PROYEK TRANS SUMATERA PAKAI LAHAN 3 BUMN

MedanBisnis – Jakarta . Rencana pembangunan jalan tol yang membentang dari provinsi Lampung hingga Aceh atau sering dikenal tol Trans Sumatera terus bergulir. Tahap awal pembangunan tol Trans Sumatera akan difokuskan pada beberapa ruas. Salah satunya ruas yang akan dibangun adalah Medan-Binjai sepanjang 16,8 kilometer (km), di mana ruas ini merupakan bagian dari tol Trans Sumatera sepanjang 2.771 kilometer (km).
Untuk mendukung dan mempercepat pembangunan tersebut, 3 BUMN bidang perkebunan yakni PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, PTPN III, dan PTPN IV merelakan lahan perkebunannya dilewati ruas tol Trans Sumatera. Lokasi perkebunan dari 3 BUMN ini terletak di wilayah Sumatera Utara.”Pembebasan lahan PTPN di Medan area. Area PTPN II, III, IV,” kata Deputi BUMN bidang Industri Primer M. Zamkhani usai Rapim BUMN di lantai 17 Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (13/3).

Seperti diketahui, pemerintah telah menugaskan kepada BUMN karya yakni PT Hutama Karya (Persero) untuk membangun ruas tol Sumatera. Tahap awal, Hutama Karya berencana menggarap ruas Medan-Binjai, Palembang-Indralaya, Pekanbaru-Dumai, Bakauheni-Terbanggi Besar. Namun hingga kini, pembangunan belum berjalanan karena menunggu Peraturan Presiden (Perpers) penugasan.

Zamkhani mengatakan untuk proses pembebasan lahan ini, Kementerian BUMN telah berkoordinasi Kementerian Pekerjaan Umum selaku regulator jalan tol. Proses ganti rugi lahan milik PTPN tersebut, kata Zamkhani sedang berlangsung. “Itu sudah lama prosesnya. Sebagian sudah dibebaskan dan sudah diterima ganti ruginya,” terangnya.

Pada kesempatan itu Zamkhani menjelaskan, pembangunan ruas tol Trans Sumatera tahap I yang melewati lahan BUMN perkebunan ini ternyata memiliki dampak positif dan negatif. Meski belum ada kajian secara mendalam, tetapi berdasarkan pengalaman pembangunan ruas tol Cipularang yang melewati perkebunan teh milik PTPN VIII. Menurut Zamkhani, dampak positifnya adalah nilai lahan dan perekonomian yang dilewati jalan tol ikut merangkak naik.

“Positifnya perekonomian di sekitar itu dan harga tanah naik,” sebutnya.
Sedangkan dampak negatifnya adalah, potensi penurunan kualitas komoditas tanaman yang dilalui tol. Umumnya daerah tersebut ditanami perkebunan kelapa sawit.

Zamkhani menjelaskan, penurunanan kualitas tanamanan ini telah terjadi pada area perkebunan teh milik PTPN VIII.”Dampak lahan PTPN yang dilewati tol seperti di Cipularang. Di sana ada lalu lintas melalui kebun teh. Dengan adanya lalu lintas kendaraan, hamparan the terganggu produksinya dan kualitas tehnya turun karena sebagian lahannya dipotong tol,” terangnya.

Corporate Secretary PTPN II Suharto mengakui tanahnya dipakai untuk ruas tol Medan-Binjai sebagai bagian proyek Trans Sumatera. “Ruas Medan-Binjai banyak lewati perkebunan kita. Kalau Medan-Kualanamu-Tebingtinggi, lahan kita sedikit yang kena. Di sana banyak lahan PTPN III dan IV,” katanya.

Suharto menjelaskan lahan yang akan digunakan tersebut kebanyakan ditanami tanaman tebu.

“Tanaman yang kita biasa tanam adalah kelapa sawit, tembakau, karet, dan tebu. Kalau yang jalan tol Medan-Binjai kebanyakan lahan tebu,” jelasnya.

Dia belum bisa merinci berapa besar lahan yang akan diambil untuk pembangunan ruas tol Medan-Binjai. Pasalnya proses pembebasan lahan masih berjalan. “Itu ada pertemuan dengan pemda,” jelasnya.

Suharto menjelaskan, tidak ada dampak penurunan kualitas tanaman tebu jika lahannya jadi dilewati ruas tol Medan-Binjai. “Saya nilai nggak ada dampaknya. Perkebunan kita kan puluhan ribu hektare. Malah saya berpendapat, perkebunan diuntung kala tol dibangun karena nanti bisa jadi pembatas,” sebutnya.

Karena adanya pembanguan ruas tol ini, menurut Suharto, justru perekonomian dan nilai lahan di area tol bakal terkerek naik. “Makin banyak pembangunan, ekonomi jadi menguntungkan. Perkebunan juga tambah eksis,” katanya.(dtf)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *