TAK KUNJUNG DITEMBAK JAKSA, GEMBONG NARKOBA MATI DISERANG SAKIT

MedanBisnis-Jakarta. Di tengah kecaman terhadap Kejaksaan yang tak juga mengeksekusi mereka yang dijatuhi hukuman mati, seorang terpidana hukuman mati, mati. Bukan ditembak tapi karena diabetes. Terpidana mati itu warga negara Nigeria, Gap Nadi alias Papa. Dia meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap, Senin (4/2) malam.
“Iya, ada yang meninggal, narapidana LP Batu, Nusakambangan,” kata juru bicara Ditjen Pemasyarakatan (PAS), Akbar Hadi,  Rabu (6/2).
Papa meninggal karena diabetes yang diidap menahun. Namun terkait kematian Papa ini, Kepala LP Batu Kunto Wiryanto belum bisa dihubungi.

Papa tercatat sebagai napi yang seharusnya sudah dieksekusi Kejaksaan Agung 6 tahun yang lalu. Pada 2006, Kejagung telah memasukkan nama Papa ke dalam 16 nama daftar tunggu regu tembak. Papa menghuni LP Batu sejak tahun 2008 silam.

“Seperti yang diinginkan oleh Badan Narkotika Nasional agar eksekusi pidana mati pelaku tindak pidana narkoba dipercepat. Kejaksaan sudah siapkan eksekusi pidana mati 16 orang,” kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung I Wayan Pasek Suartha dalam jumpa pers pada 27 Juni 2006.

Papa masuk daftar tunggu eksekusi bersama 15 terpidana lainnya. Mereka yaitu :

1.Okonwo Nonso Kingsley, WN Nigeria
2.Denny alias Kebo
3.A Yam
4.Hunprey Ejike alias Doctor, WN Nigeria
5.Gap Nadi alias Papa, WN Nigeria
6.Eugene Ape alias Felixe, WN Nigeria
7.Ek Fere Dike Ole Kamala alias Samuel
8.Meirika Franola alias Ola alias Tania
9.Rani Andriani alias Melisa Aprilia
10.Indra Bahadur Tamang, WN Nepal
11.Namaona Denis, WN Malawi
12.Bunyong Khaosa Ard, WN Thailand
13.Michael Titus Igweh, WN Nigeria
14.Hillary K Chimizie, WN Nigeria
15.Deni Setia Maharwan alias Rapi Mohamed Majid
16.Jun Hao alias Vans Liem alias A heng

Atas lambannya eksekusi mati, banyak pihak geram. DPP Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) menduga ada sesuatu yang disembunyikan dari Kejagung di luar alasan hukum.

“Saya tidak bisa memahami apa alasan Kejaksaan Agung (Kejagung) menunda-nunda. Apakah ada ‘permintaan khusus’ dari pihak tertentu karena sedang diurus Peninjauan Kembali (PK) atau grasinya yang akan mengubah putusan hukuman mati menjadi jangka waktu tertentu seperti yang sudah-sudah?” kata Ketua Umum DPP Granat Henry Yosodiningrat, Rabu (6/2). (dtc)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *