RUMAH ANGGOTA DPRD TEBING JADI LAPAK JUDI DADU PUTAR

DIGEREBEK POLDASU, PANITIA DAN PEMAIN NYANGKUT

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Dijadikan lapak judi samkwan alias dadu putar, rumah anggota DPRD Tebingtinggi dari Partai Demokrat, Hermanto Sitorus alias Erick di Komplek Perumahan Budi Dharma, Jl. Datuk Bandar Kajum No 28/Jl. Kartini, Gang Pekong, Kel. Tebingtinggi Lama, Kota Tebingtinggi digerebek puluhan petugas Satgas Pekat Poldasu, Senin (10/2) sekira pukul 22.30 WIB.

Dari ruko berlantai tiga itu, petugas mengamankan 21 orang berikut barang bukti dadu, papan tulis dan uang puluhan juta. Tapi sayang, si pemilik rumah yang juga Caleg Provinsi Sumut dari Partai Demokrat, daerah pemilihan Kab. Sergai dan Tebingtinggi itu berhasil lolos karena tengah tak berada di rumah.

Sebelum melakukan penggerebekan, polisi lebih dulu membentuk 2 tim khusus. Bahkan, untuk menyergap para pelaku, polisi sempat 5 hari melakukan penyamaran di lokasi. Setelah dapat waktu yang tepat, dengan gerak cepat, polisi melakukan pernyergapan. Kedatangan polisi sontak menggegerkan para pemain yang lang1ung berhamburan keluar rumah. Dari sana petugas berhasil mengamankan 21 orang ke Poldasu.

Saat ditemui kru koran ini, salah seorang yang diamankan menyebutkan kalau lokasi tersebut tadinya akan ditutup sekira pukul 21.00 WIB. Namun, lantaran banyak pemain yang datang, pelaksana judi pun memperpanjang waktu hingga pukul 22.00 WIB.

“Tadi kan sudah mau ditutup jam 9 malam. Gak ada kalian yang mau. Makanya ditambah sampai jam 10 malam. Ya inilah akhirnya, digrebek kita,” kesal salah seorang pemain di Poldasu. Bahkan, diantara ke 21 yang diamankan ke ruang Subdit II Ditreskrimum Poldasu yang berada di lantai 2, tampak seorang pelaku mengenakan celana loreng dan berambut cepak.

Saat ditemui, pria itu mengaku sebagai purnawirawan TNI. Pria yang diketahui bernama Terima Ginting (56) ini mengatakan, dirinya berada di lokasi tersebut untuk menderen. “Mau menderen saya di situ. Baru 30 menit saya duduk di situ udah ditangkap,” ucapnya.

Masih kata warga Asrama Kodim 0204/DS itu, sebelum minta uang tutup mulut, ia lebih dulu mengetuk pintu ruangan panitia. “Setelah kita ketuk, dibuka nanti jendelanya. Di situlah mereka melihat kita. Kalau mereka sudah kenal sama kita, dia akan bilang nanti,” ucapnya.

Masih kata Ginting, selama ini pihak panitia hanya mengijinkan warga Tionghoa yang bermain. “Setau saya, hanya warga Tionghoa yang diizinkan main,” pungkasnya.

Data dihimpun, penangkapan itu berawal saat polisi dapat info dari warga. Dari kamar Hermanto di lantai II, polisi juga menemukan 2 hape, tas dan selimut. Dari tas itu, polisi menemukan mata dadu dan dompet Hermanto.

Kepala Satgas Pekat Polda Sumut, AKBP Yusuf Saparuddin saat diikonfirmasi, Selasa (11/2) sekitar pukul 13.00 WIB mengatakan, saat ini pihaknya tengah memeriksa para pelaku. “Dari 21 orang yang diamankan itu, sampai saat ini 7 orang sudah dijadikan sebagai tersangka. Sedangkan 14 orang masih jadi saksi,” ujarnya.

Menurutnya, 7 orang yang sudah dijadikan tersangka itu masing-masing, Awui, Ajum, Jawa yang berperan sebagai penyelenggara judi dadu. Sedangkan 4 orang pemain masing-masing Asim, Cuisim, Acung dan Bincei. “Jadi, tujuh orang yang sudah tersangka, 4 pemain dan 3 penyelenggara,” ucap perwira dua melati emas di pundaknya itu. Dikatakan Kasudbit II, Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Poldasu ini, permainan judi yang beromset ratusan juta itu sudah berlangsung sejak 2 tahun lamanya. “Kalau menurut saya sudah dua tahun, tapi menurut pengakuan tersangka baru 2,3 bulan,” katanya.

Ia juga berjanji akan secepatnya memanggil Hermanto. “Setelah kita periksa, baru kita panggil pemiliknya. Tapi memanggilnya tak mudah, harus ada ijin dari gubernur dan secepatnya akan kita panggil,” janjinya. Yusuf mengaku keterlibatan Hermanto adalah sebagai penyedia tempat. “Sudah telak dia sebagai penyedia tempat, tapi untuk memanggilnya kita harus periksa para tersangka dulu,” tandasnya.

Sementara itu, keterlibatan Hermanto dalam permainan dadu putar ini masih jadi bahan pergunjingan. Meski begitu, warga sekitar komplek yang ditemui terkesan menutup-nutupi kasus ini. Saat disambangi kru koran ini, rumah Hermanto terlihat tertutup rapat. Saat dipanggil dari luar, tak ada sahutan apapun dari dalam rumah.

“Memang itu rumah Hermanto, tapi dia jarang terlihat di sini bang. Kalau istrinya jualan di pajak. Anaknya ada dua orang yang masih kecil-kecil. Kalau jam segini, kedua anaknya itu, ya sekolahlah,” ketus warga.

Warga lain yang mengaku bernama Rudi membenarkan kalau tadi malam ada beberapa mobil polisi parkir di depan rumah Hermanto. “Tadi malam banyak orang itu (pemain judi) yang dibawa naik mobil petugas. Setauku rumah ketua itu (Hermanto) memang sering ramai, tapi kalau aktivitas di dalam rumahnya saya tidak pernah tau. Dan memang rumah ketua itu belakangan ini memang sering ramai, tapi bagi saya itu hal biasa karena ketua itu kan caleg, jadi wajar tim suksesnya sering ngumpul-ngumpul sana,” ujar Rudi.

Sementara salah seorang pria yang minta namanya tak dipublikasikan karena alasan segan mengaku, selama ini rumah Hermanto memang jadi lapak judi samkwan. “Setauku sudah lama itu. Tapi aku tidak pernah mau mencampuri apalagi usil. Itu urusan merekalah, yang penting ku urus urusanku saja bang,” tandasnya. Lanjut pria ini, sebelumnya, aktivitas judi samkwan tersebut main di Kampung Tempel, Kel. Pasar Gambir, Kota Tebingtinggi. Tapi karena disuruh tutup oleh Kapolres Tebingtinggi, mereka pun pindah ke rumah Hermanto. Selama bermain di rumah Hermanto, judi samkwan tersebut baru dimulai dari pukul 17.00 WIB hingga berakhir pukul 23.00 WIB.

“Sebenarnya kudengar tadi malam sudah disuruh polisi berhenti bermain karena mau ada razia. Tapi karena masih ada saja warga yang memasang, akhirnya mereka terus bermain. Sementara itu, menanggapi keterlibatan Hermanto yang merupakan kader partai Demokrat Kota Tebingtinggi ini. Chairil Mukmin Tambunan selaku Ketua DPC Partai Demokrat Kota Tebingtinggi yang dikonfirmasi mengaku belum mengetahui perihal penggerebekan rumah Hermanto. Bahkan dirinya enggan memberikan komentar banyak soal keterlibatan kadernya itu. “Saya belum mendengar kabar itu, jadi belum bisa memberikan keterangan banyak,” katanya.

Disinggung apa tindakan (sanksi) partai apabila Hermanto terbukti melanggar pidana, Mukmin yang merupakan Wakil Ketua DPRD Kota Tebingtinggi ini mengaku masih akan mendalaminya.

“Kan sudah saya bilang tadi, biar saya cek dulu informasi yang anda sampaikan, betul apa tidak Hermanto tertangkap, karena saya sendiri belum mengetahui soal penggerebekan itu. Jadi apa sanksi partai, belum bisalah saya memberikan keterangan secara resmi,” tandas Mukmin berulang-ulang.

Terpisah, Kapolres Tebingtinggi melalui Kasubbag Humas Polres Tebingtinggi, AKP Syahril Daulay ketika dikonfirmasi terkait penggerebekan judi samkwan itu juga mengaku ‘kebobolan’. Kebobolan apa terima setoran ya??
“Sebelumnya Polres Tebingtinggi tidak mengetahui kalau mereka (Poldasu) melakukan penggerebekan. Baru tadi pagi kita dapat informasi. Kabar terakhir yang kita terima, ada 22 orang yang dibawa ke Mapoldasu. Dari 22 orang tersebut katanya ada satu orang anggota DPRD Kota Tebingtinggi yang disebut-sebut ikut tertangkap. Hari ini kita dapat info lagi, dari 22 orang yang diamankan, sekarang tinggal 7 orang yang masih mendekam di Mapoldasu,” ucap Syahril. (eza/awi/ind/deo).
sumber: sumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *