KORBAN TEWAS AKIBAT AWAN PANAS SINABUNG JADI 16 ORANG

Korban tewas akibat sapuan awan panas Gunung Sinabung bertambah menjadi 16 orang setelah meninggalnya Doni Sembiring (70), yang sempat dirawat di Rumah Sakit Efarina Etaham di Kabanjahe, Kabupaten Karo.

Dalam keterangan yang diterima MedanBagus.Com, Rabu (4/2/2014), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa Doni Sembiring meninggal dunia pada Rabu sekitar pukul 03.00 WIB di RS Efarina Etaham.

Berdasarkan keterangan dari pihak RS Efarina Etaham, daya tahan korban menurun akibat mengalami luka bakar hingga 45 persen disertai dengan adanya komplikasi penyakit paru-paru, diabetes, dan kerusakan ginjal.

Dengan meninggalnya Doni Sembiring, korban yang tewas akibat terpaan awan panas yang keluar dari erupsi Gunung Sinabung pada Sabtu (1/2) tersebut menjadi 16 orang.

Kakek berusia 70 tahun ini menyusul sang cucunya, Surya Sembiring (24) yang terlebih dahulu hembuskan nafas terakhir pada Minggu (2/2/2014) lalu.

Saat peristiwa terjadi, kedua korban meninggal bersama Sehat Sembiring (40) pergi berziarah ke Desa Sukamekar. Saat itu mereka terjebak awan panas bersuhu 700 derajat Celsius yang keluar dari Gunung Sinabung yang kembali mengalami erupsi.

Sehat Sembiring, hingga saat ini masih menjalani perawatan intensif di RS Efarina Etaham.

Sebanyak 15 korban meninggal sebelumnya, adalah Alexander Sembiring (17), Daud Surbakti (17), Diva Nusantara, David Brahmana (17), Mahal Surbakti (25), Rizal Saputra (32), Teken Sembiring (47), Santun Siregar (22), Fitriani Boru Napitupulu (19), Asran Lubis (21), Marudut Brisnu Sihite (25), Daniel Siagian, Tomas Lakae (27), Zulfian Dimuri (21), dan Surya Sembiring (24).

Menurut Sutopo, tim SAR akan terus melakukan pencarian dan evakuasi terhadap korban awan panas yang berkemungkinan masih ada di Desa Sukameriah dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung.

Tim tersebut melibatkan ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang merekomendasikan potensi ancaman awan panas di lokasi pencarian korban.

Rekomendasi potensi ancaman awan panas tersebut, diperlukan karena pengerahan tim SAR gabungan itu menerapkan prinsip “safety first” atau mendahulukan keselamatan.

Pada Selasa (4/2), proses pencarian korban tidak dapat dilaksanakan karena sekitar pukul 08.00 WIB, telah terjadi dua kali erupsi yang mengakibatkan hujan abu vulkanik hingga kawasan Kabanjahe, termasuk posko utama dan posko nasional. [ded]
sumber : medanbagus

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *