KADIS PERTAMANAN BANTAH MEMINTA, TUDING ADANYA PERMAINAN MAFIA

Soal Setoran Fee Proyek 10%

MedanBisnis – Medan. Kabar yang menghebohkan Kantor Walikota Medan terkait permintaan setoran komisi proyek (fee) secara paksa pada rekanan (pemborong) di Dinas Pertamanan Kota Medan terus bergulir.
Kepala Dinas (Kadis) Pertamanan Kota Medan Zulkifli Sitepu yang baru dilantik 22 Januari 2013 lalu menggantikan pejabat lama Erwin Lubis membantah telah meminta paksa, malah Zulkifli menuding adanya permainan mafia di dinas yang baru dipimpinnya tersebut.

“Sekarang begini saja, sebutkan saja siapa yang mengatakan itu. Biar saya buat laporan ke Polresta Medan. Itu tidak benar.

Tidak pernah saya bertemu mereka. Coba tanyakan langsung ke pemborong (rekanan-red) itu, apakah pernah bertemu dengan saya. Mungkin pun mereka tidak tahu seperti apa wajah saya,” kata Zulkifli kepada MedanBisnis, Minggu (17/2) malam, di sela-sela penertiban tiga billboard ilegal di Kawasan Jalan Imam Bonjol dan Jalan Adam Malik Glugur Medan.

Zulkifli mengatakan dirinya berani jika dipertemukan secara langsung pada pihak rekanan yang mengaku dimintai jatah fee proyek 10% tersebut. Apalagi, jika bersangkutan dapat menunjukan bukti yang mengenai permintaan dirinya tersebut.

“Saya berani bersumpah. Tidak pernah saya meminta itu. Saya hanya melakukan kroscek. Memang saya menyuruh anggota di kantor untuk memanggil pemborong itu. Saya panggil untuk sama-sama melakukan kroscek di lapangan pada pekerjaan yang sudah dikerjakannya apakah sesuai atau tidak. Saya tidak mau jika ada masalah dalam pekerjaan proyek di lapangan malah jadi kesalahan saya. Padahal itu, kesalahan dari pejabat sebelumnya,” ujarnya.

Dia mencontohkan seperti pekerjaan proyek pot bunga, lampu jalan dan lampu hias di jembatan. Beberapa pekerjaan itu didapatinya ada yang tidak beres seperti pekerjaan lampu jalan. Selain itu, ada pula pekerjaan lampu hias di pohon seperti di persimpangan jalan dekat rumah dinas, dekat Merdeka Walk dan simpang Pasar V Marelan banyak yang sudah mati.

“Masalah-masalah seperti itu maksud saya. Makanya saya minta pemborong kroscek bersama-sama ke lapangan. Itu masih ada masa perawatan dan itu masih tanggungjawab pemborong. Kalau sudah selesai, baru saya mau teken SPM-nya (Surat Perintah Membayar-red),” ujarnya.

Saat ditanya MedanBisnis, SPM itu sudah diteken sejak Kadis Pertamanan dijabat Erwin Lubis, Zulkifli membantah. Dia menjelaskan SPM itu belum selesai, karena pada saat itu ada masalah dengan keuangan Pemko Medan dan baru diteken pada tahun anggaran 2013 untuk pembayaran proyek pekerjaan di tahun anggaran 2012.

“Pekerjaan di tahun 2012 akan dibayarkan tahun anggaran 2013. Jadi, saya yang teken SPM itu. Saya tidak mau bermasalah. Masalah temuan itu sudah saya laporkan ke Inspektorat Kota Medan. Inspektorat pun bingung, dan meminta masalah itu untuk saya atasi sebelum menjadi temuan BPK. Saat ini BPK sedang melakukan audit. Saya sudah minta pemborong menyelesaikan itu, baru saya mau teken SPM itu,” jelasnya.

Selain itu, Zulkifli juga menilai adanya mafia bermain dalam dinasnya. Zulkifli juga sudah memberikan peringatan keras pada seluruh anggotanya di Dinas Pertamanan Kota Medan, untuk tidak terlibat dalam permainan yang merugikan PAD Kota Medan.

Dia kembali memberikan contoh tiga billboard reklame yang dibongkarnya pada, Minggu malam (17/2). Dalam penertiban itu, satu malam Dinas Pertamanan membongkar tiga billboard, bahkan satu diantaranya billboard berukuran raksasa atau bando dua kaki di dekat jembatan Glugur Adam Malik dan Jalan Imam Bonjol (dekat Hotel Tiara).

“Lihat saja sendiri, baliho ini bisa berdiri tanpa memiliki izin. Malam ini, kita bongkar semuanya biar bersih. Saya sudah peringatkan anggota maupun Kabid, jangan ada main mata dengan perusahaan reklame yang tidak punya izin. Mungkin ini juga yang membuat banyak orang tidak suka pada saya, karena tidak ada lagi tempat cari makan,” tandasnya. (sulaiman achmad)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *