AKSI PENAMBANG, PULAU KOYANG PUN TENGGELAM

Sejumlah pulau kecil di Perairan Bintan terancam hilang akibat aksi penambang liar.

Pulau Koyang di gugusan Kepulauan Bintan, Provinsi Kepulaun Riau, yang memiliki luas sekitar 200 hektare, hancur dan bakal tenggelam dalam waktu dekat.

Penyebabnya, aksi penambangan batu bauksit di areal Kecamatan Mantang itu oleh PT Citra Sahaja Sejati milik Kiki Abdurrachman, pengusaha asal Jakarta di pulau tersebut yang sangat masif dalam lima tahun terakhir.

Pulau Koyang merupakan pulau kecil berjarak tempuh sekitar 30 menit dengan kapal kecil (Pompong) dari pantai Kota Kijang, Kecamatan Bintan Timur. Pulau itu kini hampir habis digali sampai ke bibir pantai menggunakan berbagai alat berat, untuk menguras batu bauksit yang diekspor ke China. Harga rata-rata batu bauksit sekitar US$ 22 per metrik ton.

Harga itu tentu menggiurkan. Apalagi menggali batu bauksit tidak sesulit menggali emas, sebab kebanyakan muncul hingga ke permukaan. Itulah yang membuat para pengusaha saling berpacu melakukan penambangan bauksit sebanyak mungkin dan terkadang menyerobot lahan milik orang lain. Tidak sedikit pelanggaran hukum yang dilakukan, bahkan kerap kali berkonflik dan mengancam warga.

Di Kepulauan Riau, jumlah penambang sangat banyak. Tidak sedikit yang tidak memiliki izin. Bahkan penambangan oleh PT Citra Sahaja Sejati di Pulau Koyang diduga tanpa izin.

Aktivitas penambangannya pernah dihentikan oleh pihak Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau dan memasang garis polisi di lokasi pada 14 September 2012. Namun penambangan dimulai kembali semenjak awal Januari 2013 sampai sekarang.

Pihak perusahaan mengaku Izin Usaha Pertambangan (IUP) masih diurus ke Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bintan.

Anehnya, IUP sedang diurus, tapi pengerukan sudah berlangsung dari lima tahun lalu. Masih menurut pihak perusahaan yang tidak mau disebutkan namanya, batu bauksit hasil produksi dari Pulau Koyang terpaksa dijual ke perusahaan yang memiliki izin ekspor dari Kementerian Perdagangan. PT Cipta Sahaja Sejati tak memiliki izin ekspor apa pun.

PT Citra Sahaja Sejati tidak mendapatkan izin pertambangan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, apalagi izin ekspor dari Menteri Perdagangan. Namun, kenapa Bupati Bintan Ansar Ahmad membiarkan penambangan bauksit secara ilegal itu?

Penambangan ilegal di Kepulauan Riau memang tak hanya di Bintan, tetapi juga di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Lingga. Sorotan dari berbagai pihak terkait meningkatnya kerusakan lingkungan tak pernah digubris pemerintah daerah. IUP dikeluarkan tanpa memperhatikan rencana tata ruang wilayah (RTRW) setempat. Bahkan Pulau Koyang pun harus ditenggelamkan.

Melalui UU No 27/2007 tentang pulau-pulau kecil dan terluar, Pulau Koyang sebenarnya termasuk areal yang harus dilindungi. Namun, aksi penambang yang memanfaatkan calon kepala daerah yang membutuhkan uang selama proses pemilihan kepala daerah mengakibatkan pulau-pulau kecil yang luput dari pantauan itu harus menjadi korban.

Tidak hanya Pulau Koyang, Pulau Siolong, Mantang Kecil dan Besar, dan beberapa pulau kecil lainnya di Bintan kini juga sedang dalam kondisi gawat. Selain PT Citra Sahaja Sejati, PT Gunung Sion juga perusahaan yang paling aktif membabat pulau-pulau kecil di perairan Bintan-Karimun.

Warga tak berdaya karena tak memiliki akses untuk melapor kepada pihak berwenang. Sumbatan untuk mengajukan pengaduan muncul di mana-mana, ditambah dengan ketidaktahuan akan aturan yang mengatur masalah pertambangan.

Kini, semua nasib pulau-pulau kecil di perairan Bintan sangat tergantung pada nafsu kekuasaan mendapat uang dari kepala-kepala daerah. Tidak ada laporan yang jelas, apakah ada pendapatan daerah yang berasal dari pengerukan pulau-pulau kecil oleh penambang. Hanya Tuhan dan kepala daerah (bupati) yang tahu.
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *