PEMBAHASAN PENYEDERHANAAN PELAKSANAAN ADAT ISTIADAT BATAK KARO KHUSUSNYA LINGKUP JAKARTA DAN SEKITARNYA

Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Sabtu tanggal 18 Januari 2014 jam 15.00 s/d 22.00 WIB bertempat di Aula Lantai Dasar Kementrian Perindustrian Jl. Gatot Soebroto Kav. 52-53 Jakarta Selatan telah dilaksanakan “Pembahasan Penyederhanaan Pelaksanaan Adat Istiadat Batak Karo” khususnya lingkup Jakarta dan sekitarnya yang diketuai oleh Sdr. Anto Tarigan Karyawan Kementrian Perindustrian Jakarta, sehingga khususnya pelaksanaan adat pada “Pesta Perkawinan” (Pedalan Utang Adat) dapat lebih awal disesesaikan dan tidak seperti selama ini tyang rata-rata selesai setelah jam 17.00 WIB dan lebih sering lewat jam tersebut, sehingga bagi mereka sebagian besar komonitas ini merasa acara tersebut bertele-tele dan membosankan karena khsuusnya bagi keluarga yang dalam pesta ini berkedudukan dalam adat sebagai Sukut, Kalimbubu dan Anak Beru secara langsung berhubungan dengan kedua belah pihak keluarga pengantin harus menghabiskan waktunya antara 9 – 11 jam di gedung pertemuan. Sedangkan di Taneh Karo Simalem termasuk Medan dan sekitarnya hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 6 – 7 jam sangat jauh beda dengan yang dilakukan di Jakarta dan sekitarnya, padahal umumnya yang hadir di pesta perkawinan di Taneh Karo Simalem dan Medan sekitarnya sebagian sebagian besar yang hadir adalah keluarga terdekat.

Setelah ditelusuri terjadinya waktu yang begitu lama antara lain disebabkan :

1. Acara dimulai lebih lambat di bandingkan dengan yang dilakukan di Takasima Medan dan Sekitarnya, yang kebanyakan dilaksanakan setelah jam 09.00 wib pagi karena keluarga dekat yang hadir belum lengkap sesuai dengan posisi masing-masing dalam adat.

2. Pelaksanaan adat yaitu Pedalan Utang Adat ( Penyerahan Mahar) bertele-tele dan memakan waktu lebih dari 1 (satu) jam atau 60 menit.

3. Pelaksanaan nari bersama (adu pengantin nari) antara Pengantin Pria dan Wanita tidak kurang dari 45 s/d 60 menit atau 1 (satu) jam termasuk acasa saweran dari keluarga/ tamu yang hadir dari kedua belah pihak pengantin pria maupun wanita.

4. Acara memberi petuah/ nasihat dari kedua belah pihak pengantin pria dan wanita (Sukut) termasuk menari bersama tidak kurang dari 2 jam atau 120 menit yang kadang belum selesai karena belum dilakukan nari bersama yang berarti jam sudah menujukkan jam 13.00 wib atau waktunya untuk makan bersama.
Setelah dilakukan makan siang besama, apabila keluaga ayah ibu (Sukut) belum nari bersama dan apabila dilakukan akan memakan waktu 60 menit atau 1 jam karena kedua belah pihak disamping menari bersama juga diselingi dengan menyanyi solo 2 – 4 orang yang rata2 membutuhkan waktu 5 menit/ orang.

5. Setelah keluarga orang tua kedua pengantin tersebut di atas, dilanjutkan dengan acara dari pihak ibu kedua belah pihak pengantin tyang acara kedua belah pihak ini akam membutuhkan waktu paling tidak 1 1/2 tersebut di atas atau kira-kira 2 s/d 2 1/2 atau 120 – 150 menit yang berarti baru selesai setelah jam 16.30 WIB.

6. Kemudian setelah acara poin “5” tersebut di atas, dilanjutnya dengan acara penutup dari pihak “suami” dari adik perempuan/ saudara perempuan dari ayah/ kakeknya yang paling tidak memburuhkan waktu tidak kurang dari 60 menit atau 1 jam yang baru berakhir setelah jam 17.30 atau paling cepat.

Berdasarkan hal-hak tersebut di atas diusulkan dalam acara tersebut antara lain :

1. Aacara penyerahan Utang Adat (Mahar) supaya lebih disederhanakan dan tidak bertele-tele.

2. Acara Adu Menari Penganten pria dan wanita lebih dipersingkat dan tidak perlu dilakukan acar Saweran yang umumnya memberatkan/ membebani keuangan dari pihak keluarga yang hadir, yang kadang kala karena merasa sungkan kanan kiri terpaksa ikut menyawer, apa lagi mereka sudah menyerahkan Pertama (uang) di Meja Penerima Tamu.

3. Dalam acara memberi nasihat dari pihak keluarga pengantin pria dan wanita kepada kedua pengantin supaya dibatasi dan dipersingkat dan tidak perlu memberikan nasihat yang bertele-tele dan mengulang-ulang seperti nasihat pendahulunya.

4. Setiap nari bersama baik dari keluarga pihak pengantin pria dan wanita yang menyumbangkan lagunya dalam acara ini supaya dibatasi tidak lebih dari 2 orang yang diperkirakan sudah membutuhkan waktu sekitar 5 menit per orang nyanyi.

Apabila hal-hal tersebut di atas menjadi perhatian “Calon” keluarga kedua belah pihak pengantin maka waktu pelaksanaan acara perkawinan Adat Batak Karo dapat lebih dipersingkat sehinga jam 15.00 atau jam 16.00 WIB sudah dapat diselesaikan dengan baik dan benar dan tidak mengurangi arti makna adat dalam acara tersebut di atas.

Disamping itu dalam acara tersebut di atas juga dibahas mengenai pelaksanaan “Acara Ngembah Belo Selambar” dan “Acara Nganting Manuk” yang biasanya dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Acara awal hanya “Acara Mbaba Belo Selambar” tapi dalam pelaksanaannya dilanjutkan dengan “Acara Nganting Manuk” dengan berbagai alasan yang klise dan sebagainya.

2. Keluarga yang diundang dalam acara tersebut jumlahnya kadang kala mendekati jumlah yang akan diundang dalam Pesta Perkawinan tersebut di atas yang bisa mencapai antara 400 s/d 500 orang, padahal dalam Acara Pesta Perkawinan jumlahnya sekitar 600 s/d 800 orang yang sebenarnya acara tersebut tanpa mengurangi makna adat dengan membatasi jumlah yang hadir, mengingat dalam acara tersebut sebenarnya yang “wajib” hadir dalam penentuan “Batang Unjukan” atau “Mahar” adalah keluarga langsung yang berperan dalam menentukan besarnya mahar dan lainnya, sehingga yang hadir cukup 100 s/d 200 orang secara keseluruhan termasuk dari kedua keluarga pengantin.

3. Pelaksanaan acara tersebut supaya lebih disederhanakan akan tetapi menarik untuk dikuti yang dalam hal ini tidak terlepas dari kepiawaian Pembawa Acara (MC) atau Anak Beru Singerana.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas diusulkan :

1. Agar acara lebih singkat maka sebaiknya Acara Ngembah Belo Selambar dan Acara Nganting Manuk supaya dipisah dengan pertimbangan bahwa Acara Ngembah Belo Selambar cukup dihadiri keluarga dekat saudara ayah/ kakek dan keluarga saudara perempuan ayah/ kakek yang tidak lebih dari 50 – 100 orang.

2. Acara Nganting Manuk dapat diperluas dengan keluarga dekat dari ayah/ kakek mapun ibu/ nenek dan juga keluarga saudara perempuan ayah/ kakek yang jumlahnya sekitar 100 – 200 orang yang hadir,

3. Acara pelaksanaan Acara Nganting manuk dilakukan dengan lebih sederhana dan tidak bertele-telele dan dikemas dalam bentuk yang menarik yang dalam hal ini tidak terlepas dari kepiawaian Pembawa Acara (MC) atau Anak Beru Singerana tanpa mengurangi makna adat tersebut.

4. Dalam Acara Nganting Manuk kalau situasi memungkinkan dapat dilakukan acara menari seperti pelaksanaan Acara Pesta Perkawinan dengan leluasa karena caranya memang untuk menari dan menari termasuk Adu Menari Calon Penganting Pria dan Wanita sekalian jadi ajang pelatihan agar dalam pelaksanaan pestanya enak untuk ditonton oleh para keluarga / tamu yang akan hadir dalam acara tersebut.

Demikianlah untuk sementara yang admin dapat rangkum dalam acara tersebut di atas, salam sjaya & tsima

This entry was posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Diskusi Adat Istiadat, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *