KURIKULUM BARU TINGKATKAN KOMPETENSI SISWA

Medan-andalas Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) Sumatera Utara Prof DR Syawal Gultom MPd mengemukakan, kurikulum baru bertujuan meningkatkan kompetensi siswa, terutama dalam menghadapi tantangan di masa depan.

”Tantangan tersebut meliputi globalisasi, permasalahan lingkungan, kemajuan teknologi informasi, serta konvergensi ilmu dan teknologi,” ujar Syawal Gultom di hadapan kurang lebih 2000 guru, yang tampil sebagai narasumber pada Sosialisasi Kurikulum 2013 di Aula SMA Negeri 7 Jalan Timor Medan, Sabtu (9/2).

Sosialisasi melibatkan guru SDN/Swasta, SMP/SMA/SMK negeri dan swasta di Medan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Sumut diwakili Drs H Basrin Siregar, Kepala LPMP Sumut Drs Bambang Winarji, Kadis Pendidikan Kota Medan Drs Parluhutan Siregar, dan Ketua Dewan Pendidikan Kota Medan Dr Marsyuhito Solin.

Menurut Syawal Gultom, kurikulum baru akan tingkatkan kompetensi siswa seperti kemampuan kreativitas. Perubahan kurikulum pendidikan bukan serta-merta dilakukan tanpa memiliki dasar acuan yang jelas.

Gultom menyebutkan, setidaknya ada delapan standar yang dijadikan acuan dalam perubahan kurikulum. Di antaranya standar pendidik untuk meningkatkan kualifikasi tenaga pendidik, standar pengelolaan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan.

”Itu semua yang tercakup dalam kurikulum. Jadi, semua itu yang kita benahi dan kita sempurnakan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kurikulum baru berbasis pada proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menalar, dan meningkatkan kreativitas.
Kemampuan kreativitas, katanya, diperoleh dari pendidikan, 1/3 kemampuan inteligensia dari pendidikan dan 2/3 sisanya dari genetik.

”Itu kenapa kurikulum baru menekankan pada pengembangan kreativitas anak,” terangnya.

Pendekatan scientific ini, tambahnya, yang nantinya akan menjadi ruh kurikulum baru. Artinya, siswa atau anak didik akan didorong pada pendekatan observasi, dengan menjadikan fenomena alam, social dan budaya sebagai objeknya. Selain itu, kemampuan eksperimen dan menyampaikan pertanyaan akan dijadikan salah satu bentuk penilaian. Dia menekankan agar publik tidak perlu khawatir dengan perubahan kurikulum, karena dilakukan untuk menghadapi tantangan yang terus berubah.

”Selain untuk menjawab tantangan yang terus berubah, perubahan kurikulum juga ditujukan untuk memanfaatkan momentum bonus demografi yang diperkirakan berlangsung sepanjang 2010–2025. Bonus demografi tersebut dinilai sebagai modal besar bagi Indonesiauntuk meningkatkan kualitas dan kompetensi masyarakatnya yang sebagian besar terdiri atas usia produktif.

”Jadi, ini kesempatan kita meningkatkan kompetensi siswa. Kalau tidak dikelola dengan baik, usia produktif bisa hilang,” ucapnya.

Disebutkan, ada sejumlah perbedaan mendasar antara Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dengan Kurikulum 2013. Kalau kurikulum sebelumnya mewajibkan guru untuk menyusun silabus, kurikulum baru tidak ada kewajiban menyusun silabus.

”Keliru jika kurikulum yang baru ini dikatakan memberatkan guru, justru sebaliknya meringankan,” tandasnya.

Perbedaan lainnya, jika dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 mata pelajaran yang membentuk standar kompetensi, dalam Kurikulum 2013 standar kompetensi dibuat terlebih dulu. Setelah itu, baru kemudian ditetapkan mata pelajaran yang dibutuhkan. Itulah salah satu aspek paling fundamental yang membedakan kurikulum lama dengan kurikulum yang baru.

”Kurikulum 2013 standar kompetensinya ditentukan lebih awal, kalau KBK 2004 mata pelajarannya dulu yang ditentukan,” tuturnya. (RIL)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *