RP 4 TRILIUN HABIS UNTUK IMPOR JERUK

MedanBisnis – Karo. Hingga saat ini, Indonesia masih kekurangan produksi buah jeruk.   Tidak tanggung-tanggung, sekira Rp 4 triliun digunakan untuk mengimpor jeruk guna memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri tahun 2012 lalu.
Data Badan Pusat Statistik menyebutkan kebutuhan jeruk nasional  berkisar 2,5 juta ton per tahun. Tapi total produksi nasional hanya sekitar 1,2 juta ton, sudah termasuk dari Sumut sekitar 50%-nya atau 600 ribu ton per tahun. Jadi ada kekurangan kebutuhan jeruk nasional sekira 1,3 juta ton per tahun, di mana selama ini yang bisa dipenuhi melalui aktivitas impor hanya 830 ribu ton per tahun. Artinya, konsumen nasional masih membutuhkan 400 ribu hingga 500 ribu ton jeruk lagi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI Hasanuddin Ibrahim mengemukakannya di sela-sela Pencanangan Gerakan Pengendalian Hama Lalat Buah, di Desa Tanjung  Barus Kecamatan Barusjahe, Rabu (13/2). Hadir di situ anggota DPD RI Parlindungan Purba, anggota DPR RI Anton Sihombing, Kepala Dinas Pertanian Sumut, M.

Roem, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan  Karo  Antoni Tarigan, Kepala UPT Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut (UPT BPTPH) Bahrudin Siregar, dan Kepala Balai Pengkajian dan penelitian Teknologi Pertanian, Ali Jamil.

Ibrahim mengatakan, di seluruh Indonesia, Kabupaten Karo merupakan penghasil jeruk  tertinggi dan terluas produksinya. Tapi, katanya, saat ini banyak kendala yang dialami petani jeruk khususnya di Tanah Karo. Semestinya hasil produksi 20 ton per hektare dapat diperoleh, namun akibat serangan hama dan penyakit, perolehan pendapatan perkapita petani berkurang tajam.

Padahal, dia mengatakan, jeruk siam madu yang paling banyak tumbuh di Kabupaten Karo merupakan aset nasional yang saat ini mengalami keterpurukan akibat serangan lalat buah. Sebagai upaya untuk penyelamatan, pemerintah sudah mencanangkan gerakan nasional pengendalian lalat buah dengan dukungan anggaran yang cukup besar.

Menurut Ibrahim, jeruk Sumatera Utara yang lebih dikenal dengan nama jeruk Medan ini distribusinya meluas di seluruh Sumatera, Jawa, Bali Papua, hingga pasaran ekspor dan keberadaannya sepanjang tahun. Namun, katanya, jeruk ini mengalami keterpurukan akibat serangan lalat buah. “Kita harus menyelamatkan jeruk ini agar tidak terus terpuruk karena merupakan asset nasional,” tegasnya.

Tahun ini, katanya, pemerintah pusat menganggarkan dana Rp 800 miliar untuk pengembangan tanaman hortikultura di seluruh Indonesia. “Misalnya untuk pengembangan jeruk, tidak hanya di Karo yang lahannya mencapai 12.000 – 14.000 hektare, tapi juga di Dairi, dan Simalungun, atau daerah lain yang punya komoditas hortikultura, ” ungkapnya.

Anggota DPR RI, Anton Sihombing, mengatakan pemerintah pusat menganggarkan dana lebih dari Rp 19 triliun untuk mendukung sektor pertanian. “Karo memiliki lahan jeruk terluas, produksi juga tertinggi di Indonesia, bahkan perputaran uang juga sangat tinggi, misalnya produksi 10 ton per hektare dengan luas lahan 14.000 hektare dan harga jual Rp 6.000 per kilogram, angkanya sangat fantastis,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara, M Roem menjelaskan, di tahun 2010 – 2012, produksi jeruk Sumut mengalami penurunan produksi hingga 60%. Faktor penyebabnya antara lain serangan lalat buah dan perubahan iklim. “Sehingga dalam pengendaliannya, harus serentak, tidak boleh terpisah-pisah,” katanya sambil menambahkan anggaran untuk sektor pertanian di Sumut mencapai Rp 230 miliar.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Karo, Antoni Tarigan menerangkan, luasan lahan jeruk mencapai 14.000 hektare. Di tahun 2013 ini, Kabupaten Karo berencana untuk melakukan peremajaan tanaman yang sudah berusia tua dengan anggaran mencapai Rp 5 miliar dan dalam pelaksanaannya akan dilakukan tender mengingat besarnya nilai. “Dalam gerakan pengendalian ini harus bisa berhasil, sehingga jeruk Karo bisa kembali bangkit,” tambahnya.

Sekretaris Asosiasi Eksportir Hortikultura Indonesia (AEHI) Sumut, Joe Harlim Sinuhaji, berharap petani Karo semakin termotivasi meningkatkan produksi jeruk, mengingat kebutuhan total konsumsi nasional jeruk masih  kurang sekitar 400 ribu sampai 500 ribu ton pertahun.

“Petani jeruk Karo harus mengambil kesempatan untuk memenuhi kekurangan kuota, dengan cara meningkatkan jumlah produksi jeruk yang berkualitas,” katanya. (dewantoro/ck01)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *