PETANI BUTUH BANTUAN MESIN PEMBUATAN SIRUP NENAS

MedanBisnis – Labuhanbatu. Petani nenas pane di Desa Pasar 3, Kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu mengharapkan pelatihan dan bantuan mesin pembuatan sirup nenas.
“Sebagai sentra perkebunan penghasil nenas Pane, Desa Pasar 3 potensial menghasilkan berbagai produk turunan dari buah nenas Pane. Karena itu, petani sangat mengharapkan bantuan pemerintah baik dalam pembinaan maupun pengadaan mesin olah nenas,” ungkap Zakaria, Kepala Desa Pasar 3, Selasa (5/2) kepada MedanBisnis, Selasa (5/2) di Labuhanbatu.

Disebutkannya, saat ini luas kebun nenas di Desa Pasar 3 berkisar 300-an hektare. Dimana, produksi perhari mencapai 3.000-an buah. “Di Desa Pasar 3 ada 300 orang petani nenas dengan luasan kebun mencapai 300an hektare,” ujarnya.

Zakaria menambahkan, harga jual buah nenas yang matang mencapai Rp3.000 perbuah. Sedangkan untuk nenas yang masih mentah hanya Rp1.500 perbuah. Umumnya, kata dia, buah nenas itu dikirim ke berbagai daerah, baik ke kota Rantauprapat, Medan dan daerah lainnya.

Pada masa-masa tertentu, yakni ketika panen raya produksi nenas, akan jauh meningkat. Sebab, musim panen nenas ada panen raya dan ada masa trek (penurunan buah, red. “Saat ini masa trek, penurunan jumlah hasil panenan,” jelasnya.

Ketika buah melimpah lanjut Zakaria, pada masa panen raya, produksi nenas perharinya mencapai 5.000-7.000an buah. Dan, musim itu terjadi pada bulan Mei dan Desember disetiap tahunnya.
Ia mengakui jika petani sudah melayangkan surat permohonan bantuan pemberian mesin teknologi tepat guna (TTG) pembuatan sirup nenas ke Dinas Pertanian Labuhanbatu. “Kita mengaku optimis jika pengadaan mesin itu terealisasi optimalisasi hasil perkebunan nenas pane akan tercapai,” tambahnya.

Selain pengadaan mesin, pihaknya juga berharap pemerintah memberikan pelatihan teknik pembuatan sirup nenas. Karena, para petani masih minim pengetahuan tentang pengolahan buah nenas secara baik. “Sudah pernah dicoba pembuatan nenas pane menjadi sirup. Tapi, hasilnya masih terdapat endapan yang tak melarut dalam sari nenas jika sudah bermalam,” sebutnya.

Menurut dia, sistem pengelolahan buah nenas itu lebih ideal dilakukan dengan pengefektifan kelompok tani (Koptan). “Rencananya nanti pengelolaan dengan sistem Koptan,” tandasnya.
(fajar dame harahap)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *