PENGUSAHA ANGKUTAN TOLAK KENAIKAN TARIF

MEDAN (Waspada): Direksi CV Medan Bus Jumongkas Hutagaol menyatakan ketidaksetujuannya atas rencana kenaikan tarif angkutan umum, yang saat ini sedang dalam proses, apalagi kalau sampai membuat calon penumpang merasa resah.

“Kalau pun harus terjadi kenaikan, janganlah seperti yang ada dalam rencana sekarang yaitu tarif pelajar dan mahasiswa yang sebelumnya Rp1.800 menjadi Rp3.000 dan tarif penumang umum yang sebelumnya Rp2.800 menjadi Rp5.000. Itu kan sudah memberatkan namanya,” kata Jumongkas Hutagaol kepada beberapa wartawan di kediamannya, Minggu (17/2).

Menurut dia, selain memberatkan calon penumpang, dengan kenaikan setinggi itu, justeru mengancam masa depan angkutan kota itu sendiri. Di mana masyarakat akan memilih moda angkutan lain seperti betor, atau sepedamotor. Menurut hitungan saya, kalau itu dipaksakan, dua pertiga calon penumpang akan ‘lari’ menggunakan moda angkutan lain, sehingga kenaikan tarif malah berdampak penurunan penghasilan bagi angkutan kota. Ini juga yang harus dipikirkan,” ujarnya.

Jumongkas menuturkan, sebelum memikirkan kenikan tarif angkutan kota, Organda sebaiknya terlebih dahulu membenahi keberadaan angkutan kota itu sendiri, terutama SDM para pengemudi angkutan kota. “Menurut saya, Organda sebagai organisasi angkutan darat tidak bisa terlepas dari para pengemudi, yang sebenarnya, disadari atau tidak, merupakan roda penggerak organisasi itu. Sebab siasia saja mengurusi merek angkutan maupun pemiliknya, kalau tidak ada pengemudi yang menggerakkan mobilmobil itu. Kalau tidak ada sopir, bagaimana perusahaan berjalan? kalau perusahaan tidak aktif lagi, lantas apa yang mau diurusi Organda?” sebutnya.

Itulah sebabnya, kata dia, Organda tidak bisa lepas tangan dengan keberadaan para sopir, dengan hanya mengurusi masalah tarif saja. “Sebelum menaikkan tarif angkutan kota, saat ini yang harus kita benahi terlebih dahulu bagaimana agar para penumpang merasa nyaman mempergunakan angkutan kota karena pelayanan yang baik dan itu semua terfokus pada SDM pengemudi. Misalnya pengemudi yang ramah, tidak ugalugalan dan lainnya,” tuturnya.

Dia berharap, jangan ada lagi pengemudi angkot yang tidak bertanggung jawab kepada pelayanannya, misalnya dengan sesuka hati mengalihkan penumpang kepada pengemudi maupun angkot lainnya.

Kata Jumongkas, para pengemudi juga harus ditata bagaimana berlalulintas yang baik dan tidak membahayakan penumpang maupun pengguna jalan lainnya. “Sehingga pengemudi angkot tidak lagi menjadi korban kalau ada pengemudi angkutan pribadi yang tak tahu berlalulintas. Maksud saya jadi korban adalah, karena kalau ada pengemudi mobil pribadi ugalugalan, selalu diibaratkan sebagai pengemudi angkot. Karena selama ini, pengemudi angkot selalu diidentikkan dengan pengemudi yang ugalugalan,” katanya.

Sementara, ditanya terkait akan beroperasinya Trans Medan, Jumongkas mengaku sama sekali tidak merasa risau, selama tidak mengambil trayek angkutan kota yang sudah ada. “Kalau tidak mengganggu atau merebut trayek yang sudah ada, mengapa harus risau?” kata dia seraya menambahkan sudah bisa menjangkau usia dari Trans Medan itu. (m14)
sumber: waspadamedan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *