ANCAM KESELAMATAN WARGA, PENJUALAN MERKURI MINTA DIHENTIKAN

Banda Aceh, (Analisa). Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Aceh Ir Husaini Syamaun meminta semua pihak untuk tidak menjual merkuri secara bebas di Aceh. Karena, penjualan barang yang merupakan limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) ini mulai mengancam keselamatan warga Aceh.
Menurut Husaini, merkuri lebih berbahaya dari narkoba, karena dampak yang dirasakan oleh para pemakai merkuri lebih terlihat nyata dan bisa berdampak pada keturunan dari para pemakai atau pengguna merkuri ini.

Dikatakan, merkuri dalam beberapa tahun terakhir ini marak digunakan oleh masyarakat (para penambang emas) di Aceh Selatan dan sejumlah wilayah barat-selatan Aceh.

“Saat saya ke satu daerah di kawasan barat-selatan Aceh, betapa terkejutnya melihat mereka menggunakan merkuri secara bebas dan memegangnya dengan tangan telanjang,” ungkap Husaini Syamaun, di Banda Aceh baru-bar ini.

Menurutnya, merkuri adalah logam berat yang dapat menimbulkan sakit parah bila dilepaskan ke lingkungan oleh usaha pertambangan, pembakaran batu bara, atau limbah produk-produk yang mengandung merkuri. “Merkuri sangat beracun,” tegasnya.

Ketika merkuri yang menumpuk di sungai, danau, dan aliran air bercampur dengan tanaman yang membusuk, akan jadi lebih beracun yang disebut metil merkuri. Meski dalam jumlah sangat sedikit merkuri dapat meracuni semua ikan di dalam kolam atau sungai. Metil merkuri di lingkungan akan tetap bersifat racun selama berabad-abad.

Menghirup atau menyerap merkuri dalam jumlah yang sangat sedikit dapat merusak syaraf, ginjal, paru-paru, otak dan bayi yang lahir cacat. Masalah kesehatan ini membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum dapat terlihat.

Husaini menambahkan, sampai saat ini tidak ada izin peredaran merkuri di Aceh, karenanya aparat kepolisian bisa menangkap para penjual dan pemakai bahkan yang membawa merkuri secara bebas. “Saya pernah berkoordinasi dengan pihak kepolisian menyangkut hal ini,” ujar Husaini.

Harus Dihentikan

Direktur Eksekutif Walhi Aceh TM Zulfikar mengungkapkan, saat ini merkuri sangat bebas dijual di pasaran. Bahkan, di pasar Aceh, Banda Aceh merkuri dijual bebas seperti barang kelontong.

Penjualan merkuri ini harus dihentikan dan dicegah, sebelum lebih banyak lagi masyarakat Aceh yang menggunakannya dan mengancam keselamatan jiwa masyarakat. Sebab, dampak langsung penggunaan merkuri secara bebas bisa mengakibatkan cacat seumur hidup.

Menurut TM Zulfikar, pihaknya sejak tahun lalu sudah mengingatkan pemerintah akan bahaya limbah merkuri yang berasal dari penambangan emas tradisional di Kabupaten Aceh Selatan. Sebab, limbah merkuri itu muali mencemari lingkungan.

“Limbah merkuri ini berasal dari penambangan emas tradisional. Pencemaran limbah ini mulai dirasakan masyarakat,” katanya.

Walhi Aceh juga telah pernah menyurati Bupati Aceh Selatan menyusul adanya limbah merkuri yang diduga sudah mencemari sejumlah kawasan di kabupaten itu. Sejumlah kasus akibat limbah merkuri mulai dirasakan, seperti matinya sejumlah pohon kelapa dan rumbia di gampong (desa) Baru, Kecamatan Labuhan Haji, serta ikan peliharaan di Gampong Alue Meutuah, Kecamatan Meukek, diduga akibat limbah merkuri.

Tidak hanya itu, pada tahun lalu dua ekor kerbau milik warga di Kecamatan Sawang, masing-masing seekor di Gampong Meuligo dan seekor lagi di Gampong Tring Meuduro mati, yang diduga karena limbah merkuri.

“Limbah merkuri ini setelah digunakan mengolah emas dibuang sembarangan termasuk ke sungai,” ujar TM Zulfikar seraya menambahkan, bahkan bahayanya pembuangan limbah merkuri dilakukan di daerah pantai dan kawasan pemukiman padat.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) RI No.30/MPP/Kep/7/1997 tentang barang yang diatur tata niaga impornya, distribusi, jual beli merkuri harus terdaftar dan melalui izin kepala daerah dengan persyaratan kelayakan lingkungan hidup yang ketat.

“Untuk itu, pemerintah daerah juga perlu menertibkan peredaran merkuri secara ilegal yang marak terjadi di Aceh Selatan. Jika ini dibiarkan, maka pencemaran limbah merkuri di kabupaten itu semakin tidak terkendali,” tegas TM Zulfikar.(irn)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *