ANALISIS SPIRITUAL TOKOH MASYARAKAT PURBA SOAL ‘KEMARAHAN’ SINABUNG

Karo – Lepas dari kajian geologi, letusan Gunung Sinabung kemungkinan bisa dihentikan. Dari sisi spiritual, letusan gunung ini terjadi karena ketidakseimbangan masyarakat Karo dan budayanya dan ada utang yang belum dibayar ke penghuni Gunung Sinabung.

Tokoh masyarakat yang juga Ketua Umum Lembaga Masyarakat Budaya Tanah Karo Simalem, Thomas Edison Purba menyatakan, utang itu terjadi pada akhir Oktober 2010, tak lama setelah Sinabung mengeluarkan letusan yang pertama. Waktu itu masyarakat menggelar ritual tolak bala yang disebut persentabin (permintaan maaf) dan sekaligus pemindahan Batu Nini Karo Gunung Sinabung.

Kegiatan itu berlangsung di tepi Danau Kawar, Desa Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). Pesertanya yang mencapai ribuan orang, merupakan warga dari desa-desa yang berada di kaki Gunung Sinabung.

Dalam komunikasi dengan penghuni Sinabung pada waktu itu disepakati, warga akan melakukan dua hal agar penghuni tidak marah dan Sinabung tidak meletus lagi. Pertama tidak merusak atau membakar hutan, dan harus menanam pohon di kawasan yang disebut Uruk Tuhan. Lokasinya berada di Desa Bekerah, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). Kedua, berjanji untuk mengingat keberadaan para penghuni Sinabung itu setiap bulan Oktober.

“Kedua hal ini tidak dilakukan. Kita tidak menepati janji, makanya kini Sinabung marah. Ibarat ibu, Sinabung juga akan memaafkan sekiranya anaknya meminta maaf, tapi ini tidak kita dilakukan,” kata Purba kepada wartawan di Kabanjahe ibukota Kabupaten Karo, Senin (3/2/2014).

Tidak dipenuhinya janji ini, membuat para penghuni Sinabung marah. Letusan tidak kunjung henti sejak September 2013 hingga hari ini. Lalu pada Sabtu (1/2/2014), 14 orang tewas di tempat karena terkena awan panas, dan 3 mengalami luka bakar. Satu orang akhirnya meninggal sehingga korban tewas menjadi 15 orang.

Luncuran awan panas ini, masih dalam perspektif spiritual, merupakan kemarahan penghuni gunung karena ada yang merusak hutan di Uruk Tuhan. Karena tempat huniannya dibakar, maka ruh-ruh yang bersemayam di gunung membakar manusia di sekitarnya, melalui awan panas.

Solusi untuk mengatasi masalah ini, kata Purba merupakan pekerjaan besar, namun dapat dilakukan. Masyarakat Karo diharapkan kembali pada akar budayanya. Menerapkan dengan baik adat budayanya yang berorientasi pada sistem adat yang disebut merga silima, tutur siwaluh, rakut sitelu, dan perkade-kaden sepuluh tambah dua.

Setelah itu, maka Merga Silima yakni kelompok marga dalam masyarakat Karo, yang terdiri dari Karo-karo, Ginting, Tarigan, Sembiring dan Perangin-angin, bersama lima Beru Silima datang meminta maaf kepada penghuni Sinabung. Mereka yang berjumlah 10 orang ini, yakni lima lelaki dan lima perempuan, haruslah representasi dari kesepakatan masyarakat yang tinggal di sekitar Sinabung.

Masalahnya, kesepakatan itu yang tidak ada. Kelompok marga yang diharapkan mengambil peran, cenderung menolak upaya melalui aspek budaya. Menganggapnya sebagai kegiatan yang bertentangan dengan agama. Itu makanya tak pernah dilakukan.

“Jika kesepakatan itu ada, perwakilan itu bisa datang ke mana saja di Sinabung, tidak harus ke puncak dengan membawa persyaratannya,” kata Purba.

Barang yang harus dibawa itu tidak banyak. Hanya empat macam yang harus ada. Yakni sirih atau belo, pisang mas, cimpa dan mumbang atau kelapa muda. Jika ini sudah diberikan, permohonan maaf diajukan, maka dalam waktu beberapa hari kemungkinan Sinabung akan berhenti meletus.

“Bencana akan berakhir,” kata Purba.

Jika tidak dilakukan?

“Sinabung akan terus meletus hingga Oktober nanti,” kata Purba.
sumber : detiknews.

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *