GUNUNG SINABUNG KELUARKAN SUARA ANEH

Medan, kini.co – Sepanjang Jumat (31/1/2014), erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, selalu memunculkan suara aneh. Suara aneh itu mirip gemuruh petir yang menggelegar ketika hujan deras sedang turun. Meski memunculkan suara aneh mirip gemuruh petir, namun kunjungan wisatawan lokal ke Gundaling, Berastagi, tak berkurang dan terus bertambah. Mereka umumnya ingin melihat langsung erupsi Gunung Sinabung. “Biasanya hanya melihat erupsi Gunung Sinabung melalui layar kaca (televisi). Makanya kami datang kemari untuk melihat langsung, mumpung ini hari libur,” ucap Putra, warga Medan yang dihubungi via selular kemarin. Saat Gunung Sinabung kembali mengeluarkan asap tebal, Putra dan wisatawan domestik asal Kota Medan lainnya terlihat mengabadikan foto. Mereka tampak begitu bersemangat mengabadikan proses erupsi Gunung Sinabung, apakah melalui kamera handphonenya, atau kamera DSLR atau camera pocket yang dibawa. Sampai berita ini diturunkan, Gunung Sinabung kembali mengeluarkan asap tebal. Asap tebalnya Gunung Sinabung belum berdampak kepada para pengungsi. Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendrasto menyampaikan paparan singkat tentang kondisi terkini Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. “Erupsi yang disertai awan panas yang besar terjadi pada tanggal 11 dan 16 Januari 2014, dan berangsur berkurang jumlahnya hingga saat ini,” ucap Hendrasto dalam rapat koordinasi antara Pemprov Sumut, Pemkab Karo, kementerian terkait, dan BNPB di rumah dinas gubernur Sumut di Jl Sudirman No.31 Medan, Kamis (30/1/2014). Kemudian, lanjutnya, pertumbuhan kubah lava dan aliran lava masih terjadi. Guguran-guguran lava pijar dari kubah /aliran lava terus terjadi ke arah Selatan-Tenggara yang mencapai jarak terjauh lebih kurang 1500 meter. Data kegempaan didominasi oleh gempa guguran (400-450/hari) dan gempa hybrid (rata-rata 150/hari), diinterpretasikan sebagai proses pertumbuhan kubah /aliran lava masih berlangsung di kawah Gunung Sinabung. Jumlah gempa guguran perlahan naik sejak 23 Januari 2014. Gempa Vulkanik Dalam (VA), Gempa Low Frekuensi (LF) dan Tremor menerus masih terekam. Data deformasi dan hiposenter gempa mengindikasikan adanya perpindahan tekanandari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal. Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya Gunung Sinabung, lanbjutnya bahwa status kegiatan Gunung Sinabung masih tetap AWAS (Level IV). “Potensi bahaya saat ini dan yang akan datang adalah: Erupsi masih berpotensi terjadi, yang menghasilkan material berukuran abu (hujan abu lebat) sampai lapili (berukuran 2-6 cm) yang ancamannya dapat mencapai radius 5 km. Erupsi juga dapat disertai awan panas yang mengarah ke Selatan dan Tenggara sejauh lebih kurang 5 km,” katanya. Pertumbuhan kubah berpotensi menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar dan aliran awan panas yang mengancam ke arah Selatan dan Tenggara. Begitu juga potensi longsor di lereng Utara (Lau Kawar) Gunung Sinabung masih tinggi. “Pemicunya karena terdapat lubang tembusan fumarola baru yang diikuti beberapa kali kejadian longsor di lereng Utara,” jelasnya. Potensi untuk terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan sering terjadinya awan panas dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunung Sinabung ” Untuk itu, masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas pada radius 5 km dari Kawah Sinabung. Begitu juga masyarakat di 17 Desa dan 2 Dusun yaitu : Desa Guru Kinayan, Desa Sukameriah, Desa Berastepu, DesaBekerah, Desa Gamber, DesaSimacem, Desa Perbaji, Desa Mardinding, DesaKuta Gugung, Desa Kuta Rakyat, DesaSigarang-garang, Desa Sukanalu, DesaTemberun, Desa Kuta Mbaru, Desa Kuta Tonggal, Desa Tiga Nderket, Desa Slandi dan Dusun Sibintun serta Dusun Lau Kawar agar diungsikan,” ujarnya. Untuk masyarakat di Kecamatan Naman Teran (Desa Kebayaken, Desa Naman, dan Desa Kutambelin), yang terletak di Timur Laut dan berada di luar radius 5 km berpotensi terkena material jatuhan. Desa Kuta Tengah, DesaPintubesi, dan Desa Jeraya (Kecamatan Simpang Empat), yang terletak pada arah Tenggara bukaan kawah Gunung Sinabung dan berada di luar radius 5 km dari puncak berpotensi terkena awan panas. Keenam desa tersebut agar agar diungsikan. “Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata,” ucapnya. Untuk masyarakat yang terganggu akibat hujan abu vulkanik lebat terutama anak – anak dan masyarakat rentan lainnya di sekitar Gunung Sinabung, dapat diungsikan sementara hingga hujan abu lebat mereda. “Bagi atap rumah masyarakat yang terkena dampak dari hujan abu vulkanik tebal, agar segera membersihkan atap bangunan, untuk mencegah robohnya atap karena beban berat,” katanya. Sehubungan masih adanya potensi terjadinya hujan maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap ancaman bahaya lahar. Diminta agar masyarakat di sekitar Gunung Sinabung untuk tetap tenang, tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi Gunung Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas Gunung Sinabung. Perwakilan dari USU juga memaparkan bahwa pihaknya Mulai minggu depan akan melaksanakan bimbel khususnya untuk anak SMA. Hal ini dilakukan full hari Sabtu dan Minggu 100 orang satu kelas, hingga 5 kelas. Perwakilan dari Unimed juga menyampaikan dalam rapat bahwa Seluruh mahasiswa yang kuliah di Unimed. Yang orangtuanya adlah korban erupsi Gunung Sinabung akan dibebaskan uang kuliah. (zul)
sumber : indonesia.kini

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *