RIWAYAT DESA KUTA GAJAH DI LANGKAT

Kutambaru. (Analisa). Desa Kuta Gajah atau Kampung Gajah dalam bahasa daerah setempat terletak di Kecamatan Kutambaru, saat ini mulai dikenal di Sumatera Utara.
Sebab, desa yang berjarak sekira 70 Km dari Kota Medan itu akan menjadi salah satu desa yang akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro(PLTMH) untuk memenuhi energy listrik di Sumut.

Nama Desa Kuta Gajah berasal dari bahasa suku Karo, artinya “Desa Gajah” atau Kampong Gajah. Namun menurut cerita dari sejumlah tokoh adat dan sesepuh desa itu, Kuta Gajah diambil dari salah satu desa di dataran tinggi Tanah Karo yang dibawa nenek moyang masyarakat desa itu, yang hijrah ke desa itu ratusan tahun yang lalu.

Menurut cerita yang dihimpun dari sesepuh desa Albert Sembiring Kembaren saat ditemui Analisa, Minggu (17/2) , asal usul Desa Kuta Gajah yang saat ini berkembang dan diami sekira 800 KK dan 1700 jiwa itu, ditabalkan namanya oleh pendahulunya saat pertama kali datang ke kawasan itu untuk membuka perkampungan dan perladangan.

Albert yang merupakan keturunan ketiga dari pendiri Desa Kuta Gajah mengisahkan sejarah singkat awal mula berdirinya Desa Kuta Gajah, diawali dengan hijrahnya sejumlah warga marga Sembiring Kembaren dari dataran tinggi Tanah Karo tepatnya Desa Kuta Mbelin Sampe Raya bekisar tahun 1780. Sejumlah warga itu kemudian menetap di pinggiran Sei Wampu di Kuala Murak.

Sepuluh tahun berikutnya sekira tahun 1790 sejumlah warga, yang juga berasal dari dataran tinggi Karo dan marga Sembiring Meliala juga mencoba untuk mengadu nasib di Kuala Murak untuk bercocok tanam padi, dengan harapan hasil yang mereka peroleh nantinya dapat dapat seperti halnya yang mereka dapatkan di kampung halamannya di Tanah Karo.

Kedatangan mereka disambut baik pendahulunya yang marga Sembiring Kembaren, dengan perjanjian meraka dapat memasuki perkampungan asalkan mau merubah marga mereka mengikuti marga warga kampung setempat.

Merubah Marga

Selain merubah marga, warga yang berkeinginan menetap didesa itu juga harus mengikuti peraturan adat setempat dengan persayaratan menyembelih satu ekor kerbau sebagai penebusnya serta membuka perladangan baru dan menetapkan nama wilayah perladangan itu dengan Kuta Gajah sebagaimana desa mereka di Tanah Karo. Perjanjian itu disepakati dan disaksikan seluruh warga desa.

Saat itu, disebutkan Albert perkampungan masih diketuai ketua adat dan kerap dihuni satu marga atau kelompok tertentu. Bahkan disebutkanya, tidaklah mudah bagi suku atau marga lain untuk menetap di satu kampung yang tidak semarga atau satu silsilah keturunan dengan mereka, banyak persaratan yang harus dipenuhi .

Sejak berkumpulnya dua marga yang sebelumnya berbeda itu, lanjut Albert mengisahkan menjadi satu marga yakni Sembiring Kembaren Kuta Gajah menjadi satu wilayah yang makmur serta subur.Setelah kemerdekaan RI diraih, Kuta Gajah menjadi satu desa yang dahulunya di sebut dengan Penghulu Bale Kuta Gajah yang dipimpin seorang Penghulu Bale di bawah kekuasaan Sultan Langkat.

Penghulu Bale pertama yang memimpin Kuta Gajah pada tahun 1945 yakni, Hitam Sembiring Kembaren yang menjabat hingga tahun 1949.

Setelah Hitam Kembaren lengser kedudukanya digantikan Loji Sembiring Kembaren yang memimpin sejak 1949 hingga 1952. Pada tahun berikutnya sejak 1952 hingga 1966 setelah Indonesia menguasai kedaulatan penuh, Kuta Gajah yang sebelumnya merupakan Penghulu Bale berubah menjadi sebuah kampung dengan nama Kampung Kuta Gajah yang dipimpin Kepala Kampung yang bernama Bugis Sembiring Meliala.

Pada tahun 1966 hingga 1995, Kuta Gajah dipimpin Runggu Sembiring yang merupakan hasil dari pemilihan masyarakat desa itu dan terpilihnya Runggu Sembiring menjadi awal berdirinya Kuta Gajah menjadi Sebuah desa yang dipimpin seorang kepala desa. Demikian seterusnya pada tahun 1995 kepemimpinan Runggu Sembiring selanjutnya digantikan Ngakurken Ginting hingga tahun 2011 dan saat ini desa yang pernah menjadi desa teladan tingkat Sumatera Utara itu, dipimpin Kepala Desa Rahmat Sembiring hingga saat ini.

Kini Desa Kuta Gajah setelah berkembang hingga saat ini, memiliki Sepuluh Dusun yang nama-nama dusun itu juga diambil dari dusun yang berada di Tanah Karo tempat asal masyarakat desa itu dahulunya yakni , Dusun Kuala Murak , Sogong , Kuta gajah , Kinangkong, Tanjung Gunung, Simolap, Lau Kawar , baru kasih,Mbacang dan Lau Itu. (als)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

2 Responses to RIWAYAT DESA KUTA GAJAH DI LANGKAT

  1. rani says:

    bagus sekali artikelnya, thanks 🙂

  2. rehulina sitepu says:

    Mantap mama tengah albert. Sejarah penting u anak cucu kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *