SUMUT PERINGKAT 6 KEMATIAN IBU

MEDAN (Berita) : Jumlah kematian ibu di Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan estimasi tahun 2010, berada diperingkat 6 dari 33 provinsi dan termsuk pada kelompok beberapa provinsi penyumbang 25 persen kematian ibu di Indonesia. Sedangkan estimasi jumlah kematian anak, Sumut berda di peringkat 4 dan termasuk pda provinsi penyumbang 50 persen kematian anak di Indonesia.

“Penyebab kematian ibu dan anak itu bisa dikarenakan SDM dan sarana prasarana yang mungkin belum siap, juga termasuk masyarakatnya. Jadi harus bersama-sama untuk mengatasi hal itu termasuk media massa. Ibu hamil juga harus tau saat periksa kehamilannya apa yang harus didapatnya,” ungkap Kadis Kesehatan Sumut dr RR SH Surjantini MKes, saat Rakerda Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sumut, Kamis (14/2) di Hotel Madani Medan.

Bidan juga harus memberikan pengetahuan tentang pemberian ASI yang lebih baik pada bayi sampai usia enam bulan, lakukan penyuluhan tentang inisiasi menyusui dini. Peran IBI juga memberikan pengetahuan bagi orang yang belum menikah bagaimana menghadapi dan menjaga diri waktu hamil.
Untuk itu dalam rangka percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan menyediakan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) di tingkat desa sesuai standar. Terlaksananya rujukan efektip pada kasus komplikasi dan meningkatnya perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat melalui pemahaman dan pelaksanaan P4K serta Posyandu.

Dijelaskannya, seorang bidan yang ditempatkan di desa maka ia diwajibkan bertempat tinggal di desa serta bertugas memberikan pelayanan kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak. Dimana pembinaan dan pengawasan terhdap bidan sebagai pegawai tidak tetap dilakukan dengan mengikutsertakan organisasi profesi yaitu Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

“Dinkes Sumut sesuai tupoksinya telah melaksanakan berbagai program dan kegiatan yang diantaranya berbentuk peningkatan kemampuan bidan dalam pertolongan dan penanganan komplikasi maternal-neonata. Selain itu bidan diharapkan secara mandiri terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya,” ucap Surjantini.
Ia berharap kepada IBI agar secara kontinu membina anggotanya, salah satunya agar bidan praktek swasta melakukan pencatatan dan pelaporan ke Puskesmas sehingga diperoleh data kesehatan ibu dan anak yang valid dan lengkap di tingkat Puskesmas, dinas kesehatan kab/kota dan provinsi.
Sementara Ketua IBI Sumut, Idau Ginting mengatakan IBI terus berjuang untuk meningkatkan kualitas anggota melalui pelatihan dan pendidikan formal bidan. “Profesi bidan bukanlah profesi yang mengemban tugas ringan. Bidan ikut berkontribusi dalam pencapaian MDGs tahun 2015 yaitu menurunkan AKI dan AKB serta meningkatkan kesetaraan gender,” ujarnya.

Sekretaris Perwakilan BKKBN Sumut Drs Datang Sembiring MPHR menyampaikan salah satu program Keluarga Berencana (KB) yaitu program KB Jampersal. Untuk itu ia berharap kepada bidan untuk bekerjasama dengan BKKBN dengan menawarkan KB bagi ibu yang melahirkan. Juga bersama-sama menurunkan AKI dan AKB pasca persalinan.
“Pelaksananan KB dilapangan sangat tergantung pada bidan menawarkan alat kontrasepsi. Jadi peran bidan sangat penting. Semoag rakerda ini bisa memberikan semangat pada IBI untuk memberikan peningkatan kesehatan ibu dan anak dan pelayanan KB di Sumut,” harap Datang. (don)
sumber: beritasore

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *