PROYEK SUMUR BOR DINAS TARUKIM TERBENGKALAI

PERCUT SEI TUAN – Upaya korupsi sepertinya tidak ada henti-hentinya di Sumatera Utara (Sumut). Walaupun aparat penegak hukum di Sumut  baik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumut dan Kepolisian Daerah (Polda) Sumut  terus berkerja dalam hal pemberantasan korupsi tersebut tetapi, masih banyak juga pejabat yang bermain-main dengan anggaran pemerintah guna memperkaya diri sendiri.

Seperti yang terjadi pada paket Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum (PKPM) yang dibangun di lahan kantor Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang  senilai Rp1.422 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2012 diduga menyalah. Proyek dikerjakan CV Lima Pilar Utama dengan massa kerja selama 180 hari itu belum juga beroperasi sampai saat ini.

Pantauan Waspada Online, siang ini,  terlihat proyek yang semestinya sudah bisa dirasakan oleh masyarakat tetapi sampai saat ini masih terbengkalai dan tidak berpungsi. Masyarakat dikawasan tersebut sangat mendambakan air sumur yang katanya akan dimanfaatkan oleh khalayak ramai di Desa Kolam tersebut.” Semestinya  masuk tahun  2013, sumur bor tersebut sudah bisa digunakan tetapi kami pun heran kenapa sampai saat ini belum juga beroperasi,” ujar Kepala Desa Kolam Kamaruddin kepada Waspada Online, siang tadi.

Informasi Waspada Online, menyebutkan kalau pekerjaan paket PKPM itu baru dimulai kembali setelah beberapa bulan lalu sempat berhenti tanpa diketahui sebab diberhentikannya pekerjaan pengeboran sumur sedalam 250 meter itu yang akan dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtadeli nantinya.

Pada lanjutan pengerjaan kemarin, pekerja sudah menanamkan dua batang pipa berdiameter 10 cm dengan panjang 10 meter. Sebelumnya salah seorang dari empat pekerja menyebutkan, sebanyak 11 batang pipa berdiameter 10 cm itu bisa diselesaikan dalam 120 menit (2 jam).

Sementara Boy Adi warga sekitar yang juga bekerja di Dinas Pertambangan Sumut Bidang Geologi menyebutkan, pekerjaan yang sempat berhenti itu diduga mata bor jepit atau dinding sumur runtuh. Sebab pengerjaannya hanya pakai lumpur biasa. “Menggunakan lumpur biasa memang bisa, namun risiko pekerjaan dengan kedalaman 250 meter sangat tinggi kegagalan jika tidak  menggunakan bentonid untuk menaikan lumpur dan menyemen dinding secara otomatis agar tidak runtuh,” jelasnya.

Dalam hitungan tekhnik, CV Lima Pilar Utama terlalu efisien irit dan tidak menutup kemungkinan memark up biaya pekerjaan. “Dalam pelaksanaan pengajuan tender bisa saja disanggupi penyelesaian pekerjaan selama 180 hari itu menggunakan bentonid. Dalam perhitungan tekhnik bisa dikerjakan selama 3 bulan. Namun dalam pelaksanaan pekerjaannya menggunakan lumpur biasa pekerjaan sudah pasti makan waktu lama dan bisa memark up pekerjaan kedalaman karena dinding sumur runtuh,” ujarnya.

Kesalahan lainnya juga jelas terlihat. Menurut Boy yang membidangi pengeboran Dinas Pertambangan Sumut selama 11 tahun itu, instalasi pendistribusian sudah selesai di pasang, sedangkan sumurnya belum ada realisasi dan diketahui berapa besar debit tekanan air yang bisa diberikan.

“Kalau orang awam bilang, yang penting dikerjakan dan dapat proyek dan keuntungan oleh orang-orang tertentu, namun tidak ada di rasakan keuntungannya oleh masyarakat. Kalau bahasa hukumnya merugikan negara atau perbuatan pidana korupsi,” katanya.

Satker APBN Dinas Tarukim Sumut Sahta Bangun yang dihubungi Waspada Online siang tadi menyebutkan kalau sumor bor tersebut sudah selesai dan masih ada hal ayang akan di rampungkan.” Proyek tersebut sudah selesai kita masih mempersiapkan rencan pengoprasiannya,” ujar Sahta Bangun.

Menanggapi hal tersebut Kepala Devisi Investigasi LSM Lumbung Amanat Rakyat Sumater a Utara (LaraS)  Muhammad Arvin menyebutkan kalau pihak terkait dalam hal ini Satker dan PPK Dinas Tarukim untuk bertanggung jawab. “ Jangan biarkan proyek tersebut terbengkalai bergitu saja, karena dana yang digun akan dalam proyek tersebut adalah uang rakyat dan dipergunakan untuk kepentingan rakyat,” ujar Arvin.
sumber: waspada

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *