PERAWATAN TETAP NOMOR SATU

Serangan lalat buah dan jamur merah telah menghancurkan pertanaman jeruk di Sumatera Utara tak terkecuali di Kabupaten Karo yang merupakan “gudangnya” jeruk di Sumut. Sayang, penangannya hingga sekarang belum membuahkan hasil maksimal meskipun pemerintah pusat, provinsi dan daerah telah berjuang untuk mengendalikan serangan tersebut.
Kondisi itu pula yang membuat buah jeruk saat ini sulit ditemukan di pasar tradisional maupun pasar buah yang ada di Sumut. Kalaupun ada ukuran buahnya kecil-jecil dan sedang. Itupun harganya lumayan mahal berkisar antara Rp 8.000 – Rp 18.000 per kilogram (kg) di Kota Medan.

Itu disebabkan, proses pembesaran buah dari ukuran “guli” ke buah berukuran besar mengalami kegagalan. Sebab, serangan lalat buah yang amat dahsyat membuat buah menjadi busuk, berulat dan mudah rontok. Buah jatuh sebelum berkembang lebih besar lagi.

Kondisi inilah yang memaksa petani untuk segera memanennya meskipun ukuran buahnya masih sebesar bola pimpong. Kalaupun ada yang sebesar pola kasti namun persentasenya sangat rendah.

Data yang dirilis MedanBisnis dari Kepala Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Sumut, Hj Nurhijjah, menyebutkan serangan lalat buah mendominasi serangan OPT lainnya pada tanaman jeruk di Sumut.

Bahkan, dalam tiga tahun terakhir serangan semakin bertambah. Tahun 2011 misalnya, tingkat serangan lalat buah mencapai 871,31 pohon dengan tingkat serangan kategori ringan. Kemudian tahun 2012, serangan mencapai 4.801,23 pohon yang terdiri dari serangan ringan 4.745,23 pohon dan sedang seluas 56 pohon. Sedangkan untuk tahun 2013, tingkat serangan sudah mencapai 6.734,95 pohon dengan kategori serangan ringan.

Sulitnya mengendalikan lalat buah disebabkan banyak faktor. Namun, yang paling penting dalam budidaya jeruk manis menurut praktisi pertanian serta pakar enzim Dr Ing Andy wahab adalah ketelatenan dalam melakukan perawatan.

“Semanjur apapun kata orang obat atau pestisida untuk mengendalikan lalat buah dan hama penyakit lainnya tidak akan berhasil jika tidak didukung dengan perawatan. Intinya, perawatan tetap menjadi nomor satu yang harus diperhatikan si pemiliik tanaman,” kata Andy.

Misalnya, lanjut dia, pemangkasan ranting atau daun secara teratur itu sangat penting sehingga sinar matahari bisa menembus tanaman dan ke dalam tanah. Dan, daun yang lebar itu tidak terlalu penting bagi tanaman, sebab daun lebar akan menutupi permukaan tanah, batang dan buah dari sinar matahari.

“Jadi, kita jangan senang atau puas bila melihat daun tanaman jeruk kita lebar-lebar. Justeru itu akan sangat menganggu sinar matahari masuk ke tanaman. Daun lebar itu tidak penting, tapi buah “lebar” (baca:besar) itu yang bagus,” kata Wahab tersenyum.

Kemudian, lanjut dia, pemupukan juga harus dilakukan sesuai dengan jadwal dan dosis yang pas bagi tanaman. Dan, terakhir adalah kebersihan lahan. Buah-buah yang jatuh harus segera dibuang atau ditanam sehingga tidak memunculkan lalat buah, serangga dan binatang lainnya.

Kalau semua itu diperhatikan petani, Wahab yakin, produksi jeruk petani akan meningkat dan ukurannya juga akan besar-besar. Apalagi, jika didukung dengan penggunaan fitofit, buahnya akan jauh lebih besar dari varietasnya. Karena proses pertumbuhan buahnya tidak terganggu.

“Yang terjadi selama ini kan petani dengan terpaksa memanen lebih cepat buah jeruknya untuk menghindari serangan lalat buah. Kalau lalat buah bisa dikendalikan, petani tentu akan membiarkan buah jeruknya besar hingga mencapai kematangan penuh,” jelas Andy wahab. ( junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *