BANYAK BENIH JAGUNG KADALUWARSA BEREDAR DI PASARAN

MedanBisnis – Medan. Pemerintah diminta melakukan pengawasan terhadap peredaran benih jagung yang sudah kadaluwarsa. Sebab, penggunaan benih yang kadaluwarsa berpengaruh terhadap capaian produktivitas.
Menurut salah seorang petani di Kelurahan Simalingar B, Kecamatan Medan Tuntungan, Selamat Firdaus Tarigan, selama ini benih yang didapatkan petani banyak yang sudah mendekati masa kadaluwarsa bahkan tidak jarang sudah kadaluwarsa.

Petani terpaksa membelinya karena tidak mungkin bertanam selain jagung. “Mau tak mau, kami harus menanam benih yang sudah ataupun mau kadaluwarsa,” katanya kepada MedanBisnis, beberapa waktu lalu.

Akibat penggunaan benih yang hampir dan sudah kadaluwarsa tersebut, produksi jagung tidak maksimal. Banyak benih yang ditanam tidak tumbuh. Benih yang tidak tumbuh, bisa mencapai 10 – 15 persen dari keseluruhan yang ditanam.

Dari yang seharusnya bisa menghasilkan 8 ton per hektare, hanya mencapai 6 ton per hektare. “Kalau sudah begini kami pun tak tahu harus mengadu kemana, mau menuntut siapa,” katanya.

Kesulitan yang dialami petani tidak itu saja. Petani juga kurang begitu mengenali benih unggul maupun yang tidak. Petani kerap menjadi bulan-bulanan penjual benih yang mempromosikan benihnya berkualitas padahal kenyataannya setelah ditanam, banyak yang tidak tumbuh. Selain itu, benih tersebut juga tidak tahan terhadap serangan hama. “Buah jagungnya juga tak ada bagusnya, banyak yang kopong,” ungkapnya.

Padahal, harga benih jagung tidaklah murah. Jika pertumbuhan benih tidak maksimal, sementara biaya produksi juga tidak bisa dikurangi, kerugian petani semakin besar. Begitupun, kata dia, saat ini beberapa petani sudah mulai berhati-hati sebelum membeli benih jagung.

Paling tidak, petani hanya akan membeli setelahbenih tersebut diujicobakan terlebih dahulu keunggulannya. Jika tidak, petani tak akan mau membelinya. “Kalau tak ada buktinya, dikasih pun kami tak mau,” ujarnya.

Menurut Asosiasi Petani Jagung Sumatera Utara (Sumut) Jemaat Sebayang, persoalan benih kadaluwarsa merupakan tanggung jawab pemerintah yang lalai mengerjakan fungsi pengawasannya. Seharusnya, pemerintah berperan lebih aktif dalam mengawasi beredarnya benih kadaluwarsa karena sangat meresahkan petani. “Inilah yang terjadi, kalau benih seperti ini yang ditanam, bisa gawat petani kita, produksi jagung Sumut juga pasti terancam,” katanya.

Sama halnya dengan ketidakmampuan petani memilih jagung yang bermutu, sangat disayangkan. Ini menunjukkan pemerintah tidak pernah turun ke lapangan memberikan pemahaman tentang benih jagung yang bermutu. “Pemerintah harus lebih sering melakukan sosialisasi ke petani, kasih tunjuk bagaimana benih yang unggul agar petani tidak lagi memakai benih yang sembarangan,” tandasnya. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *