KOLABORASI GIZ, TAMAN SIMALEM DAN UNIVERSITAS

Masih soal pertanian organik. Keberadaan Taman Simalem yang mengembangkan pertanian organik diharapkan menjadi model percontohan pertanian yang ramah lingkungan bagi petani Sumatera Utara (Sumut) khususnya Kabupaten Karo.
Seperti yang diungkapkan Senior Advisor GIZ Sulaiman, GIZ berkonsentrasi untuk pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. “GIZ akan menyiapkan pakar-pakar yang siap diterjunkan untuk membantu proyek-proyek pemerintah Jerman di luar negeri khususnya bagi Negara-negara ASEAN dalam pengembangan pertanian yang ramah lingkungan,” sebutnya kepada MedanBisnis, Jumat pekan lalu di kantornya, Komplek Citra Garden, Medan.

Didampingi Konsultan GIZ, Frits Silalahi, Sulaiman mengatakan, salah satu kegiatannya di Indonesia  khususnya di Sumut adalah pengembangan pertanian organik atau pertanian ramah lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, GIZ bekerja sama dengan Taman Simalem sebagai pihak swasta yang akan membantu dalam hal pemasaran, sedangkan dengan universitas dalam hal ini Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) sebagai penyedia teknologi dan laboratorium.

Target dari semua ini adalah, bagaimana lahan pertanian yang ada di Taman Simalem dan sekitarnya milik petani bisa melakukan pertanian organik dan disertifikasi oleh lembaga yang diakui di Indonesia, salah satunya LeSOS. “GIZ, selain menyediakan teknologi juga membantu petani mendapatkan sertifikasi organik sehingga memberikan nilai tambah bagi petani,” kata dia.

Taman Simalem dan GIZ kata dia, punya visi dan misi yang sama, yakni membangun pertanian yang berkelanjutan. Karena itu, GIZ mempunyai kesepakatan dengan Taman Simalem, antara lain memberikan training kepada agronomist yang dimiliki Taman Simalem sehingga bisa menjadi tenaga pengajar di level petani.

Kemudian membuat semacam klinik tanaman untuk menganalisis hama dan penyakit. Ini penting, sehingga petani bisa mengendalikan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan cara organik. Tidak seperti yang dilakukan selama ini menggunakan pestisida dalam jumlah tinggi. Akibatnya, produk pertanian petani tidak memiliki daya saing bahkan memiliki posisi tawar yang yang rendah.

Parahnya lagi, eksporpun tidak bisa dilakukan karena residu yang terkandung dari tiap produk yang dihasilkan. “Inilah salah satu tugas GIZ, menekan penggunaan pestisida dan kimia lainnya dalam kegiatan pertanian. Apalagi kondisi lahan pertanian di Indonesia sudah pada tahap memprihatinkan termasuk Karo. Hanya dengan organik saja tanah bisa di perbaiki baik sifat fisika, kimia dan biologinya,” jelas Sulaiman.

Selain itu, GIZ juga bertanggungjawab membangun market atau pasar pertanian organik dan produk organik yang dihasilkan harus memenuhi mutu Standar Nasional Indonesia (SNI). “Makanya, kami membangun kerja sama dengan Taman Simalem mengingat Taman Simalem mempunyai hotel dan resort yang  bisa menjadi pasar organik yang dihasilkan petani nantinya. Sebab, GIZ sendiri tidak boleh berbisnis,” kata dia.

Bahkan, pihaknya juga berharap lewat Taman Simalem, produk organik yang dihasilkan nanti bisa menembus pasar ekspor. Dengan begitu, petani bisa memperoleh nilai tambah dan akhirnya meningkatkan taraf hidup petani. “Ini harapan GIZ, petani sejahtera, masyarakat hidup sehat dengan mengonsumsi sayuran organik yang dihasilkan petani lokal,” kata Sulaiman sembari menambahkan program kerja sama ini berjalan tiga tahun dan sudah dimulai sejak Juni 2012 lalu. ( junita sianturi )
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *