HARGA JERUK IMPOR MELAMBUNG

MedanBisnis – Jakarta. Kebijakan pengetatan impor buah oleh pemerintah bagus untuk meningkatkan produksi buah lokal, namun ini tidak dibarengi oleh perbaikan kualitas dan kuantitas buah lokal.
Para pengusaha supermarket dan swalayan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengatakan, akibat ketatnya impor, pasokan buah impor langka dan harga melonjak naik. Sementara pasokan buah lokal belum memadai dan mengimbangi kurangnya pasokan.

Wasekjen Aprindo Satria Hamid mengatakan, harga-harga buah impor naik seperti jeruk. Menurutnya di supermarket atau swalayan, harga jeruk impor dijual Rp 22.000-Rp23.000 per kg. Padahal tahun lalu saja harganya hanya Rp 6.000 per kg.

“Naiknya sangat signifikan. Kembali kami Aprindo katakan tidak anti produk lokal, pasti kita ada impor dan ada lokal tapi memang yang lokal ini kalah bersaing. Distribusi dan infrastruktur harus diperbaiki, negara kita kan negara kepulauan. Itu infrastruktur seperti Suramadu itu perlu kemudian seperti distribusi juga,” ungkap Satria, saat ditemui wartawan, di Hotel iBis Tamarin, Jakarta, Selasa (5/2).

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah untuk memberi akses kepada para peritel untuk bisa menjamin ketersediaan pasokan agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dan memberikan harga yang kompetitif. “Ini tantangan pemerintah bagaimana bisa memberi akses kepada kami dengan memberikan pasokan yang baik. Sentra mungkin ada tapi masalah begitu didistribusikan, harga menjadi tidak kompetitif, kemudian perjalanan menjadi tidak efisien karena banyak pungutan liar,” tegas Satria.

Dia mengatakan, larangan sementara impor 13 produk hortikultura termasuk beberapa jenis buah, sayur, dan bunga, telah membuat angka impor buah turun drastis. “Dengan melihat aturan tersebut memang hal ini berdampak langsung pada masyarakat itu sendiri. Impor turun 32 persen, tapi lokal naik 11 persen, tapi angka ini angka tidak ideal artinya jomplang kan? Ini dalam 2 bulan terutama sejak diberlakukan Januari kemarin,” kata Satria.

Saat ini, porsi pasokan buah 60% berasal dari impor sementara lokal hanya mampu memenuhi 40% saja dari total kebutuhan nasional. “Kalau kita ritel moderen presentasinya masih impor 60%, lokal 40%.

Akhirnya kita tetap mengkritisi kan, pemerintah memang terlalu membuat peraturan di sisi hilirnya tetapi tidak di sisi hulunya, harusnya bagaimana di hulunya ini dikuatin, pemberdayaan petani, kelompok tani. Mungkin kalau pemerintah sudah berani membuat aturan itu, tentu akan bisa meningkatkan yang lokal,” ujarnya. (dtf )
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *