KULIAHKAN ANAK DARI JANGKRIK

Berbekal keinginan kuat untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi, Partamuan Siregar (56), warga Lingkungan X Kelurahan Binjai Estate Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai karyawan untuk beralih menjadi seorang wiraswastawan.
Meski mulanya mengalami sejumlah kendala dan kegagalan, namun keputusan yang diambil pria kelahiran Kota Sibolga ini justru sangat tepat.

Dengan keyakinan dan harapan besar untuk mewujudkan masa depan pendidikan anak-anak sembari meningkatkan taraf hidup keluarganya dengan lebih baik, Pak Regar begitu sapaannya alhasil mampu menuai kesuksesan dari profesi barunya sebagai peternak jangkrik.

Unik memang, mengingat profesi seperti itu masih jarang diakoni kebanyakan orang maupun para wiraswastawan yang lain.

Kenyataannya, Partamuan Siregar patut bersyukur karena dari hasil usaha yang ditekuninya selama lebih dari tujuh tahun itu, dia bisa berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga memperoleh gelar sarjana.

Awal Merintis Usaha

Ditemui Analisa, Minggu (24/2) pagi, saat meninjau pemeliharaan ratusan ribu jangkrik di lokasi peternakan seluas 400 meter persegi miliknya yang berada di pinggiran Kota Binjai, nyanyian serangga kecil ini pun seakan menjadi sarana penyambutan yang khas bagi siapapun pengunjung yang datang

Dengan penampilan yang terbilang sederhana, Partamuan Siregar mulai bercerita panjang lebar mengenai awal usaha yang dirintisnya itu.

“Sebelum terjun di usaha ternak jangrik, dulunya saya karyawan di salah satu perusahaan kontraktor di Kota Medan. Namun, karena sadar tidak mungkin selamanya saya di situ, saya putuskan untuk membuka usaha. Sebab, di pikiran saya waktu itu, mustahil mampu menguliahkan anak-anak jika hanya mengandalkan penghasilan sebagai karyawan,” ungkap Partamuan di sela-sela rutinitasnya merawat jangkrik.

Di awal profesinya sebagai wiraswastawan, Partamuan mengaku sempat mengalami sejumlah kegagalan dan mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

“Usai berhenti sebagai karyawan tahun 2000 lalu, saya waktu itu memutuskan untuk beternak burung puyuh. Namun setelah hampir setahun, usaha itu justru gagal hingga akhirnya mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan saya hampir frustasi karena sebagian besar modal pun tidak kembali,” tutur Partamuan.

“Setelah berkonsultasi dan belajar secara otodidak melalui pengalaman dari beberapa teman sambil juga membaca beberapa buku pertanian, saya justru tertarik dan memutuskan untuk mencoba berternak jangkrik. Selain modalnya cukup terjangkau, permintaannya juga masih sangat tinggi,” terangnya.

“Alhamdulillah setelah dilakoni sejak 2005 lalu akhirnya membuahkan hasil. Apalagi dari hasil usaha ini, kedua anak saya bisa kuliah. Bahkan, salah satunya sekarang sudah jadi sarjana kedokteran di UGM,” ucap Partamuan sembari tersenyum.

Omset Jutaan

Partamuan Siregar mengaku jika omset yang diperolehnya perbulan bisa mencapai jutaan rupiah. Bahkan dia mampu mempekerjakan dua karyawan untuk membantu usahanya.

“Kalau keuntungan ya lumayan besar. Pastinya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak. Selain modalnya terjangkau dan masa panen yang tergolong singkat berkisar 40-45 hari, pemasaran jangkrik juga tidak terlalu susah.

Dari satu kotak pemeliharaan saja kita bisa panen hingga 20 kilogram jangkrik, dengan harga jual yang saat ini sudah mencapai Rp 65 ribu per kilogram,” jelas Partamuan.

“Terkadang pun kita yang mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan pembeli. Apalagi konsumen kita kan tidak hanya terbatas di Kota Binjai, tetapi hingga ke luar kota seperti Banda Aceh, Pekan Baru, Rantau Parapat, Sibolga hingga Nias,” tandasnya.

Manfaatkan Peluang

Di sisi lain, Partamuan juga berharap, agar generasi muda dan para wiraswastawan yang lain bisa berinovasi dan meningkatkan kreatifitasnya dalam memulai usaha. Terutama mampu memanfaatkan peluang sekecilmungkin guna membangun jenis usaha yang berdayasaing dan mampu bertahan lama.

Meski hanya sebatas peternakan jangkrik, namun Partamuan mengaku bila usahanya ini mampu mendorong jenis usaha serupa untuk tumbuh, mengingat pemasarannya yang relatif mudah dibanding jenis usaha ternak lainnya.

“Untungnya jangkrik yang kita ternakan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan pakan burung saja. Sebab, kalau ada yang pesan untuk dijadikan produk makanan olahan, jelas kami makin tidak sanggup,” ujar Partamuan. Oleh: Wardika Aryandi.
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo, Opini. Bookmark the permalink.

1 Response to KULIAHKAN ANAK DARI JANGKRIK

  1. erwin says:

    Di mana alamat nya pak.. SayÀ mau membeli telur jangkrik..て方Aりだ Ỳоひ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *