HARIMAU NGAMUK DI MADINA

MEDAN – Harimau Sumatera mengganas di Kecamatan Muara Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, diduga akibat kawasan hutan yang menjadi habitat hewan yang dilindungi tersebut terganggu.

Direktur Eksekutif Sumatera Rainforest Institute (SRI) Rasyid Assaf Dongoran di Medan, mengatakan mengganasnya harimau tersebut telah menelan seorang korban atas nama Karman Lubis yang merupakan penduduk Desa Ranto Panjang Kecamatan Muara Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal.

“Pada 11 Maret 2013 telah terjadi konflik antara harimau dan manusia yang mengakibatkan korban tewas bernama Karman Lubis.  Berdasarkan informasi yang kami dapat di lapangan maka dapat diperoleh keterangan bahwa harimau tersebut masih berkeliaran dan meresahkan masyarakat hingga saat ini,” katanya, hari ini.

Dirinya bersama tim sebanyak enam orang juga telah melakukan investigasi ke lapangan dan dari hasil laporan penduduk setempat diketahui bahwa diduga ukuran harimau tersebut sepanjang 2,5-3 meter dengan jenis kelamin jantan dewasa dan berusia sekitar 25 tahun.

Dari data yang dihimpun selama ini, lanjut dia, ditemukan bahwa harimau ini telah melakukan teror sejak tahun 2006 dan sampai sekarang sedikitnya telah menelan lima korban jiwa yang kesemuanya merupakan warga Desa ranto Panjang, Mandailing Natal.

“Akibatnya kondisi di desa itu sangat mencekam, bahkan dari penuturan Kepala desa dan tokoh masyarakat, kondisi ini mengakibatkan lumpuhnya ekonomi masyarakat di Desa Ranto Panjang karena masyarakat tidak berani ke kebun, sementara 90 persen mata pencaharian masyarakatnya adalah petani karet,” katanya.

Disinggung mengenai sebab mengganasnya Harimau Sumatera ini, Rasyid menjelaskan bahwa hancurnya hutan alam dan menyempitnya habitat harimau menjadi salah satu alasan yang mengakibatkan hewan itu masuk ke perkampungan dan menyerang warga.

Rasyid menjelaskan untuk mencapai desa Ranto Panjang maka setiap orang wajib mengunakan transportasi air melalui sungai, dimana desa tua yang berusia sekitar 320 tahun ini berdampingan langsung dengan hutan sekitar Taman Nasional Batang gadis.

“Namun ironis hutan belantara yang mendukung upaya mempertahankan perubahan iklim, kondisi air serta habitat alami satwa langka Harimau Sumatera dan Orangutan Sumatera ini  hanya menunggu waktu 1-2 tahun kedepan untuk hilang dan musnah akibat dibukanya perkebunan,” katanya.

Harimau Sumatra merupakan satwa terancam punah yang dilindungi oleh Undang Undang Negara Republik Indonesia. Satwa ini diestimasi hanya berjumlah antara 300-400 ekor di dunia dengan habitat alami di Pulau Sumatera.

Kelestarian harimau terancam akibat kerusakan habitat yang disebabkan perubahan hutan menjadi perkebunan, tambang dan perburuan liar.

Pemerintah RI dan masyarakat dunia menaruh perhatian yang sangat besar kepada satwa endemik, kharismatik, unik dan terancam punah ini sehinga  secara khusus lahir pada tahun 2007 sebuah rencara strategis pelestarian Harimau Sumatera hingga tahun 2017.
sumber: waspada

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>