KOPI TAK COCOK DITANAM DI LAHAN JERUK

MedanBisnis – Medan. Petani jeruk di Desa Tanjung Barus, Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo menyesal karena telah merubah tanaman jeruknya ke tanaman kopi. Harapan mendapatkan laba dari tanaman kopi setelah tanaman jeruk dianggap tak lagi menguntungkan, sia-sia karena ternyata pertumbuhan tanaman kopi tak seperti yang diinginkan.
Juni Perangin-angin, seorang petani jeruk yang terlanjur menebang tanaman jeruknya di lahan seluas 0,5 hektare menjadi tanaman kopi sejak 2 tahun lalu mengatakan, beberapa tahun terakhir, bertanam jeruk tak lagi menguntungkan. Hal tersebut dikarenakan serangan hama lalat buah, kesuburan tanah dan harga yang tidak stabil khususnya disaat panen raya. “Saya menggantinya dengan tanaman kopi sekitar 2 tahun lalu,” katanya kepada MedanBisnis, beberapa waktu lalu.

Pergantian tanaman jeruk menjadi tanaman kopi karena pada saat akan melakukan peremajaan tanaman, ia mendapati tanahnya tak lagi subur untuk tanaman jeruk. Pertumbuhan daun dan buah tidak maksimal.  Selain itu, serangan hama lalat buah juga menjadi penyebab banyaknya buah jeruk membusuk dan cepat gugur sebelum waktunya.

Ia mengaku kerap mengalami kerugian yang tidak sedikit lantaran buahnya tak bisa dipanen. “Serangan lalat buah ini sangat meresahkan, karena sulit dikendalikan,” katanya.

Kendala lain, harga jual buah jeruk juga kadang tidak stabil khususnya disaat panen raya. Harga jual dengan mudah mengalami penurunan tanpa diketahui sebabnya. “Karena itu, saya coba-coba tanam kopi, rupanya tidak menguntungkan bertanam kopi di lahan jeruk. Harapan kami justeru semakin hilang, kalau menyesal, sudah terlanjur pula,” katanya.

Juni menuturkan, di Desa Tanjung Barus, belum banyak petani jeruk yang beralih ke tanaman kopi. Luasan yang sudah berganti kopi menurutnya masih dalam jumlah kecil. Namun demikian, petani harus segera mengetahui bahwa bertanam jeruk tetap lebih menguntungkan dibandingkan bertanam kopi yang tidak pada tempatnya (lahannya). “Tanaman kopi yang ditanam 2 tahun lalu, sampai sekarang pertumbuhannya tidak maksimal,” kata lagi.

Menurut Kepala Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit Medan Johor, Unit Pelaksana Teknis Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Utema Silan, di Tanah Karo, khususnya yang menjadi sentra produksi jeruk tidak cocok untuk dijadikan tanaman kopi. “Jeruklah yang paling cocok,” tambahnya. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *