JALAN MENUJU LUBOK PUSAKA HANCUR

Langkahan, (Analisa). Sekitar sepuluh kilometer jalan menuju Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, hancur. Ruas jalan dipenuhi lubang besar dan berlumpur, sehingga warga kesulitan melintas. Warga di desa itu kesulitan mencapai pasar kecamatan untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Keterangan diperoleh Analisa, Selasa (5/2) menyebutkan, meski rusak parah, sejumlah warga di delapan dusun di Desa Lubok Pusaka tetap menggunakan jalan tersebut sebagai sarana transportasi. Penduduk delapan dusun, yaitu Simpang Lima, Cermai, Seuleumak, Tanah Merah, Sarah Raja, Karang Baru, Bina Baru, dan Dusun Bidari, Desa Lubok Pusaka itu harus menuju ke Dusun Bidari, untuk berbelanja keperluan sehari-hari.

Namun, untuk menuju ke Dusun Bidari warga harus menggunakan getek karena dusun itu terpisahkan dengan Sungai Arakundo. Jembatan penghubung satu-satunya telah ambruk empat tahun silam. Selain berbelanja, siswa juga harus menggunakan getek menuju sekolah mereka.

“Dulu ada jembatan yang menghubungkan ke Dusun Bidari, tapi jembatan itu ambruk empat tahun lalu sehingga warga yang ingin berbelanja dan siswa untuk sekolah ke Dusun Bidari harus menggunakan getek. itupun sangat berbahaya karena jika terjadi hujan di hulu air sungai menjadi sangat deras,” ujar Kepala Desa Lubok Pusaka, Alimat, kepada Analisa.

Menurutnya, akibat jalan menuju ke Langkahan rusak parah, para petani di pedalaman Aceh Utara itu kesulitan mengangkut hasil kebunnya. Jika dipaksakan untuk menjualnya, petani harus menumpuh jarak sekitar satu jam lebih.

Butuh sekolah

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Utara Muhammad Jamil, Selasa (5/2) menyerahkan 36 unit rumah bantuan Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang dibangun di Dusun Sarah Raja, Desa Lubok Pusaka, Langkahan. Rumah berkontruksi batako tersebut bantuan Kementerian Sosial.

Acara itu dihadiri Kadis Sosial Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh Utara, Jailani Abdullah MM. “Kita berterimaksih kepada pemerintah karena telah memberikan bantuan rumah. Masyarakat di sini sekarang juga sangat membutuhkan sekolah dan tempat pengajian sehingga siswa tidak harus menyebrang sungai,” ujar Alimat.

Muhammad Jamil berjanji kepada masyarakat akan membahas permintaan itu bersama bupati agar mereka mendapat sarana pendidikan.

Terkait sekolah, menurut Wakil Bupati, kemungkinan bisa dilakukan dengan mencangkok dari sekolah terdekat. (bsr)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *