PELAJAR PANAIHILIR MINIM PENDIDIKAN TINGGI

LABUHANBATU-Mayoritas pelajar, khususnya tamatan SMA Negeri 1 di Kecamatan Panaihilir, Kabupaten Labuhanbatu enggan melanjutkan jenjang pendidikannya kelebih tinggi. Selain pola pikir yang masih bertahan di kalangan masyarakat, juga karena faktor ekonomi.

Wakil Kepala SMAN 1 Kecamatan Panai Hilir P Simbolon didampingi guru bahasa Inggris Mahyuddin kepada Sumut Pos kemarin mengakui hal itu. Malah menurutnya sekitar di bawah sepuluh persen pelajarnya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri.

Padahal ujarnya, sumber daya manusia tamatan dari sana tidak kalah saing dengan tamatan sekolah negeri lainnya. “Sebab ada beberapa faktor dalam masalah ini, seperti terkait ekonomi, pola pikir orangtua yang belum mementingkan pendidikan dibanding segalanya. Padahal, pendidikan itu nantinya yang membuat perubahan hidup kita ke arah lebih baik,” katanya di halaman sekolahnya.

Bahkan tambah P Simbolon, masih terjadi beberapa kali pelajar mereka harus putus sekolah dan memilih lebih baik menikah.
“Memang sangat kecil, tapi itukan gambaran cara berpikir masyarakat disini. Itulah tantang buat kita untuk mulai merubah cara berpikirnya kearah positif. Kasihankan kalau pendidikan itu hanya berakhir dengan pernikahan tanpa berkembang,” pungkasnya  lagi.

Dihari yang sama, Wakil Bupati Pemkab Labuhanbatu Suhari Pane dan Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu Tatang Hidayat Pohan memberi motivasi kepada pelajar di SMA tersebut dengan pencerahan pentingnya pendidikan bagi semua. Selain itu, saat pemerintah sudah memberikan beasiswa pendidikan ke perguruan tinggi kepada pelajar berprestasi, baik miskin maupun kaya.

Sejalan dengan itu kata mereka, para pelajar tidak perlu khawatir akan biaya, yang penting terus belajar agar berprestasi. “Jangan pernah minder dengan lainnya, jadikan kekurangan kita itu sebagai cambuk untuk berubah lebih baik. Selain itu, kita semua punya kekurangan dan kelebihan, majulah terus dan tuntutlah ilmu setinggi-tingginya, karena itu salah satu bekal kita ke depan,” saran Suhari dan Tatang.

Salah seorang orangtua di sekitaran SMAN 1 Kecamatan Panaihilir menerangkan bahwa keengganan mereka melanjutkan pendidikan anaknya ke perguruan tinggi bukan karena tradisi dengan semboyan lebih baik menikah usai tamat sekolah, namun leih kefaktor ekonomi keluarga. Dirinya berharap adanya bantuan penuh pemerintah dan janji yang pasti tentang biaya pendidikan anaknya jika melanjutkan dunia pendidikan. “Yang utama itu faktor ekonomi. Kami disini penghasilannya bertani, nelayan, sampai berapalah itu,” aku M Hirmansyah (53). (mag-16)
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *