BANGUN KEMITRAAN DENGAN PETANI

Budidaya pertanian yang dilakukan Taman Simalem Resort (TSR) masih menurut Eddy mendapat pengawasan dari Germany International Zusammenarbeit/Coorporation (GIZ)  sebagai lembaga pengawas pertanian berkelanjutan untuk Negara-negara ASEAN atau ASEAN Biocontrol (ABC) for Sustainable Agrifood Systems.
Kerja sama dengan lembaga asing ini tidak hanya dalam transfer teknologi pertanian tapi juga dalam perolehan sertifikasi label organik dari lembaga resmi yang ada di Tanah Air. “Kami kan sudah melakukan budidaya pertanian sejak tahun 2005 lalu, dan kerja sama dengan GIZ ini baru tahun 2012. Tetapi, GIZ tidak serta merta menerima penjelasan yang kami berikan. Mereka mempelajari sistem pertanian yang kami lakukan dan dianggap telah memenuhi standar, GIZ membantu kami memperoleh sertifikasi organik ini,” paparnya.

Setelah menjalani proses yang cukup panjang maka tanggal 26 Desember lalu, Lembaga Sertifikasi Organik Seluliman (LeSOS) resmi mengeluarkan label sertifikasi untuk produk pertanian yang dilakukan Taman Simalem.

“Tentu saja, sertifikat ini menjadi nilai tambah bagi kami dan sertifikat ini akan mempermudah pemasaran khususnya untuk pasar ekspor. Apalagi kami punya program jangka panjang untuk melakukan ekspor,” katanya.

Dan, untuk memantapkan program tersebut, TSR pada tahun ini akan membangun laboratorium terutama dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Sehingga produk pertanian yang dihasilkan nantinya benar-benar berkualitas ekspor.

Tetapi yang paling penting dari program yang dikembangkan TSR ini adalah bagaimana konsumen atau seluruh masyarakat Indonesia khususnya Sumatera Utara (Sumut) bisa mengonsumsi sayuran organik dengan harga terjangkau.

Karena itu, pihaknya sangat berharap petani yang ada di Kabupaten Karo sebagai sentra hortikultura di Sumut bisa mengembangkan pertanian organik. Tidak hanya kesehatan yang diperoleh dengan mengonsumsi produk organik tapi juga lingkungan semakin terjaga. Apalagi, kondisi tanah pertanian di Karo saat ini semakin memprihatinkan. Sifat fisika, kimia dan biologis tanahnya semakin terdegradasi.

Petani harus mengeluarkan biaya produksi tinggi tiap kali akan menanam, sementara produksi yang dihasilkan tidak maksimal dan harga jual juga sering anjlok manakala musim panen tiba. “Biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh ini membuat petani sering merugi. Akibatnya, petani sulit untuk maju terutama dari tingkat kesejahteraannya,” ungkap Eddy.

Paradigma inilah yang mau diubah manajemen TSR sehingga petani bisa mengadopsi sistem pertanian yang mereka kembangkan. Memang, untuk beberapa musim tanam kata Eddy, akan terjadi penurunan produktivitas dibanding sistem pertanian konvensional yang dilakukan selama ini tetapi untuk musim tanam selanjutnya, jauh akan lebih baik.

Biaya produksi turun, tanah kembali subur dan yang paling penting kesehatan masyarakat yang mengonsumsi sayuran organik semakin terjamin. “Untuk pemasaran, kami akan membangun kemitraan dengan sejumlah pasar modern di Medan. Bahkan bila memungkinkan kita akan melakukan ekspor,” kata Eddy.

Konsep pertanian yang ditawarkan Taman Simalem ini juga diapresiasi oleh Kepala Dinas Pertanian Karo Agustoni yang hadir pada kesempatan itu. Bahkan, Agustoni berharap Taman Simalem menjalin kerja sama dengan hotel-hotel yang ada di Karo dan Medan sekitarnya sehingga hasil-hasil pertanian organik yang akan dikembangkan petani punya pasar yang jelas.
Sebab, yang menjadi kendala petani selama ini adalah pemasaran diikuti dengan harga yang tidak sebanding dengan produktivitas yang diperoleh.

“Pasar yang tidak jelaslah yang membuat pertanian organik ini tidak berkembang. Padahal, sosialisasi sudah lama dilakukan bahkan demplot-demplot juga banyak dilakukan. Tetapi, begitu program selesai petanipun tidak melanjutkan. Petani kembali ke pola lama menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetik,” jelasnya.

Agustoni juga berharap, Taman Simalem lebih luas lagi menjalin kemitraan dengan petani dalam mengembangkan pertanian organik. Pihaknya sendiri siap membantu dalam hal teknologi dan penyuluhan. Sehingga apa yang diharapkan pemerintah untuk Go Organik 2014. ( junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *