INVESTOR TUNGGU SEI MANGKEI 2015

MedanBisnis – Medan. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang terletak di Kabupaten Simalungun harus selesai tepat waktu yakni pada tahun 2015. Apabila tidak, calon investor akan membatalkan rencana investasinya seperti yang terjadi sebelumnya saat kawasan ini sudah mulai diperkenalkan pada 2011 lalu. Selain itu, percepatan ini juga akan mampu mendorong hilirisasi industri di Sumut.

Pemerhati Kawasan Industri, Chairul Muluk, mengatakan, pada 2011 sedikitnya ada sembilan calon investor yang tertarik berinvestasi pada berbagai bidang di Sei Mangkei. Namun sebagian besar kemudian memilih mundur karena tidak adanya kepastian waktu operasional kawasan tersebut.

Mereka memilih berinvestasi ke negara lain yang lebih memiliki kepastian, salah satunya ke Malaysia. “Jadi persoalan tenggat waktu operasional ini penting untuk diperhatikan seluruh pihak terkait. Makanya, Sei Mangkei tahap pertama harus sudah selesai tahun 2015.

Karena jangka waktunya hanya tiga tahun jika dihitung dari awal tahun 2012 lalu,” katanya pada acara Seminar Diseminasi Penelitian Peranan Kawasan Ekonomi Khusus Dalam Perekonomian Sumatera Utara (Sumut), di Medan, Kamis (14/2).

Menurutnya, untuk saat ini, salah satu calon investor yang sangat potensial yaitu PT Unilever Tbk. Perusahaan ini sudah menunggu sejak September 2011. Rencananya akan membangun pabrik pada lahan seluas 27 ha dengan total investasi berkisar Rp 2,7 triliun.

Perusahaan ini menjadi tolak ukur masuknya industri lain ke kawasan industri Sei Mangkei. “Banyak yang bisa kita peroleh dengan berinvestasinya Unilever ke Sei Mangkei. Tidak hanya pabrik tetapi juga teknologi-teknologi yang bisa dimanfaatkan. Jangan sampai perusahaan ini membatalkan rencana investasinya karena ketidakpastian,” tegasnya.

Menurutnya, keberadaan investor sangat penting untuk keberlangsungan satu kawasan industri. Berbagai persoalan yang menghambat operasional, seperti kepastian status lahan harus segera diselesaikan. Pengusaha, sebutnya, tidak akan mau masuk ke daerah yang tidak jelas status lahannya. “Status lahan sangat penting.

Memang peraturan daerah (perda) rencana tata ruang dan wilayah (RT/RW) untuk lahan Sei Mangkei seluas 2002,77 ha sudah diterbitkan Kabupaten Simalungun. Namun perubahan status lahan dari hak guna usaha (HGU) menjadi hak pengelolaan lahan (HPL) masih diproses oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN),” ujarnya.

Kepala Bagian Perencanaan dan Pengkajian PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 3, Krishna Suryabuana mengatakan pihaknya sebagai pengelola KI Sei Mangkei optimis bisa menyelesaikan seluruh target yang ditetapkan walaupun persoalan status lahan masih menjadi kendala utama untuk operasional menyeluruh kawasan industri.”Sesuai UU Nomor 39 tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kita mendapat tugas membangun kawasan industri pada Februari 2012 lalu dan dapat tenggat waktu tiga tahun. Kita akan terus menyelesaikan apa saja sesuai target tersebut,” katanya.

Secara fisik, lanjut dia, saat ini sudah ada fasilitas yang beroperasional pada kawasan tersebut yaitu pembangkit listrik tenaga biomassa sawit  (PLTBS) sebesar 2×3,5 megawatt (MW), pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas produksi 45 ton per jam. Selain itu ada industri minyak inti sawit dengan kapasitas produksi 400 ton per hari. Begitu juga dengan water treatment plant untuk pengolahan limbah dan tentunya infrastruktur jalan kawasan industri.

Hanya saja, dia mengakui, calon investor belum bersedia masuk karena persoalan legalitas lahan. PTPN 3 sudah mengirimkan persyaratan dokumen berupa Perda RTRW dan Surat Keputusan Badan usaha Pembangunan dan Pengelola Sei Mangkei dari Pemerintah Kabupaten Simalungun kepada PTPN untuk memperoleh izin perubahan peruntukkan dari HGU ke HPL sejak Januari lalu kepada BPN Pusat.

Pihaknya berharap aspek legalitas lahan ini bisa segera selesai sehingga dari HGU bisa menjadi HPL dan terakhir menjadi HGB yang bisa langsung atas nama tenant atau calon investor. “Kalau aspek legalitas ini sudah selesai baru investor bersedia masuk. Selain Unilever, investasi lain yang juga cukup besar yaitu rencana konsorsium antara PTPN 3 dan PTPN 4 membangun pabrik oleochemical dengan dana sekitar Rp1,6 triliun,” pungkasnya. (elvidaris simamora)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *