KELUARGA KORBAN TABRAK LARI MINTA SOPIR DITANGKAP

KASUS tabrakan akibat ulah ugalugalan sopir angkutan umum sering kali terjadi. Banyak sudah korban akibat kecelakaan lalulintas dikarenakan sopir angkot yang tidak mematuhi aturan lalulintas.

Seperti halnya kasus tabrakan di persimpangan Jln. SupraptoJln. Brigjen Katamso persis depan kantor Waspada, akibat ulah sopir angkutan Morina jurusan AmplasBelawan yang menerobos lampu merah, pengendara sepedamotor mengalami patah kaki. Ini menjadi bukti bahwa kecelakaan di jalan raya oleh para sopir angkot yang suka mengebut dan menerobos lampu merah perlu disikapi lebih serius oleh pihak berwajib. Sehingga tidak bertambah lagi korban akibat ketidakpatuhan para sopir angkot dalam berlalulintas.

Bahkan, pada 8 Januari 2013 lalu, seorang pengendara sepedamotor bernama Azmi Nasution, 29, penduduk Jln. Dahlia Raya Gang Abadi No 77, Kec. Medan Helvetia, meninggal dunia, karena sepedamotor Spin BK 5199 CO yang dikendarainya ditabrak angkot KPUM BK1641 DB di Jln. Pasar V dekat kampus Unimed sekira pukul 21:00.

Peristiwa tragis ini masih memberikan duka mendalam pada keluarga korban. Istrinya Sri Widarti yang belum setahun menikah dengan almarhum kini menjalani hidup penuh kesedihan. Bukan saja akibat peristiwa itu, tetapi sopir angkot yang menabrak almarhum suaminya hingga kini tidak juga ditangkap oleh polisi.

Meski bersedih, Sri Widarti dan keluarganya tak henti mencari keadilan dan melaporkan masalah ini pada pihak berwajib. Walaupun sampai kini hasilnya nihil, namun mereka berharap polisi bisa menyelesaikan kasus ini. Apalagi, sepedamotor milik almarhum kini berada di gudang penyimpanan di Kayu Putih Tj Mulia yang secara otomatis tidak bisa dimanfaatkan lagi sebagai kendaraan keluarga yang hidupnya hanya pas

Sri Widarti, Jumat (1/2), kembali mengenang kepergian almarhum suaminya. Apalagi, sampai sekarang belum ada titik terang apakah sopir angkot itu ditahan atau tidak. “Aneh sekali bagi kami sebagai keluarga terkait sopir yang belum juga ditemukan. Pemilik KPUM dan pihak koperasinya sudah dipanggil polisi, tapi kenapa enggak bisa mendapatkan sopir yang menabrak suami saya, agar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya,” sebutnya.

Malah, lanjut dia, polisinya bilang kalau pihak keluarga korban tahu dimana sopir itu agar melaporkan kepada polisi. “Sangat janggal dan aneh, bukankah yang lebih mudah menemukan sopir itu pihak polisi ?,” ujar Sri.

Ternyata, duka Sri Widarti belum pupus begitu saja, saat pihak keluarga mengurus asuransi kecelakaan itu, harus mengeluarkan uang untuk biaya pengurusan kepada pihak kepolisian sebesar 10 persen dari nominal yang diterima. “Bukan enggak ikhlas mereka minta biaya pengurusan asuransi itu, kami sudah kehilangan orang yang kami cintai, sopir angkutan umum tidak juga ditahan, sepedamotor kami di gudang, sehingga kami merasa duka ini semakin bertambah. Apakah kami harus membiayai polisi lagi untuk mendapatkan sopir angkutan umum itu, karena hingga kini belum ada kejelasan,” tuturnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, penyidik Aiptu Sihombing yang menangani kasus tersebut mengaku sudah memberikan surat panggilan kepada pemilik angkot KPUM BK 1641 DB melalui kantor KPUM Medan, namun hingga sekarang pemilik angkot belum datang juga.

“Seharusnya pemilik angkot datang pada Senin (28/1) untuk dimintai keterangannya, namun sampai sekarang belum juga datang, padahal surat panggilan sudah dikirim via kantor KPUM Medan,” katanya. (m37)
sumber: waspadamedan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

One Response to KELUARGA KORBAN TABRAK LARI MINTA SOPIR DITANGKAP

  1. Samuel says:

    Kasus seperti selalu terjadi, yang bisa dilakukan adalah mengurus asuransi dengan segera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *