 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 100 – 200 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100 – 200 m ke arah tenggara.\

2. Tanggal 23 Maret 2014, cuaca cerah – berawan, angin tenang-sedang ke arah barat, suhu udara 16-26 oC. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 300 – 500 m condong ke arah barat daya, guguran lava dari puncak sejauh 1500-2000 m ke arah selatan dan tenggara, guguran dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 500 – 1000 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 200 – 500 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 150 – 200 m ke arah tenggara.

3. Tanggal 24 Maret 2014, cuaca cerah – berawan, angin tenang – sedang ke arah barat, suhu udara 16-27 oC. Gunung jelas – tertutup kabut. Asap putih tebal tinggi 150 – 500 m, guguran dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 500 – 1000 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 200 – 300 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100 – 300 m ke arah tenggara.

4. Tanggal 25 Maret 2014, cuaca cerah – berawan, angin tenang – sedang ke arah barat, suhu udara 16-26 oC. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 500 – 700 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500 m ke arah selatan dan tenggara, guguran dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 500 – 1000 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 200 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 200 m ke arah tenggara.

5. Tanggal 26 Maret 2014, cuaca cerah – mendung, angin tenang – sedang ke arah barat, suhu udara 16 – 26oC. Gunung tampak jelas-tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 500 m, guguran dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 1000 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi timur) sejauh 300 m ke arah tenggara, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 150 – 300 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100 – 300 m ke arah tenggara.

6. Tanggal 27 Maret 2014, Cuaca cerah-mendung, angin tenang-sedang ke arah barat, suhu udara 15-25 oC. Gunung tampak jelas-tertutup kabut. Teramati asap putih tebal tinggi 100-200 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500 m ke arah selatan, guguran dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 1000 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100-500 m ke arah Tenggara.

7. Tanggal 28 Maret 2014, cuaca cerah, berawan hingga mendung, angin tenang-sedang ke arah barat, suhu udara 15-24 oC. Gunung tampak jelas-tertutup kabut. Teramati : asap putih tebal tinggi 200 m, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 200 – 300 m ke arah tenggara.

8. Tanggal 29 Maret 2014 (hingga pukul 12:00 WIB), cuaca cerah, berawan hingga-mendung, angin tenang, suhu udara 18-22 oC. Gunung jelas-tertutup kabut, asap putih tebal tinggi 100-600 meter. Hujan gerimis-sedang dari pukul 09.30-10.35. Teramati : guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 200 m ke arah selatan. guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 150 – 200 m ke arah tenggara.

2.2. KEGEMPAAN

Hasil rekaman kegempaan sejak tanggal 22 Maret 2014 adalah sebagai berikut:

1. Tanggal 22 Maret 2014: 219 kali Gempa Guguran, 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 5 – 40 mm (dominan 18 mm).

2. Tanggal 23 Maret 2014: 218 kali Gempa Guguran, 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2 – 50 mm (dominan 20 mm).

3. Tanggal 24 Maret 2014: 223 kali Gempa Guguran, 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 3 – 50 mm (dominan 15 mm).

4. Tanggal 25 Maret 2014: 236 kali Gempa Guguran, 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 3 – 40 mm (dominan 13 mm).

5. Tanggal 26 Maret 2014: 248 kali Gempa Guguran, 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 3 – 30 mm (dominan 10 mm).

6. Tanggal 27 Maret 2014: 241 kali Gempa Guguran, 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 1 (satu) kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 3-34 mm (dominan 11 mm).

7. Tanggal 28 Maret 2014: 199 kali Gempa Guguran, 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2-40 mm (dominan 18 mm).

8. Tanggal 29 Maret 2014 (hingga pukul 12:00 WIB): 96 kali Gempa Guguran, 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) .Getaran Tremor terekam  menerus dengan amplituda 3 – 32 mm (dominan 12 mm).

Selama periode 22 – 29 Maret 2014 gempa vulkanik yang terekam adalah Gempa Guguran, Tremor, Gempa Vulkanik Dalam dan Gempa Tektonik Lokal (TL) (Lampiran 2).

Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi 2–40 mm (dominan 10-20 mm). Gempa Vulkanik Dalam (VA), mengindikasikan masih adanya tekanan yang relatif kecil akibat intrusi magma, dengan total terekam 14 kejadian atau rata-rata 2 kejadian/hari. Gempa Guguran, yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava, cenderung sedikit menurun namun berfluktuasi. Dalam 7 hari terakhir ini terekam 1584 kali Gempa Guguran atau sekitar 227 kejadian Gempa Guguran/hari.

Sejak tanggal 22 Maret hingga 29 Maret 2014 Gempa Erupsi tidak pernah terekam.

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa yang mencapai puncaknya pada 11 dan 16 Januari 2014. Pada periode waktu tersebut selain nilai RSAM yang naik, bersamaan juga dengan kejadian awanpanas intensif. Setelah periode itu nilai RSAM menurun secara cepat begitupun dengan jumlah kejadian awanpanas. Pada periode 22 – 29 Maret 2014 nilai RSAM menunjukkan penurunan (Lampiran 3).

2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

2.3.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu : stasion Sukanalu (elevasi 1468 m, lereng timur gunung), stasion Lau Kawar (elevasi 1468 m, lereng utara gunung).

2.3.1.1 Stasion Lau Kawar

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar (dipasang tanggal 17 November 2013) memperlihatkan komponen sumbu X (tangensial) relatif meningkat sejak 2 Februari 2014 dan stabil sejak lebih dari 8 hari terakhir hingga saat ini. Sumbu Y (radial) sejak 8 hari terakhir diawali pola stabil namun sejak 3 hari terakhir menunjukkan pola deflasi, pola ini mengindikasikan pergerakan magma dari tempat yang dalam ke tempat yang lebih dangkal (Lampiran 4).

2.3.1.2 Stasion Sukanalu

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu (sejak 5 Januari 2014 tidak merekam karena adanya gangguan pada sistem daya dan baru merekam lagi mulai tanggal 25 Februari 2014), dalam 8 hari terakhir komponen sumbu X (tangensial) memperlihatkan pola deflasi sedangkan komponen sumbu Y (radial) memperlihatkan pola inflasi. Pola inflasi pada komponen sumbu Y mengindikasikan adanya pergerakan magma dangkal (Lampiran 5).

2.3.2 EDM

Pengamatan deformasi dengan EDM (Electronic Distance Measurement)  dilakukan dari Desa Sukanalu (SNB 1) terhadap dua reflektor, yaitu SNB 2 (elevasi 1436 m), SNB 3 (elevasi 1626 m) yang ada di lereng timur G. Sinabung (Gambar 6).

Hasil pengukuran EDM periode 22 – 28 Maret  2014 yaitu SNB 1 ke SNB 2 dan SNB 1 ke SNB 3, dari titik ukur baru Sukanalu yang sudah dipermanenkan (yaitu sekitar 1 meter bergeser dari titik lama), menunjukkan variasi jarak miring cenderung stabil (variasi masih dalam kisaran < ~ 5 mm).

2.4. Fluks SO2 dan Suhu  AIR PANAS

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11-18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi sedikit yaitu berkisar 1234 ton/hari – 3796 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1234 ton/hari. Pada periode 22 – 29 Maret 2014 pengukuran fluks SO2 hanya dilakukan pada tanggal 22 dan 29 Maret 2014 (karena faktor cuaca/kabut), yaitu masing-masing 668 ton/hari dan 493 ton/hari, yang mengindikasikan masih adanya suplai magma (Lampiran 7).

Suhu mata airpanas yang diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 sampai 29 Maret 2014 di daerah Payung (kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung) berkisar antara 53,8 – 54,15oC, secara umum suhu mata airpanas perlahan mengalami peningkatan namun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, sementara intensitas dan frekuensi letusan mengalami penurunan (Lampiran 7).

III. POTENSI BAHAYA

1. Erupsi masih berpotensi terjadi, walaupun potensinya cenderung menurun, dan dapat menghasilkan material berukuran abu sampai lapili (berukuran 1-4 cm) yang ancamannya dapat mencapai radius 5 km. Erupsi masih berpotensi disertai awan panas yang mengarah ke Selatan dan Tenggara sejauh lk. 5 km.

2. Pertumbuhan  kubah, yang berpotensi  menimbulkan  : aliran lava dan aliran awan panas yang  mengancam  ke  arah  Selatan dan Tenggara, cenderung menurun. Namun potensi kejadian guguran lava pijar akibat ketidakstabilan dari kubah lava dan aliran lava masih cukup tinggi.

3. Potensi  longsor  di lereng  Utara  (Lau  Kawar)  G. Sinabung  masih  tinggi. Pemicunya karena terdapat lubang  tembusan  fumarola  baru  yang  diikuti beberapa  kali  kejadian  longsor  di  lereng utara.

4. Potensi terjadinya  lahar  masih  tinggi  yang  berasal  dari  endapan  abu/material erupsi  dan curah  hujan  tinggi.  Lahar  berpotensi  terjadi  di  lembah-lembah  sungai yang  berhulu  di  G. Sinabung.

IV. LAIN-LAIN

Letusan disertai awan panas yang terjadi pada 1 Februari 2014 pukul 10:30 WIB, telah mengakibatkan timbulnya 17 korban jiwa: 14 korban yang meninggal dunia ditemukan di lokasi berjarak 3 km dari puncak G. Sinabung (di wilayah Desa Sukameriah), sedangkan 3 orang yang sebelumnya mengalami luka bakar telah meninggal dunia di rumah sakit, saat itu sedang berada di dalam Desa Sukameriah yang berjarak 4 km dari puncak.

V. KESIMPULAN

1. Aktivitas vulkanik G. Sinabung berdasarkan pengamatan visual maupun instrumental masih relatif tinggi walaupun berfluktuasi.

2. Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung hingga tanggal 29 Maret 2014 pukul 15:00 WIB status kegiatan G.Sinabung  masih tetap Awas (Level IV).

3. Jika terjadi perubahan penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung, maka tingkat kegiatannya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya. Apabila aktivitasnya terus meningkat, maka daerah yang terdampak dapat diperluas sesuai ancamannya.

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam status AWAS, maka kami rekomendasikan:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas pada radius 5 km dari Kawah Sinabung. Masyarakat di 14 Desa dan 2 Dusun yang tersebar dalam 4 Kecamatan yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi, Desa Sukameriah, Guru Kinayan); Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber); Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem, Desa Sukanalu, Desa Kuta Tonggal, Desa Sigarang-garang, Desa Kuta Rakyat, serta Desa Kuta Gugung dan Dusun Lau Kawar) agar tetap diungsikan.

2. Masyarakat yang tinggal di luar radius 5 km dari Kawah G. Sinabung, kecuali Desa Kuta Tengah (Kecamatan Simpang Empat), dapat kembali ke tempat tinggal masing-masing dan beraktivitas di luar radius 5 km dari kawah gunung.

3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata.

4. Bagi atap rumah masyarakat yang terkena dampak dari hujan abu vulkanik tebal, agar segera membersihkan atap bangunan, untuk mencegah robohnya atap  karena beban berat.

5. Sehubungan dengan masih adanya potensi terjadinya hujan, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

6. Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.
sumber : esdm

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *